Belajar dan Berbahagia di Literasitainment #2

Geby Ramadhan, Comica 5 Besar Suci 6 - Imam B. Carito
Geby Ramadhan, Comica 5 Besar Suci 6 | © Imam B. Carito

Budaya ilmu juga bermakna ilmu dituntut dengan berbagai cara seperti pembacaan dan pendengaran atau pengalaman. Walaupun Islam menekankan kebolehan menulis dan membaca, tetapi dalam masyarakat Islam dahulu buta huruf tidak bermakna buta ilmu.” – Wan Mood Nor Wan Daud

Hujan mengguyur Kota Cilegon sejak pagi buta. Bahkan hingga tengah hari, matahari tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Gerimis masih setia dengan mendung, memayungi langit Cilegon. Padahal sedianya di hari Minggu itu Literasitainment #2 akan dihelat di Rumah Baca 0254 (RB.0254). Tapi apa daya, saya yang sudah sedia sejak pukul 10.00 pagi, harus menanti hujan reda hingga adzan dhuhur berlalu.

Literasi memang belum menjadi perhatian khusus di tengah kehidupan kita. Kabar kurang menyenangkan datang dari hasil penilaian World’s Most Literate Nations yang disusun Central Conecticut State University pada Maret 2016 lalu. Dari 61 Negara yang masuk dalam daftar, Indonesia menempati peringkat kedua, dari bawah. Maka sejak itu, orang-orang mulai menaruh perhatian lebih pada kegiatan literasi.

Banten menjadi daerah yang tidak mau ketinggalan dalam gagap gempita literasi. Dimulai dari Sanggar Rumah Dunia Serang yang dimotori oleh Gol A Gong, salah seorang sastrawan Nasional dengan tajuk Gempa Literasi. Lalu pada Juli 2016, sekelompok pemuda dari Cilegon dan Serang menghelat pula acara literasi bertajuk Literasitainment. Bertempat di Aula Surosowan Rumah Dunia, Literasitainment pertama dihelat.

Ide Awal Literasitainment

Lo bisa bayangin nggak, di Banten masih ada 33 ribu jiwa lebih yang enggak bisa baca. Ini kan miris banget. Itu artinya ada lebih dari 33 ribu jiwa yang enggak bisa whattsap-an, nggak bisa bbm-an. Dan enggak bisa main Bigo juga.” – Gebi Ramadhan

Adalah Kak Anazkia (Kanaz) yang pertama kali menginisiasi ide Literasitainment. Secara mudah Literasitainment bisa diartikan sebagai kombinasi dari acara literasi dan hiburan. Jika pada umumnya acara literasi berupa seminar kepenulisan atau bedah buku, maka acara inti di Literasitainment adalah hiburannya. Kira-kira jika di prosentase bisa jadi 80% hiburan dan 20% agenda literasi.

Hiburan yang diusung meliputi pembacaan atau deklamasi puisi, accoustic perform, musikalisasi puisi hingga Stand Up Comedy. Sedangkan agenda literasi lebih difokuskan pada acara galang buku dan talkshow komunitas penggerak literasi di sekitar Serang-Cilegon.

Kanaz sendiri adalah salah satu founder dan penggerak blogger Hibah Buku Indonesia. Kita bisa menjumpai profilnya di berbagai media, terutama di Tabloid Nova. Tentu akan sangat panjang mengurai prestasi, perjalanan dan betapa inspiratifnya Kak Anazkia di sini. Maka saya bocorkan saja asal muasal Literasitainment ini.

Dalam suatu kesempatan terjadilah obrolan antara Kanaz dan Mas Surnaim (Naim Ali) pemilik Taman Baca Mahanani Kediri.

Mas Naim: Literasitainment.

Kanaz: Opo kuwi? (Apa itu?)

Mas Naim: Wah …. Mbak Kanaz ga uptudet. Padahal itu istilah asal ceplos saja.

Kanaz: Asyemmmm! Udah serius padahal.

Mas Naim: Tapi itu keren. Soalnya ide ngawur saya.

Anazkia: Iya, saya tadi langsung kemana-mana. Mikir Literasitainment.

Mas Naim: Yang dilakukan Mahanani selama ini 90% hiburan.

Dan yah, begitulah kadang-kadang ilham datang dari kekonyolan dan kengawuran. Semacam Ide Hukum Gravitasi Newton yang lahir dari sebongkah apel yang jatuh di kepalanya saat sedang enak leyeh-leyeh di bawah pohon. Atau semacam hukum Archimedes yang didapat dari keisengan Archimedes saat sedang berendam di bak mandinya. Lalu tiba-tiba dia melesat berlari telanjang di Syracause sambil berteriak, ”Eureka.. Eureka.. Eureka!”

Kebetulan di Literasitainment #1 rombongan Mahanani dari Kediri ini datang secara langsung ke Serang untuk berpartisipasi. Sedangkan di Literasitainment #2 ini mereka belum berkesempatan untuk hadir. Tapi bukan Literasitainment namanya kalau tidak menghadirkan hiburan yang menyegarkan.

Adalah Kang Rois (M. Rois Rinaldi) yang merupakan Presiden Lentera Internasional turut hadir dan mengisi acara. Beliau yang saat Literasitainment #1 berhalangan hadir, menunjukkan kemahirannya mendeklamasikan puisi di Literasitainment #2 ini. Sajak “Seorang Bocah yang Mati di Gantungan Lemari”, ia bawakan dan dedikasikan untuk bocah-bocah malang di seluruh nusantara dan dunia.

Gebi Ramadhan yang merupakan 5 besar Suci 6, juga turut menghibur dengan banyolan khas stand up comedy. Bukan cuma Gaby, Umin Baheula, comica asal Serang juga menunjukkan kebolehannya dalam aksi Stand Up. Di tengah guyuran hujan, hawa dingin yang kaku, tawa peserta melalui aksi mereka inilah penghangat suasana nomor satu.

Tak kalah indah, musikalisasi yang dibawakan oleh Fajar Timur juga memukau peserta Literasitainment #2 ini. Coba kamu bayangkan, kesyahduan apalagi yang melebihi paduan antara Hujan dan musikalisasi puisi? Indah dan syahdu, apalagi ada kamu di sisiku.

Dari Kopi Hingga RB. 0254

Jika pada Juni lalu Literasitainmnet #1 mengusung tema “Bersama Untuk Banten”, maka tema yang diusung dalam Literasitainment #2 ini adalah “Rerageman Kangge Rumah Baca”. Hal ini dikarenakan Literasitainment dihelat di Rumah Baca 0254 (RB.0254) yang sedang dalam proses pembangunan. Maka bagian dari Literasitainment #2 ini adalah sebagai upaya pengenalan kepada khalayak terutama Cilegon dan Serang pada Rumah Baca 0254.

Rumah Baca 0254 Dalam Masa Pembangunan - Imam B. Carito
Rumah Baca 0254 Dalam Masa Pembangunan | © Imam B. Carito

Rumah Baca 0254 sebenarnya sudah berdiri sejak November 2015. Namun kondisinya masih seadanya. Lalu pada Oktober 2016, Adi sebagai founder RB.0254 bersama komunitas Bunga Padi berikhtiar untuk mengembangkannya. Semula RB.0254 hanya berupa ruangan kecil bekas gudang di samping rumahnya.

Maka sosialisasi pun dilakukan ke berbagai penjuru dan komunitas pegiat literasi khususnya di Banten. Sambutan hangat salah satunya datang dari Kang Alyt Prakasa (Koelit Ketjil), sastrawan yang merangkap dosen dan juga pemilik Padepokan Kupi, Serang. Melalui beliau, dibukalah stand kopi dalam acara Temu Kangen SMA N 1 Serang, tepatnya di Pit Stop Cafe, Serang. Bahkan Adi sendiri yang membikin kopinya, sedangkan alat dan bahan disediakan Padepokan Kopi. Dari sanalah gerakan Kopi untuk Donasi dimulai.

Kopi Untuk Donasi oleh Kanaz - Imam B. Carito
Kopi Untuk Donasi oleh Kanaz | © Imam B. Carito

Kanaz seperti enggan kalah dengan Padepokan Kupi. Awalnya memang dia berencana menjadi reseller untuk kopi Gayo milik kawannya, Tengku Muda, yang asli Aceh. Dia bilang, “Nanti kalau saya sudah punya uang, kirim harga reseller ya.” Tapi seperti kejatuhan rembulan, belum juga Kanaz transfer uang, kawannya itu sudah mengirim 10 pack kopi Gayo Le Parte. Jadilah diumumkan di dinding fb-nya, bahwa keuntungan penjualan akan didonasikan untuk RB.0254. 10 pack ludes dalam sekejap, dan yang mengantri karena kehabisan lebih banyak lagi.

Tentunya masih banyak manusia berhati mulia yang turut pula dalam donasi pembangunan Rumah Baca 0254 ini. Bahkan kamu juga bisa ambil bagian di dalamnya, dengan turut menyumbang buku misalnya. Atau jika kamu ingin juga berbagi berupa materi misalnya, RB.0254 masih membuka kanal donasi seluas-luasnya kok. Jadi tidak perlu takut ketinggalan turut serta menyambut gempita gerakan Literasi.

Postscript :

Kiranya perlu saya lampirkan alamat Rumah Baca 0254, barangkali ada yang tertarik untuk turut berbagi :

Rumah Baca 0254
Link. Tegal Cabe Rt.05/Rw.02
Kelurahan Citangkil, Kec. Citangkil, Cilegon – Banten.
(belakang Supermall Cilegon)

Atau jika Kamu tertarik pula ikut berdonasi, bisa via rekening :

4848-01-018590-53-8
Atas nama : Eli Yuliana

Jangan lupa konfirmasi ke nomor : 0819-1020-1243

Imam B. Carito

Belum jadi apa-apa. Masih pengen jadi sesuatu. Suka membaca, masih belajar menulis. Suka kopi item, kopi susu dan kopi tahlil.