Bahagia Bersama Soto Sewu Kang Man

Mudik selalu identik dengan hari raya. Tak hanya hari raya Idul Fitri, Idul Adha pun diiringi dengan tradisi mudik. Jalanan ramai, penuh sesak dengan kendaraan sudah biasa. Berdesakan dalam kemacetan dan kepanasan dalam robot besi pun kami rela (maklum kendaraan kami tak berAC). Tapi justru itulah kebahagiaan saat mudik tiba. Meski tentu saja hari raya Idul Fitri lebih ramai dari hari raya Idul Adha.

Sebagai anak hasil karya orangtua perantau, saya tak pernah melewatkan tradisi mudik. Sedikitnya dua kali dalam setahun saya pasti mudik ke kampung halaman ibu. Tak hanya untuk menyambung silaturahim dengan sanak saudara dan handa taulan, saya dan keluarga juga menyempatkan mudik untuk mengetahui kabar mbah kakung yang kini tinggal sendiri.

Hari Raya Idul Adha tahun ini pun keluarga saya mudik. Perjalanan empat jam dari Kudus ke Klaten cukup melelahkan bagi kami.

Teriakan dari makhluk kecil dalam perut semakin membuncah. Maklum, kami hanya sempat sarapan sebelum Salat Id di pagi hari dan tak sempat membakar daging siang harinya. Sampai pada akhirnya kami memutuskan mencari warung makan guna mengobati perut kami yang keroncongan. Sebenarnya jarak sampai tempat tujuan sudah dekat. Namun kami memutuskan mencari warung di pinggir jalan sebelum sampai rumah si mbah. Sepanjang jalan mata kami melirik kanan dan kiri mencari santapan di sore hari.

Sampai kemudian ibu saya berkata ingin menikmati soto. Saya pun teringat ada sebuah warung soto di daerah Temuwangi, di Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah.

Saya alhasil merekomendasikan untuk mendatangi warung itu, namanya Warung Soto Kang Man. Tapi saya sedikit sangsi, apakah warung itu sudah buka atau belum. Mengingat warung soto Kang Man buka mulai sore hari.

Saya yang tak begitu akrab betul dengan daerah itu harus mengamati satu persatu warung di tiap liku jalan. Saya bertugas menjadi penunjuk jalan sembari menuntun adik saya untuk mengendalikan kemudinya secara perlahan.

Pada akhirnya tampaklah gerobak biru dari warung soto yang akan kami tuju. Alhamdulilah sudah buka warungnya, batin saya lega.

Warung soto Kang Man nampak dari depan
Warung soto Kang Man nampak dari depan | © Esty Cahyaningsih
Persipan soto sebelum diberi kuah
Persipan soto sebelum diberi kuah | © Esty Cahyaningsih

Sebenarnya ini adalah kali kedua saya bertandang ke warung ini setelah yang pertama dengan kekasih hati saya, yang sukses membuat perut kenyang, lidah bergoyang, dan membuat hati senang. Sore itu saya ingin mengulang kebahagiaan itu bersama keluarga.

Saya giring keluarga saya masuk dalam warung. Jangan bayangkan jika warung Kang Man ini memiliki tempat yang luas nan elok. Sebab warung ini begitu sederhana. Hanya warung dadakan. Bongkar pasang. Letaknya berada di depan sebuah ruko yang kalau pagi digunakan untuk bengkel sepeda motor. Duduknya pun lesehan. Tentu saja warung ini hanya buka dari sore hingga malam hari.

Berbekal pengalaman pertama saya dulu, saya kemudian menyilakan keluarga saya untuk duduk. Tidak begitu lama. Seorang perempuan muda menghampiri kami lalu menanyakan, “Sotone ageng nopo alit?”. Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini artinya, “sotonya besar apa kecil?”.

Soto ageng gangsal”, jawab saya. Tak usah heran. Soto di sini memiliki dua ukuran. Ukuran mangkuk besar dan kecil.

Kami adalah pelanggan kedua sore itu, setelah sepasang suami istri yang baru saja memesan soto ageng dua. Sementara pelayan lain baru selesai memasang tenda bongkar pasang. Soto ageng biasanya dipesan oleh orang dewasa, sedangkan soto alit untuk anak-anak.

Jadi, jika ada satu keluarga yang memiliki anak kecil dan ingin menikmati soto, tak perlu khawatir makannya tidak habis, sebab warung soto ini menyediakan soto khusus porsi anak-anak.

Kedua adik saya yang masing-masing menyantap dua mangkuk soto jumbo
Kedua adik saya yang masing-masing menyantap dua mangkuk soto jumbo | © Esty Cahyaningsih

Warung Soto Kang Man hanya menjajakan soto. Tak ada varian menu lain di sini. Namun tentu saja, penganan pelengkap makan soto tersedia lengkap. Gorengan tahu, tempe mendoan, lentho, dan bakwan pun tersaji di sana. Gorenganya juga begitu nikmat, sebab mereka langsung menggorengnya di tempat. Jadi bisa disantap selagi hangat. Tak hanya gorengan. Lauk tambahan seperti sate telur puyuh dan ayam goreng tepung juga ikut nampang di meja lesehan.

Meski begitu, warung Kang Man begitu ramai disambar pembeli. Warung soto bongkar pasang ini begitu sederhana. Dalam hitungan menit sejak saya duduk di sana, warung ini ramai dikunjungi pelanggan setianya. Mereka tidak pernah kerepotan melayani pelanggan. Sebab warung ini digawangi oleh tujuh orang pelayan yang sudah paham betul akan tugas masing-masing.

Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun datang. Dan tanpa berlama-lama kami sudah siap menyantapnya. Tapi tentu saja setelah meraciknya dengan menambahkan kecap, sambal, daun bawang dan jeruk nipis sesuai selera. Soto segar ini semakin nikmat sebab kuahnya dimasak langsung dari kwali yang terbuat dari lanah liat.

Semangkuk soto pun sudah siap kami santap. Begitu pula dengan teh poci nasgitel khas dari Klaten. Sungguh perpaduan makanan dan minuman yang cocok untuk penghangat badan.

Pasangan cocok untuk soto, teh nasgitel sedang dituang oleh adik saya
Pasangan cocok untuk soto, teh nasgitel sedang dituang oleh adik saya | © Esty Cahyaningsih

Sendok di tangan kanan, gorengan di tangan kiri. Kami berlima begitu lahap menyantapnya. Tak sampai lima menit, kedua adik saya menandaskan semangkuk soto nan segar itu. Keduanya melirik saya yang belum selesai makan. Lirikan mereka yang tajam mengisyaratkan ingin menikmati barang semangkuk lagi. Saya lalu memesan dua mangkuk lagi untuk keduanya.

Tak perlu khawatir soal rasa, saya pastikan kamu akan nagih jika sudah makan sekali. Apalagi soal harga. Harga semangkuk soto di sini hanya seribu rupiah untuk soto ukuran kecil. Dan tiga ribu rupiah untuk soto berukuran besar. Gorengannya sangat murah. Hanya lima ratus rupiah per potong. Seperti harga tahu bulat keliling yang digoreng dadakan di atas mobil. Bedanya tak banyak micin di sana.

Selain saya, semua tampak heran saat membayar, mengingat harga soto di sana begitu murah. Sebab di kota kami, Kudus yang terkenal dengan makanan khasnya soto, harga semangkuk soto di sana berkisar antara sepuluh sampai empat belas ribu rupiah. Itupun dengan ukuran mangkuk alit di sini yang harganya hanya seribu rupiah.

Jika kalian kebetulan mlipir-mlipir atau nyasar di daerah Pedan – Cawas, Klaten atau arah sebaliknya. Cobalah mampir ke warung soto ayam Kang Man. Dan cobalah menikmati soto bahagia. Sebab hal yang paling membahagiakan adalah harganya hanya seribu rupiah yang hanya cukup untuk membayar tukang parkir diemperan ruko dikotamu.

Esty Cahyaningsih

Relawan pendidikan berlabel ikhlas beramal. Hobi memasak, bercita–cita menjadi istri yang professional