Belajar Bersama Petani Kopi Sumber Candik

Senja hampir usai, gelap perlahan selimuti Dusun Sumber Candik. Kabut tipis bergerak turun tertiup angin membawa serta hawa dingin. Asap mengepul dari teko yang berisi kopi panas, dituang ke dalam gelas, disajikan untuk saya, Tuti dan Kernet yang sedang bertamu ke rumah Pak Farhan. “Silakan kopinya diminum. Itu kopi dari kebun saya sendiri, kopi jenis robusta.” Ujar Pak Farhan menyilakan kami minum kopi.

Dusun Sumber Candik terletak di lereng selatan gunung Argopuro Jember, berada pada ketinggian 500 hingga 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Rumah-rumah dan jalan desa dibangun di punggung bukit yang memanjang dari utara ke selatan. Jurang-jurang curam mengapit punggung utama dusun, masyarakat menyebutnya Tanian Lanjeng. Mayoritas masyarakat Dusun Sumber Candik berprofesi petani dengan kopi sebagai komoditas utama. Selain kopi, ada jagung, padi, dan sesekali mencoba menanam tembakau.

Biji Kopi Basah
Biji Kopi Basah | © Fawaz

“Sekitar tahun 2000-an masyarakat di sini mulai menanam kopi. Semuanya atas izin Gus Dur. Tanpa izin Gus Dur mana mungkin kami boleh menanam kopi di lahan milik Perhutani.” Begitu ujar Pak Riki tentang awal mula masyarakat menanam kopi.

Selepas terpilih menjadi Presiden, Gus Dur memang banyak mengeluarkan kebijakan progresif. Salah satunya adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa hutan negara adalah hutan rakyat, rakyat boleh memanfaatkan hutan negara demi kemaslahatan bersama. Mendengar pernyataan Gus Dur ini, masyarakat Sumber Candik —yang memang Gusdurian segera memanfaatkan hutan milik Perhutani di dekat dusun mereka untuk ditanami kopi. Mereka yang merantau bekerja di luar dusun, bekerja di Bali, Kalimantan, dan menjadi TKI di luar negeri berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk ikut menanam kopi. Gelombang besar pembukaan perkebunan kopi masyarakat di lahan milik Perhutani tidak menjadi masalah bagi Perhutani. Syaratnya, kelak saat sudah panen, 10% hasil panen menjadi jatah Perhutani.

* * *

Awal tahun 2015, beberapa media massa memberitakan Kabupaten Jember sebagai kabupaten dengan angka buta aksara tertinggi di Indonesia. Pada salah satu berita, Dusun Sumber Candik disebut secara jelas sebagai salah satu dusun kantong buta aksara di Kabupaten Jember. Saya bersama tim Sokola, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan alternatif, mengkaji lebih dalam informasi ini, melakukan studi literatur dan studi lapangan di beberapa wilayah di Kabupaten Jember, termasuk Dusun Sumber Candik.

“Jika dibilang buta aksara, kami tidak benar-benar buta aksara karena semua dari kami bisa membaca aksara arab. Namun jika buta aksara latin, itu betul. Sedikit saja dari kami yang bisa membaca dan menulis aksara latin.” Jelas Pak Farhan, salah seorang tokoh masyarakat Sumber Candik.

Begitu juga yang kami temukan di beberapa tempat di Kabupaten Jember. Mereka yang dianggap buta aksara, kebanyakan tidak benar-benar buta aksara karena mampu membaca dan menulis aksara arab. Jadi, buta aksara yang dimaksud jelas buta aksara latin.

Setelah melakukan studi literatur dan studi lapangan selama dua bulan, kami memutuskan untuk belajar bersama masyarakat Dusun Sumber Candik. Belajar membaca, menulis dan berhitung menggunakan aksara latin. “Kalau sudah bisa baca tulis hitung, nanti kita lanjut belajar tentang kopi, supaya harga jual kopi kita bisa meningkat.” Ujar Pak Farhan menyemangati masyarakat Sumber Candik.

* * *

Maret 2016, saya bersama Tuti dan Kernet memulai program pendidikan alternatif di Dusun Sumber Candik. Kami menamakan sekolah kami Sokola Kaki Gunung. Peserta belajar dari segala umur, mulai dari anak-anak hingga orangtua. Anak-anak belajar setiap hari selepas ashar dengan minggu sebagai hari libur, dan orangtua belajar setiap hari selepas isya, dengan kamis sebagai hari libur. Sedang pagi hingga siang hari, masyarakat beraktivitas di kebun mereka. Dengan jadwal seperti ini, kami harus selalu berada di sekitar Sumber Candik, kami tinggal bersama masyarakat Sumber Candik, hidup dan menjalani keseharian bersama mereka.

Malam pertama belajar, hujan baru saja reda sisakan dingin dan basah di mana-mana. Di mushala berukuran 7 kali 4 meter, Pak Hasan fokus mengenal huruf alfabet, membacanya satu per satu dan mencoba untuk menghafalnya. Selain Pak Hasan, ada Pak Indah, Pak Tin, Pak Riki, Pak Siska, Pak Rofil dan Pak Nur yang memulai belajar dengan mengenal huruf alfabet. Ada juga Bu Farhan, Bu Siska, Bu Tin dan Bu Indah dari kelompok perempuan yang memulai pelajaran dari tahap yang paling dasar (Masyarakat Sumber Candik menggunakan nama anak pertama setelah “Pak” dan “Bu” sebagai sapaan sehari-hari). Lainnya sudah mulai mengeja huruf per huruf menjadi kata. Total, ada 35 orang peserta belajar di kelas malam.

Pak Indah Sedang Menghafal Alfabet
Pak Indah Sedang Menghafal Alfabet | © Fawaz

Selain belajar membaca, kami juga belajar berhitung, pengenalan angka, lanjut penjumlahan, pengurangan hingga perkalian dan pembagian. Untuk masalah berhitung, banyak yang sudah bisa, kondisi keseharian membuat semua ini mungkin. Transaksi hasil panen, pembelian pupuk, belanja kebutuhan sehari-hari, semuanya memerlukan keahlian berhitung.

Anak-Anak Sumber Candik Sedang Belajar di Sokola Kaki Gunung
Anak-Anak Sumber Candik Sedang Belajar di Sokola Kaki Gunung | © Fawaz

Untuk kelas anak-anak di sore hari, suasana lebih meriah. Mulai dari anak usia 3 tahun hingga usia 13 tahun ikut belajar bersama kami. Total berjumlah 45 anak. Sebagian anak-anak ikut sekolah formal di pagi hari. Sekolah terdekat dari rumah mereka berjarak 3 kilometer dengan jalan yang terjal, curam dan berbatu. Sebagian lagi tidak sekolah formal, mereka memanfaatkan waktu pagi hingga siang hari untuk membantu orangtua di kebun atau mencari rumput untuk hewan ternak mereka.

* * *

“Mayoritas kopi yang ditanam di Sumber Candik kopi jenis robusta. Ada juga sedikit arabica dan excelsa.” Jelas Pak Bowo.

Pak Bowo adalah seorang penyuluh pertanian yang membantu petani kopi di Sumber Candik. Pria paruh baya yang berasal dari Wirobrajan, Yogya ini sudah sejak 1985 menetap di Jember. Mempelajari ilmu pertanian di Universitas Jember dan mengabdikan dirinya untuk membantu petani-petani di sekitar Jember. Sudah setahun terakhir Pak Bowo beraktivitas di Sumber Candik. Mengurus kebun buah miliknya sembari membantu memberikan masukan kepada petani kopi di Sumber Candik. Dalam seminggu Pak Bowo berkunjung ke Sumber Candik tiga hingga empat kali.

Menurut Pak Bowo, harga jual kopi yang dihasilkan petani kopi di Sumber Candik relatif rendah dibanding rerata harga jual kopi di Jember. Ini disebabkan karena petani memilih menjual biji kopi basah. Untuk jenis robusta, petani Sumber Candik menjual biji kopi pada kisaran Rp2 ribu hingga Rp5 ribu, tergantung kualitas biji kopi. Padahal jika mau sedikit bekerja dan menunggu hingga biji kopi kering, harga perkilo bisa mencapai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.

Hal ini diperparah dengan waktu panen yang dipercepat, panen sebelum waktunya. Harga jual kopi semakin anjlok. Biasanya kebanyakan petani di Sumber Candik memaksa memanen kopi sesaat sebelum lebaran walaupun biji kopi belum waktunya dipanen. Kebutuhan uang untuk berlebaran penyebabnya.

Menumbuk Biji Kopi
Menumbuk Biji Kopi | © Fawaz

Kemarin malam, selepas berbuka puasa, saya kembali bertemu dan berbincang-bincang dengan Pak Bowo. Tentang kopi, Sumber Candik, kegiatan Sokola Kaki Gunung, dan yang terutama, tentang usaha meningkatkan penghasilan petani kopi di Sumber Candik. “Saya pikir, kamu harus gerak cepat, Mas. Setelah semua masyarakat yang ikut belajar di Sokola Kaki Gunung bisa membaca dengan baik, materi pertanian harus segera diberikan, terutama pengolahan biji pasca panen.” Ujar Pak Bowo kepada saya.

“Saya setuju, Pak. Mungkin materi itu akan diberikan dalam kelas literasi terapan nantinya. Sekarang, saya harus bersiap mencari pematerinya yang mau mendampingi masyarakat belajar bersama, terutama pengolahan biji pasca panen.”

“Oh, kalau itu saya siap bantu. Nanti saya hubungi juga teman-teman saya yang siap membantu.”

Tetiba pikiran saya menjelajah, bertemu Paulo Freire, Ivan Illich, AS Neill, Butet Manurung, kembali mengingat apa fungsi pendidikan, bagaimana belajar seharusnya. Tentang pendidikan yang tepat guna, tentang pendidikan yang bermanfaat bagi kehidupan keseharian, tentang pendidikan yang mampu membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Sebelum pamit pulang, Pak Bowo menyerahkan kepada saya biji kopi excelsa, biji kopi luwak robusta dan biji kopi luwak arabika yang keduanya dari jenis luwak liar untuk dibawa ke Jakarta sebagai contoh. Kedepannya, dengan belajar bersama masyarakat, hidup bersama masyarakat, mencoba berdaya bersama masyarakat dengan memanfaatkan kopi sebagai ujung tombak.

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405