Bakwan Hari Raya dan Hal-hal Mengenai Indonesia

Bakwan yang Menggoda
Bakwan yang Menggoda | © www.azianhasan.com

Sebagai seorang muslim yang turut merayakan Hari Raya Idul Adha kali ini, mungkin tradisi yang saya dan keluarga lakukan berbeda dari kebanyakan muslim lainnya di tanah air. Tak ada bakar membakar sate, masak gulai, santap ketupat, dan lain sebagainya. Hal ini juga berlaku di Hari Raya Idul Fitri, dimana kami tidak memasak sendiri ketupat ataupun rendang, melainkan hanya menyantap menu khas tersebut jika dapat hibah dari nenek atau tetangga.

Bukannya pelit atau apa, tapi pada dasarnya keluarga saya memang tidak menjadikan itu sebagai kebiasaan. Keluarga saya juga tak anti terhadap daging-daging kurban. Bahkan, H-1 Idul Adha ibu saya secara terang-terangan mengatakan,”Besok bikin bakwan aja ya”. Dan nyatanya, saya benar-benar mengonsumsi bakwan, ayam goreng, dan telur dadar pada hari itu.

Saya menyantap lahap masakan buatan ibu: bakwan, telur, dan juga ayam di hadapan mata, plus secangkir kopi sachet yang di-mix dengan susu cokelat. Kata orang, lebaran adalah hari yang pas untuk melupakan diet alias kalap (cheat day). Ya, saya melakukannya dengan cara saya sendiri.

Di meja makan, pada hari itu, bakwan menjadi menu utama. Santapan favorit. Bagi saya, bakwan adalah simbol Bhineka Tunggal Ika. Anda tahu kan apa saja isi dalam bakwan? Ada tauge, wortel, kol, dan kadang juga jagung, serta daun bawang. Sekian banyak jenis sayuran bersatu dan terikat dalam adonan tepung, kemudian digoreng dalam minyak panas. Dari proses itulah dihasilkan bakwan renyah yang siap menemani manusia untuk saling bercengkrama.

Bakwan yang didominasi sayuran hasil panen para petani itu juga dapat disatukan dengan beberapa bahan lain selain dari jenis sayuran. Udang misalnya. Bakwan yang terlihat sederhana dapat tampak mewah karena kehadiran udang di dalamnya. Menumbuhkan gairah dan meningkatkan nafsu makan para pencinta kuliner Nusantara, serta semakin menghangatkan suasana yang penuh kerenyahan.

Kadang saya berpikir hal yang sama dengan Indonesia. Negara kepulauan yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama mestinya dapat bersatu menciptakan suasana damai dan penuh keakraban. Keragaman seharusnya menciptakan keharmonisan, laiknya bakwan ketika mereka disatupadukan dalam wajan penggorengan. Adonan bakwan akan semakin mengikat ketika dipanaskan dalam minyak panas, teksturnya akan semakin solid.

Begitupula dengan Indonesia, jika ada satu atau beberapa pihak yang menyulut provokasi dengan mengharapkan aksi yang hanya menguntungkan mereka, maka seharusnya itu bisa semakin menambah ikatan persatuan.

Ya, adonan bakwan yang solid dihasilkan dari proses pengolahan sebelum digoreng. Adonan bakwan harus diaduk-aduk sedemikian rupa. Komposisi air, tepung, dan bahan-bahan lainnya harus pas. Jika tak tahu bagaimana cara melakukannya, silahkan browsing atau bertanya. Mungkin begitu juga dengan manusia Indonesia. Pendidikan agama, pelajaran terhadap toleransi, dan cinta tanah air harus ditanamkan dengan komposisi yang pas. Jika tak tahu bagaimana cara melakukannya, silakan browsing atau bertanya, tetapi juga harus tetap kritis. Jangan sok (paling) tahu.

Jika hendak mengibaratkan udang sebagai budaya asing karena asalnya berbeda dari sayuran yang mendominasi bakwan, maka seharusnya dapat diterima dengan tangan terbuka. Tidak semua yang berasal dari asing itu buruk kan? Sayangnya, kadang kita suka melihat dari sisi negatifnya saja. Seperti halnya dengan udang yang katanya “Sumber Kolesterol Tinggi”.

Padahal, masih banyak makanan lain yang kandungan lemak dan tingkat kolesterol lebih tinggi dibanding udang. Dan perlu diketahui bahwa udang mengandung zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh, seperti protein, zat besi, kalsium, magnesium, natrium dan lain sebagainya. Protein berfungsi untuk mendukung pertumbuhan anak; menciptakan antibodi; menyembuhkan luka; membuat tubuh lebih berisi dengan otot-otot; membentuk hormon, enzim, dan hemoglobin; dan lain sebagainya.

Zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah, kalsium dan magnesium bagus untuk tulang. Natrium, walau dapat menyebabkan hipertensi jika dikonsumsi berlebih, tetapi ternyata memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Seperti halnya menyeimbangkan cairan dalam tubuh dan membantu kontraksi otot.

Pada momen Hari Raya Idul Adha tahun 2016 ini, budaya indah saling bermaafan yang selalu dilestarikan dari tahun ke tahun masih tetap terjaga. Kita berharap hari spesial ini masih akan menjadi titik balik untuk memulai semuanya dari awal lagi. Segala prasangka dan buruk laku dapat termaafkan sementara, dan kalau bisa seterusnya, bahkan tak sedikit yang beresolusi untuk menjadi insan dengan hidup yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Katondio Bayumitra Wedya

Muslim, Sarjana Gizi Anti-Mainstream, Pemilik Blog giziberkarya.blogspot.com.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405