Beramai-ramai Meninggalkan TNKS

Perkebunan Kopi Arabika
Salah satu kebun kopi arabika milik warga di Renah Pemetik, Rabu (23/9). Hingga kini petani kopi arabika di Renah Pemetik terus bertambah jumlahnya. | © Erika Hidayanti

Menyesap secangkir kopi arabika hitam di tengah dinginnya udara Pegunungan Bukit Barisan Sumatera rasanya begitu nikmat. Namun siapa sangka, di balik kenikmatan secangkir kopi ini pula, jumlah perambahan hutan di Taman Nasional Kerinci Sebat (TNKS) menjadi berkurang.

Jauh sebelum mengenal kopi arabika, para petani di Lembah Renah Pemetik, Kecamatan Air Hangat Timur, Kerinci, sejak dulu umumnya menggarap tanah di kawasan TNKS. Mereka menganggap tanah di kawasan TNKS lebih subur untuk dijadikan lahan pertanian ketimbang di Renah Pemetik. Namun, bertani di kawasan TNKS membuat hidup mereka tak tenang karena selalu dikejar-kejar patroli polisi hutan. Ancaman pidana pun menghantui mereka yang tertangkap tangan.

Renah Pemetik adalah kawasan yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Bahkan, sinyal telepon dan listrik pun belum masuk kawasan ini. Butuh waktu hampir 2 jam dari Kota Sungai Penuh, Jambi untuk menjangkau lembah hijau itu. Jalan tanah merah yang akan berubah menjadi lumpur ketika hujan datang adalah satu-satunya akses menuju Renah Pemetik.

Begitu memasuki Renah Pemetik, kita akan disambut udara dingin yang menusuk. Sawah-sawah di tepi bukit adalah pemandangan pertama yang akan kita jumpai di Renah Pemetik. Ladang-ladang dan lahan hijau milik warga menghiasi lembah itu. Lalu, di sana pulalah kita akan menjumpai perkebunan kopi arabika milik warga yang dikembangkan dengan cara agroforest. Pohon-pohon kopi terlihat apik berdampingan dengan pohon-pohon penyangganya, ada yang berdampingan dengan jeruk, alpukat, dan lain sebagainya.

Jalan Renah Pemetik.
Suasana jalan berlumpur di Lembah Renah Pemetik, Kecamatan Air Hangat Timur, Kerinci, Rabu (23/9). Akses jalan, listrik, dan sinyal telepon belum masuk ke lembah ini.| © Erika Hidayanti
Buah Kopi
Salah satu tanaman kopi arabika yang sudah tumbuh subur di Renah Pemetik. Kopi inilah yang nantinya akan menimbulkan cita rasa lima varietas kopi sekaligus. | © Erika Hidayanti

Ermiadi merupakan salah satu pemilik perkebunan kopi di Renah Pemetik. Sebelum ini, pria yang pernah menjadi Kepala Desa Kemantan ini pernah membuka lahan di kawasan TNKS untuk ditanami kopi robusta. “Biar pun di sana (TNKS) tanahnya subur, tapi saya gak tenang berkebun di sana,” ujarnya saat ditanya kenapa akhirnya memilih bertani di Renah Pemetik.

Kini, sudah dua tahun Ermiadi menjadi petani kopi arabika di Renah Pemetik. Terhitung ia memiliki 700 batang pohon kopi di lahan yang sebenarnya merupakan Ajun Arah atau tanah warisan nenek moyang yang bisa digarap masyarakat itu. “Apalagi setelah melihat hasil petani lain yang memuaskan saya semakin yakin bertani dengan kopi arabika ini,” lanjutnya.

Bukan hanya Ermiadi petani yang bisa dijumpai di perkebunan kopi di Renah Pemetik. Paidirman adalah petani lain yang awalnya merambah TNKS dengan bertani sayuran serta kayu manis. Bahkan, ia sudah beralih bertani kopi arabika lebih awal ketimbang Ermiadi. Empat tahun dijalaninya sebagai salah satu petani kopi di Renah Pemetik, Paidirman sudah bisa meraup penghasilan Rp7500 perkilogram buah kopi (ceri merah) dan Rp21 ribu perkilogram gabah (ceri merah yang sudah diolah).

Cerita kopi arabika di Renah Pemetik ini tak lepas dari peran Emma Fatma, seorang aktivis lingkungan yang merupakan Direktur Lembaga Tumbuh Alami (LTA). Emma yang menjadi motor penggerak petani untuk keluar dari kawasan TNKS dan mulai bertani kopi arabika. Bukan tanpa perjuangan, Emma mesti mendapatkan berbagai penolakan baik dari warga maupun rekan kerjanya sendiri di organisasi.

Perjuangan Emma di Renah Pemetik berawal dari kesuksesannya tahun 2009 mengembangkan kopi Arabika di Kayu Aro, Jambi. “Setelah menanam arabika di Kayu Aro, jumlah perambah hutan kemudian turun namun di Renah Pemetik belum demikian, makanya saya pun kemudian mencoba untuk mengajak masyarakat di Renah Pemetik menanam arabika,” paparnya.

Tahun 2012 adalah awal Emma bersama LTA masuk ke Renah Pemetik. Penolakan keras saat itu dilakukan oleh warga, bahkan tempatnya mengumpulkan petani dan berdiskusi sempat akan dibakar oleh warga. Beruntung, saat itu ia dibantu oleh Nasrul, Ketua Pengelola Hutan Adat Kemantan. Nasrul kemudian membantu Emma menenangkan warga dan menjelaskan maksud Emma untuk mengajak mereka bertani arabika.

Satu tahun berlalu, akhirnya warga pun luluh. Satu per satu dari mereka meninggalkan kawasan TNKS. Semakin hari, rumah panggung dari kayu yang dibangun sebagai tempat petani berdiskusi pun semakin dipenuhi petani.

Emma kemudian dibantu Jauhari, seorang konsultan budidaya kopi dari Jember yang memilih mengabdikan masa tuanya untuk membina petani-petani kopi arabika baru di Renah Pemetik. Saban hari Jauhari mendampingi petani untuk memangkas daun, memperbanyak batang, hingga memeriksa hama.

Pada 2013, petani kopi arabika di Renah Pemetik mendapat bantuan 60 ribu bibit kopi dari Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera). Tahun ini, TFCA-Sumatera juga kembali memberi bantuan sebanyak 50 ribu bibit dan 30 ribu bibit. Kini, sudah ada 77 petani di Renah Pemetik yang menanam kopi arabika hasil dari bibit yang diberikan TFCA.

Merawat Bibit
Muhammad Habib, salah seorang relawan dari LTA sedang merawat bibit kopi yang nantinya akan kembali dibagikan ke petani di Renah Pemetik. Bibit ini didatangkan langsung dari Jember, Jawa Tengah. | © Erika Hidayanti
Memilih Biji Kopi
Ibu-ibu warga Kayu Aro sedang memilih biji kopi dengan kualitas grade 1 di pabrik milik PT. Argotropic Nusantara, Kamis (24/9). Hasil olahan dari sini yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai daerah di dalam dan luar negeri. | © Erika Hidayanti

Kopi-kopi arabika dari Renah Pemetik diolah oleh PT. Argotropik Nusantara, di Kayu Aro. Perusahaan ini kemudian mendistribusikan kopi hasil petani ke berbagai daerah di Indonesia, selain juga dieskpor ke beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Cina, Jerman, hingga Swiss.

Ada yang unik dari kopi hasil olahan di Kerinci, kita akan merasakan lima varietas kopi dalam sekali teguk. Kopi varietas Sigarar Utang, kopi Gayo, Andung Sari, S795, dan P88 adalah kombinasi yang diciptakan dalam segelas kopi di kaki Gunung Kerinci ini. Konon, inilah yang membuat banyak pecinta kopi di luar negeri memburunya.

Penasaran? Lebih baik Anda mencobanya sendiri dan dapatkan sensasi lima varietas kopi tersebut. Tak hanya merasakan rasa unik dari kopi, Anda juga turut membantu para pejuang lingkungan untuk menghentikan perambahan hutan di TNKS.

Erika Hidayanti

Indonesia asli, darah campuran Sunda-Jawa-Bugis yang senang mencuri waktu untuk ngopi dan nulis di samping jendela kamar.

  • Zukiar Yasin

    Kok gambar dan berita lahan kta gak masu mas…!??

    • Rizky Akbari S

      Tulisan perdana ini bang. Ada tulisan lanjutannya lagi. Nantikan terus di situs ini.

    • Erika Hidayanti

      iya pak, mohon maaf karena ini keterbatasan space jadi tdk bsa msuk semua:)