Bagus, Setelah 12 Tahun Meracik Kopi

Bagus Setiawan di The Library Cafe. © Nody Arizona

Sebuah maklumat dikeluarkan franchise kedai kopi asal Amerika. Perusahaan yang memulai membuka jaringan di Indonesia itu membutuhkan tenaga kerja. Salah satu posisi yang ditawarkan ialah barista.

Di Surabaya, seorang lelaki berusia 24 tahun sedang tak ada pekerjaan. Kontrak kerjanya dengan sebuah hotel baru saja berakhir. Ia tahu dari maklumat itu ada peluang bekerja lagi. Tak perlu pikir panjang lagi, segeralah surat lamaran pekerjaan dilayangkannya.

Di benak lelaki itu hanya ada tuntutan mencari pekerjaan secepatnya. Saat surat lamaran dikirim ia tak punya gambaran tentang jenis pekerjaan yang bakal dilakukan. “Coba-coba saja,” katanya. Tes kerjanya pun tak jauh beda dengan tes-tes pekerjaan lainnya. Tes pengetahuan umum, psikotes dan wawancara.

Nasib mujur diganjar lelaki itu. Tahap demi tahap seleksi berhasil dilaluinya. Dari ratusan pelamar dari Surabaya, ia masuk 10 orang yang lolos mengikuti masa trainning di Jakarta. Masa trainning ini dijalaninya selama 3 bulan. Seminggu materi, selebihnya praktik di kedai-kedai yang telah tersedia.

Itulah mula lelaki itu mulai meracik kopi. Bagus Setiawan, namanya. Pengalaman yang pernah dialaminya itu telah 12 tahun berlalu. Sekarang lelaki berusia 36 tahun ini tetap seorang barista. Meski sempat berpindah-pindah kota dan kedai kopi, Bagus selalu berada di belakang mesin pembuat kopi.

“Belajarnya tak sulit jika sering praktik,” katanya. Coffee testimony yang diterapkan di kedai kopi awal tempatnya bekerja banyak membantu proses belajar. Dalam rutinitas yang dilakukan di pagi hari, sebelum kedai kopi beroperasi ini, semua pekerja diberi kesempatan meracik sendiri kopi. Di sinilah para pekerja menguji teknik meracik kopi, serta mengetahui aneka varian rasa kopi dari berbagai daerah.

Tetapi, bukan berarti bekerja sebagai barista senantiasa berjalan mulus. Kendala itu muncul justru dari keluarga. Bagus kesulitan dalam menjelaskan jenis pekerjaannya. “Masa-masa itu barista belum dikenal luas,” katanya. Pada keluarga di kampung ia mengatakan, bekerja sebagai pembuat minuman. Ia justru disangka meracik minuman beralkohol. Keluarganya belum bisa membayangkan seseorang digaji hanya karena membuat kopi.

Tak ambil pusing mengenai ini, ia lantas mengajak keluarganya datang ke kedai kopi tempat ia bekerja. Barulah pemakluman atas pekerjaannya itu diterima. Pekerjaan apapun boleh saja dilakukan. “Selama pekerjaan itu halal dan nggak mencuri,” tegas Bagus.

Bagus Setiawan sedang meracik cappucinno. © Nody Arizona

Bagus sudah berulang kali berpindah kedai kopi. Dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Dari kota satu ke kota lainnya. Perjalanan karirnya sempat mengantarkan sebagai asisten manajer. Ia diberi kepercayaan masuk tim untuk membuka kedai kopi di Bandung. Tetapi di sini ia tak bertahan lama. Dia meski merelakan pekerjaannya, karena hendak kembali ke Surabaya untuk meminang seorang gadis.

Dari kedai kopi pulalah ia bertemu dengan Dyah Tanjung, gadis yang kini menjadi pendamping hidupnya. Dyah sedang melakukan penelitian untuk tugas akhirnya sekaligus sebagai pekerja part time di kedai kopi yang sama dengan Bagus. Dyah bahkan sempat pula menjadi seorang barista.

Setelah menikah Bagus sempat bekerja di Bali, pada franchise kedai kopi yang berbeda. Kali ini franchise asal Thailand. Tetapi tak berlangsung lama pula. Nasib mengantarkannya kembali ke Surabaya lagi. Saat ini ia bekerja di The Library Cafe yang terletak di salah satu sudut Gramedia Expo, jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Ketika saya datang berkunjung di akhir Februari lalu, ia terlihat sibuk. Semua pesanan minuman yang datang Baguslah yang meramu. Jika tak ada pesanan, ia membantu kawan-kawannya memperbaiki sebuah mesin yang sedang rewel. Hari itu kawan sesama baristanya sedang cuti.

Dari kedai kopi Bagus mendapatkan penghasilan. Selama 12 tahun ini ia tak pernah beralih profesi. “Barangkali sudah jadi bidangnya,” katanya. “Mau beralih ke perhotelan lagi, malah bingung mau memulai.”

Saat sedang senggang, pasangan yang sama tertarik dengan kopi ini senantiasa meluangkan waktu untuk berkunjung ke kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Bahkan sekarang, mereka tak hanya mencicipi kopi berdua saja. Buah hatinya, Satrya Abimanyu Wiratama (2), sudah mulai menikmati kopi meski hanya seujung sendok kopi susu.

Sebagai seorang barista, Bagus merasa cukup untuk biaya hidupnya saat ini. “Bahkan lebih, untuk seorang yang sudah bekeluarga dengan satu anak kalau nggak neko-neko.” Mengamati profesi barista, menurutnya, karir dari seorang barista sebenarnya tak hanya berakhir di belakang mesin pembuat kopi semata. Di kemudian hari seorang barista bisa menjadi konsultan kedai kopi atau membuka kedai kopi sendiri.

Bagus dan istrinya ingin yang kedua: membuka kedai kopi sendiri. Pengalamannya dan istrinya yang lama bergelut dengan dunia kopi dirasa cukup untuk menjalankan kedai kopi. Sekarang pasangan ini mulai menabung untuk mewujudkan kedai kopi impian itu.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Saya sekarang lagi membuka sebuah kedai kopi di kota saya, tapi pengalaman saya dalam hal meracik kopi masih kurang, mohon petunjuk dan sarannya mas?

  • Nody Arizona

    Kak, bagaimana jika follow @KopiID supaya pertanyaan mas bisa didiskusikan bersama sama kawan-kawan yang sudah ahli. 🙂

  • Alya Maharani

    @Nody Adakah rekomendasi buku yang bagus tentang cara meracik kopi atau menjadi barista?

  • Idem

    Idem @Alya 🙂