Bagaimana Menonton “Gambar Idoep” Zaman Belanda?

Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939.
Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939 | Sumber: kaskus.co.id

Suatu ketika, wakil walikota di Palembang melakukan inspeksi mendadak ke bioskop CGV, Komplek Sosial Market, Jalan Perintis Kemerdekaan, Palembang. Ia menyaksikan bioskop yang dipenuhi kasur dan bantal. Mirip hotel.

“Saya minta penjelasan. Kalau seperti ini, bukan mau menonton tetapi bisa digunakan untuk hal yang lain,” kata ibu wakil walikota itu.

Tentu saja, “hal yang lain” yang dimaksud ibu wakil walikota adalah hal-hal yang menjurus ke perbuatan asusila, atau bahasa awamnya, mesum.

Saya hanya tertawa. Terpingkal-pingkal tentu saja. Sebab, konsep ruangan bioskop yang disebut oleh ibu wakil walikota itu sudah lumrah di Jakarta. Konsep ruangan bioskop seperti itu disebut Velvet Class. Ibu bisa tengok ke Blitzmegaplex di Central Park, Jakarta.

Ya sudah. Baiknya kita tinggalkan kota mpek-mpek di seberang lautan sana. Mari kita menengok, bagaimana sih menonton bioskop masa Hindia Belanda?

Alkisah di zaman kiwari, bioskop tak semegah itu. Bahkan, penontonnya pun “disekat-sekat”. Sekat-sekat di sini adanya pembedaan antara berbagai klas untuk menonton bioskop. Bioskop sendiri muncul kali pertama di Hindia Belanda akhir 1900 di Kebonjahe, Tanah Abang. Saat itu, keluar pengumuman, karcis untuk kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga.

Pada 1903, keluar pengumuman di koran Bintang Betawi. Karcis untuk menonton menjurus ke arah rasial. Kelas loge dibanderol f 2, kelas satu f 1, kelas dua f 0,50, dan kelas tiga dibanderol f 0,25. Kelas tiga ini hanya untuk orang Slam dan Djawa saja. Slam merujuk pada Islam, agama mayoritas negeri ini. Dengan pembagian seperti ini, kaum penjajah secara tak langsung memposisikan diri sebagai kaum paling superior.

Penonton di kelas tiga disebut sebagai kelas kambing. Lantaran, berisik dan gaduh. Kerap terjadi pula lempar-lemparan barang, jika ada adegan seru perkelahian.

Menyoal muhrim dan bukan muhrim, ternyata sudah ada loh isu itu di bioskop zaman baheula. Haris Jauhari mengisahkan hal itu di artikelnya berjudul “Layar Membentang (1900-1942)” dalam buku Layar Perak, 90 Tahun Bioskop di Indonesia.

Begini. Pada 1905, American Animatograph hadir di Gedong Kapitein Tan Boen Koei di Kongsi Besar, Batavia. Karcisnya, f 0,25 untuk orang Tionghoa dan f 0,10 untuk orang Islam. Bioskop ini menjanjikan tidak mencampur tempat duduk perempuan dan laki-laki.

Asumsinya, penonton yang beragama Islam saat itu malas ke bioskop yang mencampurkan laki-laki dan perempuan. Bukan muhrim. Namun, akhirnya peraturan ini tak bisa dijalankan maksimal, karena suami-istri minta duduknya bersebelahan.

Salah satu foto tempat duduk Bioskop Karia, Solok
Salah satu foto tempat duduk Bioskop Karia, Solok | Sumber: kaskus.co.id

Banyak pula peraturan tak tertulis yang rasanya sangat lucu jika diterapkan sekarang. Peraturan itu tertulis di majalah Doenia Film edisi 15 Mei 1930 dengan judul “Bagimana Moesti Nonton Bioscoop”. Dalam artikel tersebut ada 10 aturan, yang dikutip dari sebuah majalah dari Amerika. Saya coba mengutip 10 aturan itu, dengan bahasa Indonesia ejaan saat ini.

Pertama, jika tertawa karena film itu lucu, harus tertawa paling keras sehingga semua orang tahu yang Anda tertawakan. “Poekoel tangan diatas toean poenja loetoet dan dengan goembirah moesti treaken: Oh bagoes! Kotjak!”

Kedua, jika melihat pemandangan di film, jangan lupa bilang ke orang yang duduk di sebelah Anda bahwa Anda pernah berkunjung ke tempat itu, agar orang tahu Anda bukan hanya kaya tapi juga punya pendidikan tinggi.

Ketiga, jika sudah tahu jalan cerita sebuah film, atau sudah membaca buku yang diadaptasi ke film itu, jangan lupa menceritakan ke orang yang duduk di sebelah Anda apa yang akan terjadi dalam film itu. “Toean tida bisa doega bagimana itoe orang nanti sangat trima kasih sama toean!”

Keempat, jika membaca teks dalam film itu harus keras-keras, karena bisa jadi ada yang tak bisa membaca di dalam bioskop.

Kelima, baca teks dalam film dengan keras agar musik tak bisa terdengar lagi, dengan demikian maksud Anda akan sampai.

Keenam, lebih baik kalau sebentar-sebentar berdiri lantas duduk lagi. Bukan main gembira orang yang duduk di belakang Anda.

Ketujuh, jika melihat adegan yang menarik, sehingga Anda tertarik dari awal hingga akhir, jangan lupa nyatakan cacian Anda terhadap film itu, karena dengan begitu kedudukan Anda terhadap orang yang duduk di sekitar Anda akan naik.

Kedelapan, jangan malu batuk atau bersin yang keras. Kesembilan, di dalam bioskop harus seperti di rumah sendiri. Kesepuluh, tingkah laku dan perbuatan harus seperti di rumah sendiri, jadi orang berpikir cuma Anda satu-satunya yang bayar karcis untuk menonton.

Jika dilihat-lihat, artikel tersebut seperti guyonan (bercanda). Mungkinkah zaman dahulu para penonton dianjurkan demikian? Nyatanya anjuran itu ada di media massa. Namun, jangan coba-coba melakukan 10 hal yang sudah dibahas tadi. Bisa-bisa Anda dilempar keluar gedung bioskop. Gimana tuh ibu wali kota, kalau 10 aturan tak resmi itu saat ini ada di bioskop? Hehehehe.

Fandy Hutari

Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, terutama film dan teater masa kolonial.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405