Berakhirnya Ekspedisi Munduk

Sekira 10 tahun lalu, saya dan beberapa teman membuat koran desa di 5 desa di daerah Bantul dan Gunung Kidul. Tidak lama kemudian, kami membuat sebuah buku kampung. Buku ini dikerjakan oleh anak-anak muda dusun Ketangi, dibantu oleh beberapa adik kelas saya di lembaga pers Pijar, juga beberapa teman dari LPM Ekspresi.

Membuat media desa atau kampung tetap tertanam di kepala saya. Bedanya, di era digital seperti ini, media berbasis kertas rasanya sudah tidak relevan. Dua tahun lalu, KBEA menurunkan satu tim untuk membantu membuat situsweb desa di kampung saya sendiri sebagai sebuah percobaan. Tapi sayang, situsweb tersebut belum jadi.

Atas dasar pengalaman itulah, ketika dua bulan lalu saya tetirah di Munduk, saat ngobrol dengan Bendesa Munduk, Bli Putu Ardana, yang menyatakan keinginannya untuk pentingnya Munduk memiliki sebuah media onlen, saya kembali antusias.

Dari kiri ke kanan arabika Java Ijen, Blue Tamblingan, dan arabika Java Belawan
Dari kiri ke kanan arabika Java Ijen, Blue Tamblingan, dan arabika Java Belawan
Kopi Blue Tamblingan Spesial
Kopi Blue Tamblingan Spesial

Saat saya balik ke Yogya, beberapa lembaga di bawah naungan KBEA saya kumpulkan. Gardamaya menyumbang server untuk situsweb ini. SEVEN, sebuah lembaga penelitian yang baru saja didirikan di lingkaran KBEA, bersedia membantu sumberdaya manusia: Yamadipati Seno. Jaringan Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan (Jarik) mengirim Fawaz Al Batawy. Jarik juga menyumbang beberapa kebutuhan kami.

Tepat di saat itu, kebetulan saya diminta menjadi konsultan penelitian KNPK untuk mengetahui bagaimana siasat petani cengkeh di Indonesia dalam menghadapi kegagalan panen yang hebat di tahun ini. Mereka bergabung dan menerjunkan 4 orang plus bersedia menanggung tiket semua tim yang ada di Munduk.

Lengkaplah sudah baik manusia maupun amunisi. Tim diterjunkan berangsur ke Munduk. Tentu saja bantuan luar biasa datang dari Bli Putu dan Bli Komang Armada. Mereka bukan hanya menjadi tuan rumah yang baik, tapi juga menemani kami melakukan diskusi bersama warga Munduk.

Maka jadilah simbiosis mutualisme ini. Munduk kini memiliki media kampung onlen, sedangkan kami belajar banyak dari warga Munduk: pengetahuan pertanian, himpunan kearifan, dan pustaka pengalaman yang luarbiasa.

Semua proses tersebut penting. Tapi di atas itu semua, ada hal yang paling penting: kami menjalin persahabatan yang hangat, terbuka, dan saling mengisi.

Tim Ekspedisi Munduk bersama Bli Putu Ardana dan Bli Komang Armada
Tim Ekspedisi Munduk bersama Bli Putu Ardana dan Bli Komang Armada
Kopi Arabika Blue Tamblingan khas dari Munduk
Kopi Arabika Blue Tamblingan khas dari Munduk

Saya berharap, KBEA dan lembaga-lembaga di bawahnya bisa meneruskan model kerja seperti ini. Sehingga akan makin banyak media desa berbasis onlen yang muncul. Media desa jika bersinergi dengan hal lain: kolektivitas; pengelolaan dan manajemen desa; dan strategi ekonomi desa, bisa membuat desa bukan lagi semata menjadi ‘penyangga’ kota, tapi menjadi benar-benar teritori yang mandiri dan berdaulat.

Kerja masih panjang. Kami juga akan bekerja sama untuk membuat Balai Ajar dan Riset (BAR) di Munduk, sebagai sentra belajar kaum wiratani, yang akan didirikan di lahan Bli Komang. Jika tidak ada aral, tanggal 7 Agustus nanti, bangunan seluas 11 x 18 akan didirikan. Di sana akan ada demplot eksperimen tani, laboratorium hayati, yang dilengkapi dari mulai mesin sangrai kopi sampai bengkel pertanian.

Di salah satu kamar di BAR, pada ketinggian 850 mpdl itulah, kelak saya akan menyeruput kopi Blue Tamblingan, sambil menulis puisi.

Ekspedisi Kopi Miko

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.