Berburu Tongseng Mbah Kamari

Tongseng yang Dimasak di Atas Anglo
Lihat Galeri
4 Foto
Tongseng yang Dimasak di Atas Anglo
Berburu Tongseng Mbah Kamari
Tongseng yang Dimasak di Atas Anglo

© Haris Sunarmo

Tongseng Mbah Kamari Setengah Porsi Ditemani Teh Gula Batu
Berburu Tongseng Mbah Kamari
Tongseng Mbah Kamari Setengah Porsi Ditemani Teh Gula Batu

© Haris Sunarmo

Para Penikmat Tongseng Hangat
Berburu Tongseng Mbah Kamari
Para Penikmat Tongseng Hangat

© Haris Sunarmo

Para Penikmat Tongseng yang Umumnya Blantik
Berburu Tongseng Mbah Kamari
Para Penikmat Tongseng yang Umumnya Blantik

© Haris Sunarmo

Usai menempuh sekitar 45 menit perjalanan, tibalah kami di Pasar Hewan Simo. Pasar ini tak besar, hanya buka setiap hari pasaran Pahing. Meski bergelar Pasar Hewan, komoditas utama yang diperdagangkan di pasar ini umumnya hanya dua jenis hewan: kambing dan sapi. Maka, kedatangan kami yang turut membawa bayi, jadi pemandangan aneh dan terkesan turis sekali di tengah para blantik yang umumnya lelaki.

Pagi masih berkabut ketika motor matic kami (yang alhamdulillah sudah lunas kreditnya) menelusuri jalanan Solo menuju Boyolali. Melawan arus utama kendaraan para pekerja yang berbondong-bondong menuju Solo, kami niatkan dengan sepenuh hati untuk berburu kuliner yang hanya bisa dijumpai sepasar sekali: Tongseng Mbah Kamari.

Warung Mbah Kamari terletak di tengah pasar. Berdindingkan anyaman bambu dan spanduk bekas serta kain penutup seadanya, kita tidak akan menyangka ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Namun, begitu kaki kita melangkah masuk ke dalam warung, mata kita akan tertuju pada jajaran para tamu yang berderet di sebuah kursi kayu panjang, masing-masing memegang piring dan menyantap isinya dengan khidmat. Tak ada obrolan panjang lebar dan acara merokok-merokok ganteng, karena memang yang datang ke warung ini tujuannya hanya untuk makan.

Menu yang ditawarkan warung ini hanya satu: tongseng. Saya memilih duduk di kursi yang terdapat meja karena memang berniat makan sambil santai. Tanpa harus menunggu lama, tongseng pesanan kami disuguhkan. Nasi hangat yang ditumpangi tongseng daging kambing, lengkap dengan berbagai jenis jeroan yang dicampur.

Saya termasuk orang yang agak rewel dengan menu daging kambing karena tak tahan bau prengusnya. Namun, tongseng ini tak terasa prengus sama sekali. Meskipun di sekeliling warung bau ternak tercium tak terelakkan, hidangan yang saya nikmati ini rasanya lepas dari bau itu. Dagingnya benar-benar empuk, dengan kuah yang tak terlalu pekat tapi tetap terasa gurih dan mantap. Bagi yang suka pedas, di meja tersedia lombok dan bawang merah yang siap untuk dikremus.

Oh ya, warung ini tidak cocok untuk yang berjiwa baperan. Karena saat kita asik mengunyah-ngunyah daging kambing dan kuahnya yang aduhai itu, musik pengiringnya adalah suara lenguh sapi dan embikan kambing. Jadi, jangan bayangkan itu adalah suara kambing yang dagingnya sedang kita kunyah-kunyah dan kadang nyelip di gigi itu.

Pasangan Mbah Kamari Memasak Tongseng di Tempat
Pasangan Mbah Kamari Memasak Tongseng di Tempat © Haris Sunarmo
Terasan, Imbuhan Nasi dan Lauk Khas Warung Mbah Kamari
Terasan, Imbuhan Nasi dan Lauk Khas Warung Mbah Kamari © Haris Sunarmo

Di depan kami, pasangan Mbah Kamari kakung dan putri sibuk meracik tongseng dalam wajan besar yang dipanaskan di atas anglo berbahan bakar arang. Daging yang masih mentah dimasak langsung di tempat, fresh from the anglo. Sementara putrinya, sibuk menghidangkan nasi dan tongseng ke piring dan memberikan teransan.

Ya, salah satu keunikan warung ini adalah adanya teransan, atau memberi tambahan nasi dan lauk tambahan ke para konsumen. Kalau merasa tak kuat imbuh nasi, baiknya pesan di awal sehingga kita hanya diberikan imbuhan tongseng.

Jadi, secara teknis, kita akan makan dua porsi tongseng dalam sekali kunjungan. Puas bersendawa aroma daging kambing, lidah kita akan dimanja dengan suguhan teh hangat gula batu yang memang menjadi ciri khas warung-warung di daerah Boyolali. Gurihnya daging dan sepat-manisnya teh, menyatu dengan hangat di perut.

Mbah Kamari adalah warga Simo. Rumahnya berjarak sekitar 6 kilometer dari Pasar Hewan Simo. Ia telah memulai usaha ini sejak tahun 1973, dan merupakan usaha turunan dari orang tuanya. Dalam sehari, ia rata-rata menghabiskan dua ekor kambing untuk diolah menjadi tongseng yang biasanya ludes sekitar pukul 11 siang. Meski usahanya laris manis, ia tak mau kemaruk sehingga hanya buka hari Pahing dan tidak membuka cabang apalagi menjadikannya waralaba. Harga yang dipatoknya pun cukup terjangkau, 20 ribu rupiah saja untuk tongseng dan teh hangat.

Pagi yang semula terasa dingin dan berkabut menjadi hangat seiring terbitnya mentari dan kepuasan yang kami dapatkan dari tongseng Mbah Kamari. Dengan tongseng seenak ini, rasanya Solo-Boyolali sanggup saya lalui setiap Pahing.

Diana Nurwidiastuti

Kata suami, kopi terenak di dunia adalah kopi buatan saya.