Belajar Kemandirian di Kedai Kopi Putra Sembilan

Saya orang yang mudah penasaran dengan sosok seseorang. Apalagi jika orang itu dipandang remeh oleh lingkungan sekitar. Saya akan tambah penasaran.

Saat itu sudah memasuki hari keempat keberadaan saya di Pulau Simeulue, Aceh. Saya singgah di sebuah bengkel di kota Sinabang untuk meminta bantuan montir mengecek kondisi sepeda motor yang saya sewa untuk perjalanan menuju Desa Sembilan. Ini saya perlukan karena perkiraan lama waktu tempuh menuju Desa Sembilan dari Sinabang sekira tiga jam. Ditambah jalan yang akan dilalui banyak rusak di banyak tempat. Jadi saya harus memastikan sepeda motor yang saya sewa dalam kondisi baik.

Ketika montir mengecek sepeda motor bersama rekan baru saya yang akan mengantar saya ke Desa Sembilan, saya berbincang dengan seseorang di bengkel. Awalnya ia yang bertanya kepada saya, kemudian saya ceritakan maksud dan tujuan saya. Saat mendengar Desa Sembilan dan tahu rencana saya di sana, orang itu lekas berujar, “Pokoknya selama Abang di Desa Sembilan, hindari itu yang namanya Putra. Penjahat itu, Bang. Abang bisa ditipu sama dia. Dia punya kedai kopi tepat di depan lapangan desa. Hati-hati, Bang.”

Alih-alih takut dan waspada setelah mendengar peringatan itu, saya malah penasaran. Memang belum ada kenalan seorang pun di Desa Sembilan yang akan saya tuju, tetapi mendengar penjelasan itu, saya langsung bilang ke teman yang akan mengantar saya ke Desa Sembilan, “Sudah dapat kenalan di Desa Sembilan. Nanti begitu sampai di sana, kita cari kedai kopi milik Putra, kedai kopinya ada di depan lapangan desa.”

Dari Sinabang menuju Desa Sembilan, jalan yang kami lalui sebentar saja beraspal mulus, sisanya, banyak rusak, berlubang dengan aspal yang sudah tidak utuh lagi. Beberapa saat menjelang memasuki Desa Sembilan, jalan malah belum beraspal. Berdebu di musim panas, becek di musim hujan. Keduanya membuat jalan licin, menuntut pengendara lebih hati-hati.

Jam enam sore kami tiba di Desa Sembilan. Hari masih cukup terang. Mudah saja menemukan lapangan desa dan kedai kopi milik Putra. Lapangan dipenuhi para pemuda yang sedang bermain sepak bola. Di kedai kopi, empat orang sedang menyuntuki bidak-bidak catur. Lima orang lainnya asyik mengobrol sembari menyaksikan pertandingan sepak bola. Salah seorang di antaranya adalah Putra.

Ia memperkenalkan diri bernama Putra Sembilan. Nama aslinya Putra, ‘Sembilan’ ia tambahkan sebagai nama belakang karena ia berasal dari Desa Sembilan. Selanjutnya hampir semua orang yang saya temui di Desa Sembilan menambahkan kata ‘Sembilan’ di belakang namanya saat memperkenalkan diri. Putra berusia 32 tahun. Tinggal di rumah yang bagian depannya ia manfaatkan untuk membuka usaha kedai kopi dan toko kelontong. Di lantai atas tepat di atas kedai kopi dan toko kelontong, ada sebuah ruangan terbuka yang ia sewakan kepada pendatang yang hendak menginap di sana. Selama di Desa Sembilan, saya tinggal di ruangan tersebut.

“Ngopi, Bang?” Putra bertanya.

“Loh, ya jelas dong,” jawab saya.

“Mau kopi apa? Kopi kampung yang disaring atau kopi sasetan?”

“Kopi kampung saja.”

“Penuh atau pancung?” Maksud dari pancung adalah setengah gelas, setengah porsi umum.

“Penuh.” Jawab saya tegas.

Putra bergegas menuju bagian belakang kedai. Menyendok bubuk kopi lalu ia masukkan ke dalam wadah berbentuk gelas berbahan seng, kemudian menuangkan air panas ke dalamnya. Sebuah saringan berbentuk kerucut ia ambil. Kemudian kopi ia tuang ke wadah lainnya melalui penyaring berbentuk kerucut tersebut. Begitu terus berulang kali ia lakukan sebelum akhirnya kopi ia tuangkan ke dalam sebuah gelas. Kopi disajikan untuk saya. Sembari menyeruput kopi, saya mengobrol dengan Putra.

Segelas kopi yang dihidangkan Putra untuk saya
Segelas kopi yang dihidangkan Putra untuk saya | © Fawaz
Putra dan kedai kopi miliknya
Putra dan kedai kopi miliknya | © Fawaz

Putra lahir di Desa Sembilan. Sempat merantau ke Banda Aceh dan Blangpidie usai menyelesaikan sekolah SMK, Putra pulang kampung pada tahun 2013. Di desa, pekerjaan utama Putra adalah bertani cengkeh. Ia merawat 50 batang pohon cengkeh berusia sekitar 40 tahun yang ia dapat dari orang tuanya. Selain bertani cengkeh, Putra juga bekerja sebagai nelayan. Menangkap ikan, teripang, lobster dan hasil laut lainnya di perairan dekat Desa Sembilan.

Di sela kesibukan itu semua, Putra membuka kedai kopi dan toko kelontong. Kedai kopi ia yang kelola sedang toko kelontong dikelola oleh istrinya. Ia dan istrinya memiliki dua orang anak laki-laki, satu berusia tujuh tahun, lainnya berusia dua tahun.

Kedai kopi yang dikelola Putra menempati ruang depan rumahnya. Berukuran lima kali lima meter, kedai kopi dilengkapi empat buah meja panjang dengan dua kursi panjang di masing-masing meja. Kedai kopi ini buka mulai jam delapan pagi hingga dua belas siang. Kedai kembali buka jam tiga sore dan akan ditutup sesuai keinginannya, biasanya jam dua dini hari.

Dalam sehari, kedai kopi yang dikelola Putra menghabiskan 1,5 hingga 2 kilogram bubuk kopi robusta. Bubuk kopi Ia beli di kota Sinabang. Sekali dalam sepekan bubuk kopi dari kedai kopi Edi Bas di Sinabang akan diantar ke kedai kopinya. Menurut Putra, bubuk kopi Edi Bas adalah bubuk kopi terbaik di Pulau Simeulue. Ia enggan membeli bubuk kopi dari tempat lain karena sudah cocok dengan bubuk kopi Edi Bas.

Anak muda mandiri dengan mata pencaharian utama sebagai petani cengkeh. Selain bertani ia juga kerap melaut. Belum cukup sampai di situ, Putra membuka kedai kopi dan toko kelontong yang ia kelola bersama istrinya. Bukankah ini sebuah kabar baik bagi Indonesia? Bukankah ini adalah tipe pemuda yang diimpi-impikan banyak orang untuk bisa seperti itu?

Mungkin saja, mungkin saja informasi yang saya dapat tentang Putra saat saya berbincang dengan seseorang di sebuah bengkel di kota Sinabang benar adanya. Mungkin memang masa lalu Putra seperti itu. Atau bisa jadi salah dan itu sekadar ungkapan iri semata. Saya sama sekali tidak tahu dan sama sekali enggan mencari tahu. Yang jelas, jika saya mempercayai mentah-mentah informasi itu, saya tentu tidak akan mengetahui sosok dari Putra dan kemandiriannya di desa.

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com