Berbuka Puasa di Lembayung Coffee

Papan Penanda Warung Kopi Lembayung
Papan Penanda Warung Kopi Lembayung | © Bintang W Putra

Sore itu saya benar-benar penat, mungkin karena efek seharian mendekam di kamar kos. Tidak ada hal lain yang saya lakukan selain tiduran dengan sesekali mengecek gawai, berharap ada kabar gembira yang masuk. Saya menghitung kalender, ternyata hari ini adalah hari ke-12 bulan puasa. Cepat sekali, padahal baru kemarin saya ditelepon Ibu untuk mempersiapkan kebutuhan menjelang puasa. Tak terasa kini sudah dua minggu berlalu.

Saya melihat jam, jarum masih memeluk angka 4 sore, satu setengah jam lagi menuju buka. Masih lumayan lama untuk mempersiapkan diri sebelum ke masjid, cari takjil gratis. Masjid memang menjadi sasaran saya untuk berbuka. Dua belas hari saya berpuasa, selama itu pula saya kesana untuk mencari nasi kotak.

Namun, di sore ini, entah kenapa saya merasa jenuh sekali. Menikmati makanan nasi kotak dari masjid terasa bosan. Bukan bermaksud tidak tahu terima kasih, tapi mengonsumsi jenis makanan yang sama selama dua belas hari suntuk jelas bukan ide bagus. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari menu berbuka yang berbeda. Saya ingin cari yang manis-manis dan segar, seperti yang dibeli orang kebanyakan. Setelah selesai salat Ashar, saya tancap gas menuju kerumunan penjaja takjil. Kebetulan di daerah tempat saya ngekos terdapat pasar kaget yang selalu ramai tiap sore. Saya mampir kesana.

Hanya lima menit tarik gas dari kos, saya tiba di keramaian. Sore itu benar-benar ramai. Saya berkendara pelan sekali, saking pelannya sampai saya tak bisa menunggangi motor tanpa kaki menyentuh aspal. Semua orang bawa motor seenaknya, parkir di setiap penjual yang disukainya. Dalam sekejap, kemacetan mengular. Saya tidak tahan, saya ingin segera keluar dari kemacetan ini.

Setelah dua puluh menit berjejalan, saya akhirnya bebas dari macet. Saya keluar tanpa membawa apapun. Niat hati membeli takjil, malah macet yang diperoleh. Saya meneruskan perjalanan ke selatan, berharap ada jajanan enak yang saya temui. Hasilnya nihil. Saya terus ke selatan, dan akhirnya berpapasan dengan warung kopi Lembayung.

Lembayung tampak dari depan
Lembayung tampak dari depan | © Bintang W Putra
Lembayung tampak belakang
Lembayung tampak belakang | © Bintang W Putra

Lembayung sebenarnya tidaklah asing bagi saya. Warung kopi ini adalah yang paling rajin saya kunjungi. Dulu, semasa masih bergelut di organisasi kampus, warung kopi ini setiap hari saya datangi. Tempat ini merupakan lokasi pas untuk cangkruk sekaligus rapat. Saya ingat, di warung kopi ini juga drama-drama organisasi sempat berputar. Tapi saya tidak mau hanyut oleh kisah itu.

Cukup lama saya berhenti di depan Lembayung, mempertimbangkan apakah mampir atau pulang. Saya lihat jam, tinggal lima menit menuju waktu berbuka. Kalau pulang pasti memakan banyak waktu karena macet pasti belum terurai. Sedangkan kalau lewat jalur lain kejauhan. Tidak ada pilihan lain. Saya pilih mampir ke Lembayung.

Weleh, buka puasa pake kopi ini!” batinku.

Setelah memarkirkan motor yang sudah tiga tahun mati pajak, saya bergegas menuju kasir. Berharap pesanan tiba tepat di waktu berbuka, atau lewat dikit juga tak mengapa. Saya berdiri di depan meja kasir ingin cepat memesan, tiba-tiba pelayan menyodorkan takjil. “Ini mas, buat buka,” seraya menyodorkan es kolak.

Memang tak bisa jauh dari gratisan, gumamku.

Niat hati untuk mencari menu buka di lain tempat agar tidak gratis, eh makanan gratis malah datang dengan sendirinya. Memang, rezeki anak saleh tak akan kemana.

Belum selesai menandaskan es kolak, pesanan saya tiba: kopi tubruk, nasi tempe penyet dan air es.

Kopi Tubruk khas Lembayung dan sisa kolak takjil gratis warkop Lembayung
Kopi Tubruk khas Lembayung dan sisa kolak takjil gratis warkop Lembayung | © Bintang W Putra

Ada yang sedikit berbeda di Lembayung. Di bulan yang penuh berkah seperti sekarang ini, Lembayung menyediakan takjil gratis bagi pengunjungnya. Menu yang dihidangkan pun berbeda setiap harinya. Warkop ini sangat cocok bagi anda yang hobi mencari makanan berbuka gratis seperti saya.

Di deretan kursi yang tersedia di warkop ini, para pelanggan sangat betah berlama-lama. Bahkan ketika sudah tutup dan lampu dimatikan, masih banyak yang memilih bertahan dan meneruskan obrolan. Tidak jarang ada yang sampai Subuh. Pemiliknya pun sengaja membiarkan mereka, tanpa mengusir.

Kasir Lembayung
Kasir Lembayung | © Bintang W Putra

Warung kopi Lembayung biasaya ramai di waktu sore hingga larut malam. Di hari-hari biasa, warkop ini buka dari jam 9 pagi hingga 12 malam. Namun, di bulan puasa ini Lembayung beroperasi dari jam 4 sore hingga jam 3 pagi, tutup ketika tiba waktu sahur.

Dulu, ketika masih mengambil banyak mata kuliah, saya juga kerap bermalam di sini. Kalau pulang ke indekos mustahil saya bangun pagi. Jarak kampus dengan Lembayung hanya sekitar 200m. Jadi, mustahil untuk telat dan tidak bisa bangun pagi.

Setelah menandaskan makanan dan menyeruput kopi, saya memutuskan untuk pulang. Waktu Isya tinggal sebentar lagi dan saya harus berbegas untuk salat tarawih. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di indekos. Para penjaja takjil sudah sepi dan kemacetan sudah hilang. Sepanjang sejarah, baru kali ini saya membatalkan puasa di warung kopi. Dan, perlu anda ketahui, sensasinya sangat berbeda: tenang, khusyuk, dan nikmat dalam sekali waktu.

Bintang W Putra

Mahasiswa nomaden. Bercit-cita jadi Hacktivist.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405