Beralas Sungai, Konser Kampung Jatitujuh

Penampilan Ganzer Lana Sasandois
Penampilan Ganzer Lana Sasandois | © Harry S. Waluyo

Rasanya baru kemarin saya berlibur ke kota yang bagi saya masih terasa asing. Udara yang panas membuat saya harus beradaptasi, lebih sering mandi, dan boros berganti kaos. Udara disana memang sangat berbeda dengan kota tempat dimana saya tinggal, di Bandung. Terkadang saya masih bisa memakai jaket rangkap, karena terkadang cuaca dingin datang menusuk tubuh hingga ke kalbu.

Majalengka, kota yang sedang ramai dibicarakan karena adanya pembangunan bandara internasional ini ternyata memiliki acara yang wajib diapresiasi, terutama karena warganya bergotong royong demi kesuksesan sebuah acara: konser kampung.

Konser Kampung Jatitujuh. Saya beserta teman-teman ikut meramaikan acara tersebut. Saya berangkat dari Bandung pada sore hari. Sesampainya pada malam hari, saya bergegas tak ingin melewatkan pertunjukan. Saya dipandu warga bergegas ke rumah warga yang ternyata sudah disiapkan untuk kami beristirahat, setelah cuci muka dan istirahat sejenak, saya langsung membuka tas kamera dan langsung bergegas ke tempat pertunjukan untuk mengabadikan momen. Benar saja, kali ini para penari yang menguasai panggung, saya langsung membidik kamera bak fotografer profesional, saya hanya tak ingin kemesraan ini cepat-cepat berakhir..

Setelah tarian, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Ganzer Lana Sasandois, pemain Sasando ini memainkan Sasando dengan penuh penghayatan, suasana mendadak senyap menikmati alunan musik dari Sasando.

Acara yang diberi judul Festival Tanah Air #3 tersebut sangat berbeda dengan festival-festival musik yang pernah saya datangi. Festival yang cukup unik, panggungnya terbuat dari Gethek —alat transportasi air tradisional. Gethek yang sudah jarang ditemui ini sengaja dibuat di tengah sungai, dibiarkan mengambang namun tetap memperhatikan keamanan, membuat pertunjukan makin unik dan lain dari biasanya, ditambah pemandangan anak-anak kecil yang sibuk mengayuh sampan di sungai, dan suara kecipak riak air yang menjadi pelengkap suasana yang juga jarang ditemui di kota saya tinggal.

Pengisi acaranya pun tak kalah menarik, selain dari bunyi petikan Sasando dari Rote, juga banyak instrumen yang jarang saya dengar, atau memang belum saya ketahui sebelumnya. Ada instrumen Sapek dari Kalimantan, Udu Drum, alat musik asal Nigeria yang ternyata juga dibuat di Jatitujuh, Hulusi dari Cina, dan berbagai permainan alat musik yang asing bagi saya. Terasa ada kenikmatan tersendiri ketika diiringi instrumen musik-musik tersebut. Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Penampilan Para Penari di Konser Kampung Jatitujuh
Penampilan Para Penari di Konser Kampung Jatitujuh | © Harry S. Waluyo

Selain Konser Kampung, Jatitujuh juga ternyata terkenal sebagai desa pembuat alat musik dari bambu dan tanah liat. Beberapa produk yang pernah dibuat disini diantaranya adalah Lapsteel Gitar dari bambu, Udu Drum dari tanah liat dan Ocarina.

Jatitujuh juga ternyata mempunyai alat musik original khas yang terbuat dari bambu, mereka sebut dengan “belentung bamboo”. Alat musik perpaduan antara senar yang dulu sempat dibuat dari akar pohon dan membran dari kulit yang menghasilkan suara unik. Dinamai belentung karena suaranya mirip kodok.

Selain suguhan musik yang unik, kuliner khas Jatitujuh ini juga luar biasa, Nasi Lengko namanya. Makanan seharga 3 ribu rupiah ini cukup untuk mengobati perut yang lapar, sayang saya tidak sempat mencicipinya, karena sudah habis duluan.

Bermain gethek dengan anak-anak kampung
Bermain gethek dengan anak-anak kampung | © Harry S. Waluyo

Hari berikutnya tidak terasa Festival Tanah Air sudah akan ditutup malam itu, dari sore hari saya sibuk main air dan sesekali memotret para warga yang juga berbaur dengan teman-teman saya, disini masih saya jumpai anak-anak kecil terjun bebas dari jembatan untuk berenang, dan tidak saya jumpai anak-anak yang sibuk dengan game dari ponsel pintar. Anak-anak berlarian bebas tak berdiam diri. Pemandangan yang sudah jarang bisa dijumpai di kota tempat saya tinggal.

Malam harinya semua gembira, semua pengisi acara memainkan alat musiknya, suara tawa lepas ibu-ibu yang melihat tingkah jenaka para pemuda yang bergoyang seiring musik membuat suasana makin mantap.

Esoknya sebelum pulang, saya dan teman-teman menyempatkan berkunjung ke sanggar, ngobrol santai sambil menikmati kretek dan kopi memang selalu menjadi pelengkap suasana. Selesai berpamitan, kami pulang diiringi dengan rintik hujan yang masih setia, menyisakan memori dalam jiwa, membawaku larut kelelapnya tidur karena kelelahan.

Harry S. Waluyo

Penulis kambuhan, tukang kayu serabutan, melukis kadang-kadang.