Bagaimana “Bestik Wong Solo” Mengubah Hari-hari Kami yang Suram menjadi Menyenangkan

Di Bestik Wong Solo
Di Bestik Wong Solo | © AP Edi Atmaja

Adalah Bang Bokir dan Simbah yang pertama-tama mengenalkan kami pada warung tenda bernama Bestik Wong Solo. Bang Bokir adalah seorang pria berusia tiga puluhan yang gemar mengenakan tas selempang kecil macam tukang kredit. Sama saja dengan Simbah, hanya berpostur jauh lebih ramping tanpa tas selempang, dan penampilannya lebih rapi dan cenderung parlente.

Kedua pria itu sudah kami anggap cukup sepuh sehingga petuah-petuah mereka kadang tak perlu kami turuti, kecuali beberapa. Yang beberapa itu misalnya saja dalam soal kuliner. Sebab referensi kuliner mereka kadang-kadang memang layak diikuti.

Sebenarnya ada satu lagi pria yang harus disebut di sini karena tanpa dia mereka berdua kurang lengkap. Namanya Ojan. Secara usia, Ojan masih di bawah mereka, namun secara tampang mungkin saja iya. Yang jelas, ketiga pria itu sering kali nampak jalan bareng dan kerap terlibat dalam aksi-aksi konyol nan absurd.

Aksi konyol mereka yang cukup menggelikan belakangan ialah pendirian Ledig Group, sebuah kelompok percakapan di WhatsApp yang berisi orang-orang frustrasi yang mencoba melarikan diri dari hiruk pikuk pekerjaan. Anggota Ledig Group senang berbagi kisah-kisah lucu, mesum, gambar-gambar pornografis, dan celoteh-celoteh tak penting yang sudah sepatutnya masuk tong sampah.

Di dunia yang fana ini, orang-orang sepertinya memang membutuhkan sampah. Bukan untuk didaur ulang sehingga dihasilkan ciptaan baru, melainkan barangkali untuk terus dihadirkan sehingga orang-orang itu menjadi selalu sadar yang mana sampah dan yang mana bukan sampah.

Hari-hari kami yang begitu-begitu saja tentu menjadi lebih semarak berkat kehadiran ketiga pria jenaka itu. Berkat merekalah sedikit-sedikit kami jadi tahu tempat-tempat penting di Pekanbaru beserta rupa-rupa kulinernya. Bersama Bang Bokir, Simbah, dan Ojan, kami suka diajak menyambangi pelbagai tempat nongkrong asyik di Pekanbaru, semisal Tong Susu, Nganjuk, Plaza Citra, Mal Ciputra Seraya, Waroeng Steak & Shake, Vega Royal, Sate Solo, D’Taste, Mr Brewok, Karambia, dan Bestik Wong Solo.

Plaza Citra, Mal Ciputra Seraya, dan WS? Biasa sekali itu, semua orang juga tahu—demikian mungkin komentar Anda sehabis membaca daftar tadi. Iya, ya, setelah dihitung-hitung, tempat nongkrong favorit kami rupanya segitu-segitu doang, ya. Jadi sebenarnya bergaul dengan trio jenaka itu tidak membuat kami gaul-gaul amat begitu, ya? Haha!

Apa pun kekurangannya, Bang Bokir, Simbah, dan Ojan terang telah berjasa besar bagi dunia seisinya, minimal dunia kami sehari-hari dan terutama saat malam Minggu tiba. Sebab, sekali lagi, tanpa ketiganya, kami tak ubahnya seonggok gombal yang pelan-tapi-pasti bakal segera membusuk di kamar.

* * *

BESTIK Wong Solo, warung tenda legendaris itu, terletak di Jalan Tuanku Tambusai (dulu berjuluk Jalan Nangka), Pekanbaru. Lokasinya persis di sebelah toko sepatu Sport Station, limaratusan meter sebelum Anda berjumpa simpang empat Mal SKA, Pekanbaru.

Anda tak usah bertanya siapa nama pemiliknya karena saya tak tahu dan ogah Anda suruh-suruh untuk cari tahu. Yang saya tahu, Bestik Wong Solo paling tidak dikelola oleh satu orang berambut cepak, berjenggot pendek, dan suka memakai celemek sebab dia jugalah yang bertindak sebagai koki. Dia pula yang suka menghadang pengunjung sembari menyodorkan menu.

Bestik Wong Solo menawarkan menu yang lumayan bervariasi, tak hanya bestik daging sapi, ada juga bestik daging ayam, bihun goreng, dan mi goreng.

Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru
Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru | © AP Edi Atmaja
Koki (Terduga Pemilik) dan Asistennya
Koki (Terduga Pemilik) dan Asistennya | © AP Edi Atmaja

Mamat, kawan saya asal Cibubur, salah satu yang doyan nian sama bihun goreng. Setiap kali makan di Bestik Wong Solo, Mamat senantiasa menyandingkan bihun goreng bersama bestik dadar lidah sapi atau bestik daging sapi—intinya, doi suka kalap kalau sudah pesan makanan. Dan lucunya, bocah berkacamata ini selalu mengeluh ketika pesanan datang karena menurutnya makanan yang dia pesan kebanyakan, meski beberapa saat kemudian tandas sudah itu makanan disikatnya.

Buat Mamat, setiap potongan daging atawa lidah sapi bikinan koki andal Bestik Wong Solo yang dikunyahnya sebelum ditelan dengan penuh sukacita adalah hiburan tersendiri dari hari-harinya yang suram. Si Mamat adalah perjaka biasa yang lima dari tujuh hari yang dimilikinya seumur hidup dihabiskan dalam kubikal kantor nan membosankan.

Maka, ketika selepas pulang kerja—biasanya pasca-Magrib atau Isya—Mamat mengajak saya dan Habib untuk makan enak di Bestik Wong Solo. Kami hanya mengiyakan saja. Dalam momen-momen seperti itulah biasanya Mamat, dengan penuh semangat, mengajak pula trio jenaka beserta anggota Ledig Group lainnya.

* * *

DI Bestik Wong Solo, saya selalu memesan bestik daging sapi. Minuman boleh selang-seling, tapi makanan entah mengapa, selalu bestik daging sapi. Saya selalu memesan bestik daging sapi karena memang itulah favorit saya. Padahal, di antara sekian banyak menu, bestik daging sapi sajalah yang pernah saya coba.

Olahan daging sapi Bestik Wong Solo benar-benar empuk dan kemrenyes di waktu yang tepat. Daging-daging itu dipotong-potong kecil serupa balok panjang, lalu dimasak dengan air, kentang, dan wortel dalam satu wajan. Lebih dari segalanya ialah komposisi bumbunya yang sedap tiada terkira. Jika Anda menghendaki pedas, maka sang koki akan mempersembahkan buat Anda bestik daging sapi dengan sensasi pedas yang membuat nyawa Anda seakan-akan hendak tercabut dari raga.

Silakan Anda coba menu lain, maka Anda akan segera dapatkan cita rasa yang sama sedapnya.

Bestik Daging Sapi
Bestik Daging Sapi | © AP Edi Atmaja

Tak berlebihan kiranya bersantap malam di Bestik Wong Solo untuk menebus hari-hari kita yang suram. Hari-hari suram itu sejatinya termanifestasikan dalam sajian bestik daging sapi yang pekat kehitam-hitaman, yang bila sampai ke mulut sebenarnya sedap tak tepermanai. Itulah hidup, suram atau menyenangkan sesungguhnya tergantung cara kita mengolah dan menikmatinya.

Tatkala Mamat berhasil menangkap kandungan filosofis dari bestik daging sapi yang tengah ia kunyah, terlupa sudah segala beban pikirannya. Mamat beranjak menjadi pribadi baru dan mulai melihat semuanya secara positif. Mamat tak peduli jika beban yang sama akan merintanginya esok, lusa, dan seterusnya. Mamat percaya, selama masih ada Bestik Wong Solo, maka ia boleh merasa tenang.

AP Edi Atmaja

Pembaca buku, pendengar radio, menulis untuk senang-senang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405