Berbagi Semangat Baik Bersama Sisir Tanah

Aspal masih tampak agak basah selepas hujan yang turun tadi sore. Langit pun sebenarnya masih mendung. Tapi untungnya, suhu udara malam itu masih terasa cukup hangat.

Ada acara tahlilan di teras rumah yang bersebelahan langsung dengan Warung Srawung. Doa-doa terdengar khidmat sampai ke pelataran kedai kopi dan agak menurunkan tensi obrolan para pengunjungnya.

“Iya, bapak yang tinggal di sebelah itu tadi siang meninggal dunia,” kata Lukman, pemuda yang setiap hari berjaga di Warung Srawung. “Jadi acaranya agak molor dari jadwal, soalnya nunggu acara tahlilan selesai”.

Tiba-tiba di jalan depan Warung Srawung juga muncul serombongan pelayat yang berjalan kaki mengantarkan keranda berisi jenazah menuju kuburan Samaan yang memang tidak jauh dari situ.

Entah kenapa, malam itu kok lekat sekali dengan aura kematian dan duka cita.

xxxxx

Rabu malam itu, 25 Oktober 2017, rencananya memang ada pertunjukan musik Sisir Tanah di Warung Srawung, Malang. Dikasih tajuk Sisir Tanah: Bercerita Lewat Lagu. Acara itu dikemas dalam format showcase yang kecil dan eksklusif. Konon hanya dibatasi untuk 50 penonton saja.

“Sebenarnya tiketnya enggak mahal juga kok. Cuma Rp100 ribu sudah bisa dapet kopi, CD Sisir Tanah, sama souvenir dari Kiri-Kanan,” jelas Iksan Skuter, musisi folk sekaligus pemilik kedai kopi yang diberi nama Warung Srawung. “Supaya orang-orang bisa mengapresiasi karya musik juga tho”.

“Ini acara yang kedua. Kemarin yang pertama itu Ary Juliant,” ujar Santos, penggemar fanatik hair metal dan sosok yang paling sibuk menangani proyek musik di Warung Srawung. “Rencananya acara kayak gini bisa rutin setiap bulan. Kalau jadi mungkin bulan depan ada Ari Reda”.

Sisir Tanah
Sisir Tanah | © Siwaktok
Sisir Tanah
Sisir Tanah | © Siwaktok

Di dalam ruangan utama Warung Srawung sudah ada satu panggung kecil dari potongan kayu lapis sederhana. Tampak sebuah akuarium berisi ikan hias di ujung kiri. Juga selembar pagar kawat dengan dua tanaman anggrek yang menempel. Beberapa kaleng bekas dan krat minuman ikut ditata sebagai dekorasi. Sebagai latar belakangnya, terbentang kain hitam polos yang di baliknya menyala lampu hias renteng berwarna putih. Di sudut kanan, ada dua unit gitar akustik yang bertengger pada penyangganya.

Sebuah set panggung yang simpel dan kuat—atau bisa dikatakan sangatlah ‘folk‘ sekali.

Tidak seperti Warung Srawung pada umumnya, malam itu nyaris semua meja dan kursi disingkirkan ke luar ruangan. Hanya ada karpet merah sebagai area ‘kelas festival’ bergaya lesehan bagi penonton. Ditambah sebaran asbak dan gelas berisi minuman hangat di sana-sini.

Sekitar pukul 20.30, seorang perempuan bergaun merah berdiri. Menyapa penonton sembari memperkenalkan dirinya sebagai pemandu acara. Ia lalu menyampaikan aturan yang mesti disepakati penonton selama pertunjukan malam itu, antara lain dilarang mengaktifkan ponsel, dilarang merekam, kudu interaktif, dan dijanjikan bakal ada sesi tanya-jawab di setiap jeda lagu. Bagaimana, sepakat?

Tentu saja semua yang hadir di situ, mau tidak mau, mesti sepakat.

Perempuan tadi kemudian membacakan biografi singkat dari sang penampil malam itu: “Sisir Tanah adalah Bagus Dwi Danto”.

Dari dalam kamar studio, Bagus Dwi Danto muncul lalu berjalan ke arah panggung. Malam itu ia memakai sweater coklat, celana hitam, dan sepatu boot hitam. Sepotong balaklava dipakai menutupi kepala dan agak menyembunyikan rambutnya. Pria asal Jogja itu lalu mengambil sebuah gitar akustik berwarna krem yang katanya “dipinjami Mbak Endah sejak tur album kemarin”.

Siapakah kita ini manusia,
Yang dalam diam riuh ragu dan tak mampu…

“Lagu Pejalan” dijadikan tembang pembuka. Selepas itu, Danto langsung menyapa penonton dan bercerita tentang perjalanannya dari Jogja ke Malang. “Nyampe stasiun telat dan hampir ketinggalan kereta” katanya sambil tersenyum.

Kita berjalan saja, masih selalu berjalan
Meskipun kita tak tahu berapa jauh jalan ini nanti,
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak…

Seingat Danto, Sisir Tanah sudah lima kali manggung di Malang. Jadi ia sudah cukup paham dengan atmosfir kota ini. Tentu bukan tempat yang asing lagi baginya. Apalagi ia sudah memiliki banyak teman akrab di sini, mulai dari Iksan Skuter sampai Christabel Annora.

Setelah menyajikan “Kita Mungkin”, Danto menuturkan bagaimana awal mula ia mengenal dan menyukai musik. Insting berkeseniannya mungkin sudah tumbuh sejak ia masih benih, katanya. Sedari balita, Danto mengaku suka sekali dengan tembang anak-anak macam “Puk Ame-Am” atau “Bintang Kecil”.

Selera musiknya di masa remaja pun terbilang cukup standar bagi anak muda di jaman itu: Di bangku SMP ia suka mendengarkan Metallica dan Guns N’Roses, lalu ketika SMA mengaku doyan Nirvana. Layaknya anak muda yang lain, Danto juga pernah iseng-iseng menjadi anak band—meski sekadar ikut latihan musik bersama teman-temannya di studio sewaan.

Lalu ada momen penting ketika ayahnya meninggal dunia, tuturnya. Di mana ia mendapatkan banyak ucapan belasungkawa dan mulai hidup berpindah-pindah. Di masa-masa itulah, Danto sempat dikasih gitar oleh pamannya dan mulai belajar memainkannya.

Salah satu lagu pertama yang ia kuasai saat itu adalah lagunya Green Day. “Di saat temen-temenku yang lain sudah mahir memainkan Yngwie Malmsteen” katanya merendah.

Kasih, melangkah denganku / Lalui luka, hadapi gelap,
Kasih, pegang erat tanganku / Nikmati kita, tanpa air mata…

Ketika Sisir Tanah memainkan “Lagu Romantis”, mungkin banyak yang berharap itu tentang cinta sejati yang terinspirasi dari kisah asmara Danto dengan kekasih atau istrinya. Tapi uniknya, ternyata tidak se-klise itu. Malah jauh sekali dari yang bisa kita bayangkan.

Menurut penuturan Danto, “Lagu Romantis” itu justru terinspirasi dari seekor kucing buta yang ditemukan di sekitar rumahnya. Karena iba melihat kondisinya, akhirnya kucing itu diobati dan dipelihara oleh keluarga Danto —akibat desakan sang istri yang disebutnya “sangat menghormati hak-hak binatang melebihi hak-hakku sendiri…”

Kucing itu lalu mereka namakan Damai, dengan alasan yang cukup personal dan filosofis. Danto tampak sangat antusias bercerita panjang soal tingkah polah si Damai yang begitu mewarnai kehidupan keluarganya. Seperti ketika mengetahui si Damai tiba-tiba bunting, Danto mengaku sempat resah serta berusaha keras mencari tahu siapa kucing jantan yang ‘kurang ajar’ dan berani menghamilinya. Mungkin ketika itu naluri kebapakannya muncul seketika.

“Setelah sekian lama, akhirnya ketauan juga. Kayaknya kucing jantan yang satu itu, soalnya dia emang sering nongol di halaman belakang,” tuturnya disambut gelak tawa penonton. “Kucingnya keren sih, gagah. Pake kalung segala gitu. Ya gak papa lah kalo emang dia pelakunya…”

Singkat cerita, Damai lalu melahirkan seekor anak semata wayang. “Yang kemudian kami namakan Bahagia” kata Danto sambil tersenyum. “Ya, cats jaman now“.

Sebagai catatan, bukti bahwa ada relevansi antara “Lagu Romantis” dengan kucing peliharaan itu mungkin bisa disadari jika mencerrmati kata-kata dalam penggalan lirik: “Menarilah, tergelincir / Berlumur tanah / Hapus gelisah…

Di balik sikapnya yang kalem, dewasa dan tampak serius, Danto ternyata sosok yang cukup hangat, penuh humor dan kadang konyol. Gaya bertuturnya asik. Kadang gugup dan suka nyeletuk ini-itu. Mimiknya pun bisa lucu dan sangat komikal. Seperti ketika ia beberapa kali tampak gemas berlagak ingin menggigit mikrofonnya sendiri.

Pada “Lagu Hidup”, Sisir Tanah bisa berubah serius jika musti bertutur soal lika-liku kehidupan. “Hidup itu artinya masih terus ada dan bergerak,” kata Danto mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hidup itu juga musti terus bekerja sebagaimana mestinya, serta jangan pernah berhenti, menurutnya.

Dan harus berani / Harus berani…

Sesekali Danto membuka buku catatan kecil yang dibawanya. Yang katanya berisi hal-hal yang ingin ia sampaikan malam itu.

“Lagu Lelah” kemudian dilantunkan, disambung dengan cerita Danto soal bagaimana proses kreatif Sisir Tanah dalam bermusik, menulis lirik, membuat rima, atau membangun struktur lagu-lagunya.

Menurut Danto, hidup di Jogja dan tumbuh dilingkupi oleh iklim seni-budaya yang kuat bikin ia bisa menyerap dan berbagi energi positif. Ia tampak begitu bangga dan berhutang banyak dengan Jogja. Hingga tidak sanggup membayangkan untuk misalnya pindah atau tinggal di kota lain, akunya.

Danto kemudian pamit dan berjalan menuju kamar gantinya. Pertanda bahwa showcase ini telah memasuki pertengahan atau sesi jeda sejenak.

Sisir Tanah
Sisir Tanah | © Siwaktok
Sisir Tanah
Sisir Tanah | © Srawung

Pada jeda set ini, tampil kelompok Teater Komunitas dengan aksi performance art. Tiga orang bergantian naik ke arah panggung. Salah satunya memakai Topeng Malang, merapal doa, sambil membunyikan alat perkusi kecil. Temannya yang lain berjalan dengan satu kaki sambil membawa sepasang tulang binatang. Satunya lagi tampak sibuk bermain air dari akuarium dan sesekali menyulut petasan. Di akhir aksinya, mereka menyajikan monolog yang magis dan beraura kematian. Suasana seketika menjadi agak gelap dan kelam.

“Itu tadi aksi teatrikal yang coba merespon lagu-lagu karya Sisir Tanah,” kata pemandu acara menjelaskan kepada penonton.

Danto kemudian keluar dari kamar, melanjutkan set-nya. Kali ini ia memakai kaos polos berwarna gelap dan membiarkan rambut gondrongnya tergerai bebas.

Sisir Tanah langsung meneguhkan “Lagu Wajib” yang liriknya serupa manifesto kewajiban dari hujan, tekad, cinta, sampai rasa. Tembang itu diakhiri oleh baris pamungkas; “Yang tak wajib dari rasa adalah luka“.

Ketika mendengar kabar bahwa Sindy Asta bakal menikah di bulan depan, Danto spontan membawakan “Lagu Cinta” dan mendedikasikan khusus kepada perempuan yang juga dikenal sebagai penggerak komunitas A Day To Walk dan Stand Up Comedy di Malang.

Sepanjang malam mendengarkan suara vokal Danto dan hanya petikan gitarnya saja itu seperti menikmati Sisir Tanah yang seasli-aslinya. Otentik. Telanjang. Sebagaimana yang pernah orang-orang temukan di laman Soundcloud-nya sejak beberapa tahun silam. Sebelum semuanya kemudian dikemas dan dipoles ulang dalam debut albumnya yang bertajuk Woh (Laras, 2017).

Setelah melantunkan “Konservasi Konflik” yang memuat rapalan lirik panjang, Danto bercerita bahwa kalimat-kalimat tadi ibarat kolase baginya. Isinya adalah narasi yang ia tulis secara terpisah. Mirip seperti potongan peristiwa atau headline berita, yang disusun secara acak. Seperti itu salah satu metodenya dalam menulis lirik, kata pria yang sudah sejak lama hobi menulis puisi tersebut.

Kalau mesin fotokopi saja punya istana, kenapa aku celana satu bisa hilang. Padahal istanaku diam di dalam celana itu. Tetapi maling juga manusia, butuh onderdil bagus untuk mempertahankan rejeki yang tegas, santun, tetapi tidak jujur. Kenapa toko sepatu malah memeriksa kesehatan?…

“Itu gimana cara ngapalinnya, Mas?” celetuk seorang penonton.

Danto tersenyum, lalu menjawab, “Ya ngapalinnya memang agak lama sih. Aku biasanya tulis dulu liriknya di kertas, lalu aku sebar tempelin di dapur, di toilet, di ruang kerja, sampai ada di komputer segala. Jadi di mana-mana ketemu, lama-lama bisa hapal baris demi baris”.

Danto juga menuturkan kekuatan sebuah lagu atau musik. Ia percaya bahwa segala bentuk seni —mulai dari musik, film sampai sastra— selalu bisa menjadi alat untuk menyuarakan kegelisahan dan kekecewaan atas kondisi sosial yang terjadi. Ia mengaku kerap geram pada negara sebagai institusi yang mustinya melindungi rakyat atau warga negaranya.

Terlalu banyak situasi yang tidak beres di negeri ini, akunya. Sehingga mungkin ia perlu menulis bait seperti: “Tuan dan nyonya, belajar logika sudah sampai mana?

Jelang lagu selanjutnya, Danto mengundang sang tuan rumah, Iksan Skuter, untuk ikut naik ke panggung. Masing-masing lalu menceritakan perkenalan pertama mereka —sejak sama-sama terlibat dalam proyek kompilasi untuk Greenpeace dan Papua, hingga beberapa momen manggung bersama.

Kedua pria itu memang terlihat sangat akrab dan sudah seperti sahabat. Tidak ragu lagi untuk saling memuji dan mengagumi, sekaligus mengerjai satu sama lain. Mereka juga kerap saling mengunjungi, yang disebut Danto: “Kalau ke Jogja, Iksan selalu mampir ke rumah. Suka ngobrol gak ada habis-habisnya. Begadang sampai pagi, sampai ayam berkokok lagi”.

Mereka berdua berkolaborasi menyanyikan “Lagu Bebal”, tembang balada yang bertopik lingkungan. Danto sempat menceritakan pengalamannya baru-baru ini berkunjung ke pedalaman Kalimantan. Selama beberapa hari tinggal di tengah suku Dayak telah banyak mengubah pandangannya soal alam dan hutan. Menurutnya, masyarakat adat di sana dengan cara-cara yang arif dan bijaksana sudah memperlakukan hutan bagai “supermarket yang penting bagi kehidupan mereka.”

“Oke, lagu terakhir untuk malam ini,” kata Danto seraya mengucapkan terima kasih untuk semua yang hadir menonton, mendukung, dan terlibat dalam konser kecil itu.

“Ayo, sekarang semuanya boleh berdiri!” ujar Iksan Skuter yang malam itu memakai kaos provokatif bertuliskan “Fascist = Feces“. Ia sendiri tidak mau beranjak dari panggung dan tetap bersikeras mengiringi sahabatnya, “Aku melok ngisi ritem yo Mas?!”

Seketika itu lampu ruangan dihidupkan kembali. Penonton mulai berdiri. Sebagian justru mendekat ke arah panggung untuk bernyanyi bersama. Sambil mengeluarkan ponsel dan merekam momen bahagia di akhir set. Tampaknya semua regulasi di awal acara tadi sudah gugur tepat di lagu pamungkas ini.

Jika aku adalah cinta / aku hanya ingin mencinta,
Menjadi kupu-kupu di perutmu / Menjadi bunga-bunga di benakmu…

Semua kepala tampak bersemangat menyerukan refrain “Lagu Bahagia” dengan suara lantang, yang bahkan musti diulang berkali-kali dan seolah tidak mau berhenti. Wajar saja, lagipula siapa yang sudi berhenti menikmati sebuah akhir yang bahagia di malam itu.

Nyanyikanlah harapan / Perjuangkan tujuan,
Bahagia kehidupan / Bahagia kehidupan…

Samack

Penulis lepas yang suka ngopi, membaca buku dan mendengarkan musik. Tinggal di Malang.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com