Belajar Bertani Kopi di Cora Macan

Pemandangan di sekitar lahan yang sudah tertanam kopi dan diselimuti ilalang
Pemandangan di sekitar lahan yang sudah tertanam kopi dan diselimuti ilalang ǀ © Endriani

Jauh sebelum tersaji nikmat dalam
Segelas cangkir yang selalu menemanimu
saat cangkruk, diskusi, menikmati malam, nonton bola,
pacaran, dan lainnya, bahkan saat sembahyangmu.
Keringat mereka adalah awalnya.
#salampaktani….

Di daerah sekitar Kawah Ijen, lebih tepatnya di Kawah Wurung atau Desa Cora Macan, Kecamatan Sempol, Bondowoso, kebun kopi seakan memenuhi setiap sudut pandang mata. Apalagi ketika mendekati pertengahan tahun, tidak hanya indah, tapi wangi bunga kopi akan menemani perjalanan. Bunga warna putih akan menghiasi sepanjang jalan. Sebulan kemudian maka warna merah kopi akan semakin mempesona.

Jenis kopi yang ditanam mayoritas adalah Arabika. Namun arabika ada dua varian, yaitu Arabika dan Arabika Blue Mountain. Namun mayoritas kopi sampai saat ini adalah Arabika biasa (sebutan orang Cora Macan). Entah karena apa Arabika biasa lebih banyak diminati petani untuk ditanam. Ada salah seorang warga Cora Macan yang juga petani kopi berkata “bek sarah sare’enah mun bibiteh kopi blu monten cong” (agak susah dicari kalau bibit kopi Blue Montain cong). Memang bibit kopi arabika biasa sangat mudah didapatkan bahkan bisa didapatkan dengan gratis. Biasanya warga sekitar yang menanam kopi atau menyulam kopi yang mati, jika tidak melakukan pembibitan sendiri, mereka mencari bibit kopi di bawah pohon kopi yang sudah sering panen. Istilahnya bibit cabutan. Sisa-sisa kopi yang jatuh ke tanah kemudian akan tumbuh dengan sendirinya. Itulah yang diambil warga untuk kemudian ditanam. Masyarakat menyebutnya ngasak atau mencari sisa-sisa.

Selain hektaran kebun kopi, ternyata masih ada hektaran lahan gundul yang sampai saat ini masih menjadi PR besar bagi perhutani. Oleh sebab itu perhutani memberi hak pada masyarakat sekitar atau kelompok tani untuk menanam kopi di lahan gundul tersebut. Perhutani mempunyai syarat khusus bagi masyarakat yang ingin menanam kopi, yaitu; sebelum menanam kopi, lahan harus terlebih dahulu dihijaukan dengan menanam tanaman wajib yaitu Akasia, setelah hijau baru boleh ditanami kopi.[1]

Hal ini adalah satu strategi perhutani untuk mengatasi kegundulan hutan tanpa mengeluarkan biaya dan bisa menguntungkan bagi masyarakat jika tanaman kopinya berhasil dan tidak dilalap si jago merah. Tentunya untuk menanam kopi membutuhkan biaya yang cukup besar, mulai babat sampai tanam. Adanya kebakaran hutan juga dicurigai karena ada warga yang ingin membabat lahan gundul dengan cara membakar rumputnya. Namun pembukaan lahan dengan cara demikian beresiko sangat tinggi, karena api mudah menjalar dan bisa melahap hutan atau kebun kopi milik PTP dan warga yang berdekatan dengan hutan gundul tersebut.

* * *

Mendekati akhir tahun, masyarakat Cora Macan dan sekitarnya menjadi sangat sibuk, bekerja mempersiapkan lahan yang akan ditanami kopi. Pada bulan Oktober sampai dengan Desember biasanya digunakan untuk persiapan lahan, mulai babat, nganjir (memberi tanda dengan bambu kecil untuk tanaman akasia dan kopi), kemudian melubangi, lanjut pemberian pupuk kandang, didiamkan beberapa hari, baru kemudian ditanami kopi. Namun tanaman yang harus ditanam lebih dahulu adalah Teprusia, yang fungsinya sebagai naongan (pelindung kopi dari sinar matahari langsung). Setelah itu barulah Akasia yang merupakan tanaman wajib dari perhutani ditanam. Untuk bibit Akasia petani mendapatkan pasokan bibit gratis dari perhutani, hanya cukup mengganti ongkos kirim saja.

Proses tanam juga memakan waktu yang cukup lama. Untuk lahan perhektarnya membutuhkan waktu 1-2 minggu dengan tenaga sepuluh orang pekerja. Sedangkan lahan yang ditanami kopi mencapai puluhan hektar setiap tahunnya. Penanaman kopi dilakukan akhir tahun karena bertepatan dengan awal musim penghujan. Jadi kopi yang baru ditanam tidak akan kekurangan pasokan air selama beberapa bulan. Otomatis kopi akan tumbuh dengan baik.

Tahun 2016 bisa dikatakan musim yang susah diprediksi, kadang tiba-tiba hujan, kemudian tiba-tiba menjadi kemarau lagi. Banyak petani yang baru tanam bahagia karena tanaman kopi dibasahi hujan terus-menerus, hampir satu tahun penuh. Menurut masyarakat itu bagus untuk kopi, namun ada pendapat yang sedikit mengkhawatirkan dari seorang pegawai PTP, katanya “Setelah sekitar 4-5 bulan kopi ditanam, kopi harus merasakan musim kemarau, atau tidak boleh dihujani selama kurang lebih 3 bulan. Karena tanaman kopi beresiko stres yang akan terhambat pertumbuhan dan pembuahannya nanti”[2].

Sistem tanam yang dilakukan petani di Cora Macan masih tradisional. Semua masih menggunakan tenaga manusia dan sedikit bantuan dari mesin pemotong rumput. Sedangkan teknik tanam yang dilakukan oleh masyarakat adalah berdasarkan pengalaman turun menurun, katanya ilmunya didapat dari Belanda yang pernah menguasai daerah tersebut. Dengan teknik tanam tersebut kopi bisa berumur panjang mencapai puluhan tahun. “Sejak saya lahir, kebun kopi di sekitar sini sudah sering panen, sampai sekarang kopinya masih hidup kan”, kata Pak Desi, salah seorang tokoh di Desa Cora Macan.

* * *

Sejak pertengahan 2015 lalu, saya sedikit rutin datang ke daerah tersebut, untuk mengunjungi saudara sekaligus berwisata bersama saudara yang tinggal di Jember. Minimal satu bulan sekali saya pasti mengunjungi Desa Cora Macan. Awalnya saya sedikit iri dengan saudara yang ada di Jember, karena ia lebih mengetahui daerah tersebut dibanding dengan saya sendiri yang merupakan warga asli Bondowoso. Hanya ketika kecil saja saya sering mengunjungi tempat tersebut karena diajak keluarga. Namun, sejak nenek tertua yang tinggal di Sempol meninggal, silaturahmi dengan saudara di sana menjadi sedikit berkurang.

Saya bersama saudara-saudara dari Jember sering diajak berkeliling kebun kopi untuk sekedar berwisata. Namun di luar itu banyak sekali ilmu yang bisa didapatkan dari saudara yang tinggal di Cora Macan, namanya Mbah Asrin. Selain bermain ke kebun kopi, ia juga mengajak kami pada lahan gundul yang akan ditanami kopi pada awal tahun 2016 lalu. Ada sekitar 8 hektare lahan yang akan digarap. Lahan tersebut adalah milik Perhutani, namun karena Mbah Asrin adalah warga asli Cora Macan dan juga anggota kelompok tani, ia diberi hak untuk menanam kopi. Namun tetap dengan perijinan dari LMDH dan perjanjian-perjanjian yang harus dilakukan dengan Perhutani.

Tahap awal adalah membabat rumput dan ilalang yang memenuhi lahan tersebut. Tahap ini membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Agak lama karena ilalang cukup lebat. Tenaga yang digunakan ada sekitar 10 orang. Jam kerja bagi para pekerja mulai dari 06.00 – 11.00 pagi, di sela itu tentu ada waktu istirahat, makan, ngerokok, dan juga ngopi.

Saya dan Mbah Asrin di lahan gundul yang akan ditanami kopi
Saya dan Mbah Asrin di lahan gundul yang akan ditanami kopi ǀ © Ach. Zaini
Menemani Mbah Asrin sebelum pulang kerja
Menemani Mbah Asrin sebelum pulang kerja ǀ © Ach. Zaini

Karena kebetulan lahan tersebut dekat dengan tempat wisata, setiap pulang dari lahan kami selalu mampir di Kawah Wurung untuk sedikit me­refresh badan yang letih. Jarak lahan yang digarap dengan Kawah Wurung hanya sekitar 750 meter. Sedangkan jarak lahan ke rumah mbah Asrin sekitar 2 KM, jadi harus menggunakan kendaraan bermotor.

Setelah pembabatan selesai tahap selanjutnya adalah pemberian anjir atau nganjir, kalau dalam bahasa Indonesia disebut tanda. Anjir ada dua jenis, anjir untuk tanaman kopi dan anjir untuk tanaman Akasia. Di setiap anjir akan dilubangi sekitar 40×40 cm, dengan kedalaman sekitar 10 cm. Kemudian lubang tersebut diberi pupuk kandang secukupnya. Sedangkan untuk tanaman Tiprusia (tanaman penaung) cukup dibuatkan lorongan dengan cara membersihkan tanah dengan lebar sekitar 15 cm dengan menggunakan cangkul. Kemudian benih atau biji Tiprusia cukup ditebarkan sepanjang lorong yang dibuat dan ditutupi tanah. Tiprusia sangat mudah dan cepat tumbuh. Sekitar seminggu kemudian Tiprusia sudah mulai terlihat.

Tanaman Tiprusia yang mulai tumbuh
Tanaman Tiprusia yang mulai tumbuh ǀ © Roni S

Mbah Asrin juga mengajak kami melihat tempat pembibitan kopi yang berada di belakang rumahnya. Ada dua jenis pembibitan yang dilakukan, menggunakan polybag dan disebar langsung pada bedengan. Menggunakan polybag memang sedikit lebih mahal, namun kualitas bibit lebih bagus. Selain itu bibit juga didapatkan dari orang yang mencari di kebun-kebun lama, atau bibit cabutan. Kualitas tanaman dan perkembangan masih lebih bagus yang menggunakan polybag, karena saat menanam, bibit yang menggunakan polybag akarnya masih utuh. Sedangkan bibit yang disebar hampir sama dengan bibit cabutan yang dibeli, akarnya tidak utuh.

Bibit-bibit kopi yang ditanam di dalam polybag
Bibit-bibit kopi yang ditanam di dalam polybag ǀ © Hudi
Bibit cabutan yang baru diambil dari kebun
Bibit cabutan yang baru diambil dari kebun ǀ © Hudi

Tahap selanjutnya, mendekati tahun baru 2016 dan ketika hujan mulai turun, kopi dan akasia siap ditanam. Kopi dan akasia tinggal dimasukkan pada lubang yang sudah disiapkan sebelumnya. Kemudian ditutupi dengan tanah dan dipadatkan dengan cara menekan permukaan tanah di sekitar tanaman. Penanaman kopi dan akasia juga membutuhkan waktu cukup lama. Penanaman tersebut baru selesai sekitar 2 bulan dan ketika proses tanam kopi hampir selesai, tanaman ilalang tumbuh lebat kembali.

Ketika kopi selesai ditanam bukan berarti perjuangan telah usai. Sebulan kemudian tanaman kopi masih harus dipupuk agar pertumbuhannya maksimal dan ketika kemarau kopi tidak mudah mati. Dan rata-rata sudah kuat akarnya karena faktor pemupukan. Setiap hektar lahan ditanami sekitar 2.000 pohon dan pupuk bisa menghabiskan 3 kuintal perhektarnya. Selain itu masih harus dilakukan penyulaman, karena tanaman kopi tidak mungkin hidup 100% dan yang mati harus diganti dengan bibit baru supaya tanaman bisa tumbuh rata.

Kopi yang mulai tumbuh segar
Kopi yang mulai tumbuh segar ǀ © Hudi
Tanaman kopi dan sisa akasia yang rapuh
Tanaman kopi dan sisa akasia yang rapuh ǀ © Wahyono
90% kopi tertanam dan ilalang yang mulai tumbuh
90% kopi tertanam dan ilalang yang mulai tumbuh ǀ © Hudi

Setelah kopi tumbuh segar membuat mata dan hati sejenak jembar. Cukup sejenak saja bagi para petaninya, setelah itu mereka harus berperang lagi melawan hama ilalang dan rumput liar yang sangat mengganggu perkembangan tanaman kopi. Kalau ilalang dan rumput liar dibiarkan, mereka bisa membunuh tanaman kopi. Karena makanan yang seharusnya dimakan kopi akan dirampas oleh ilalang dan rumput liar tersebut. Maka penanganan yang paling sederhana adalah membersihkan rumput yang berada di sekitar tanaman kopi atau nyamben.

Nyamben harus dilakukan oleh orang yang berpengalaman karena harus berhati-hati agar pohon kopi tidak terluka terkena cangkul atau arit. Rumput yang dibersihkan berkisar 15-20cm dari tanaman kopi secara melingkar. Nyamben juga harus dilakukan secara rutin, minimal 2 kali dalam satu tahun. Selain untuk perkembangan kopi, dengan dibersihkan akan mengurangi resiko kebakaran saat kemarau.

Selama kurang lebih 4-5 tahun tanaman kopi harus mendapatkan perawatan ekstra. Ketika umur kopi mencapai tiga tahun, ia akan mulai belajar berbuah. Namun, biasanya petani kopi Cora Macan tidak menganjurkan kopi dibiarkan membesar dan panen. Pohon kopi yang mulai berbuah akan dibuang buahnya. Hal ini dilakukan agar batang dan ranting kopi membesar dan kuat, juga agar kualitas kopi yang dihasilkan bisa maksimal, demi menjaga derajat Kopi Arabika Java Ijen-Raung. Jika buah dibiarkan membesar tentunya akan membutuhkan banyak makanan, secara otomatis pasokan makanan untuk batang akan berkurang. Maka dari itu, kopi tidak dibiarkan berbuah sampai usia minimal 4 tahun. Baru pada tahun ke-5 kopi sudah bisa dipanen yang kemudian hasilnya akan jual ke setiap penjuru negeri, dan akhirnya sampai pada secangkir kopi yang selalu menemani kita.

Catatan Akhir Tulisan:
Masih banyak lahan gundul yang menjadi langganan kebakaran ketika kemarau. Salah satunya dapat kita nikmati ketika melewati pos penjagaan terakhir menuju Kawah Ijen. Kanan kirinya adalah lahan gundul yang masih menjadi PR Perhutani. Daerah itu disebut Hutan Lindung atau Petak 86. Ada sekitar 1.000 hektare pada petak 86. Kabarnya, lahan tersebut akan ditanami pohon Aren sebagai tanaman wajib pengganti akasia. Memang beberapa sudah tertanam, namun terbengkalai dan mati. Lagi-lagi harus berebut makanan dengan ilalang dan rumput liar lainnya. Kebakaran terakhir terjadi sekitar Desember 2015.

[1] Wawancara dengan Pak Asrin petani kopi Desa Cora Macan pada bulan September 2016.

[2] Wawancara dengan Pak Marsuri, pegawai PTP Pancur pada bulan Agustus 2016.

Mochammad Sholehudin

Petani yang sedang sibuk memacul takdir Tuhan.