Ayo Mbok Ngopi nang Kuburan!

Tampak Depan Warung Mbok Ngopi Kudus
Tampak Depan Warung Mbok Ngopi Kudus | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Ayo mbok ngopi!” kalimat tersebut adalah ajakan untuk ngopi di Kudus. Sebuah kota di pantura Jawa Tengah yang dikenal luas dengan sebutan kota kretek ini, ternyata juga kental dengan budaya ngopi. Ngopi sudah menjadi tradisi sejak zaman Sunan Kudus dulu. Budaya yang langsung diadaptasi dari Aceh.

Itu juga yang menjadi filosofi dibukanya kedai Mbok Ngopi. Kedai ini terletak di Gondang Manis, Bae, Kudus. Berada di kawasan universitas swasta bernama Universitas Muria Kudus (UMK). Kedai ini juga yang pertama kali dikenalkan oleh teman saya setelah saya pulang ke kampung halaman akhir Agustus lalu.

Sabtu malam lalu adalah kedatangan saya yang kedua. Mengingat saya sudah merasa cocok dengan tawaran menunya. Apalagi ada menu favorit saya, kopi arabika tubruk. Namun, di kunjungan saya kedua ini, saya baru menyadari ada sesuatu yang lebih unik dari kedai ini. Di tengah-tengah kedai ada sebuah makam Cina. Makam itu dilengkapi juga dengan lighting redup berwarna merah. ‘Ngeri-ngeri sedap,’ pikir saya waktu itu.

Mbok Ngopi didominasi dengan bambu. Mulai dari tiang, gedhek, dan atapnya. Pencahayaannya juga didominasi dengan cahaya kuning. Memberikan suasana tenang khas tradisional Jawa. Ada juga hiasan perabotan yang terbuat dari gerabah tanah liat. Mulai dari wajan penggorengan, tungku, gelas, hingga kendi. Ditambah lagi ada tulisan-tulisan filosofi jawa. Disertai dengan foto-foto hitam putih dipasang di dinding kedai.

Namun, ada juga dekorasi dari grafity. Grafity tersebut ditata dengan apik sehingga tidak terjadi kontras antara desain tradisional dan kekinian. Membuat saya secara pribadi sangat nyaman.

Hiasan dinding Warung bernuansa Tradisional, lengkap dengan Filosofi Jawa.
Hiasan dinding Warung bernuansa Tradisional, lengkap dengan Filosofi Jawa. | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Suasana keakraban antara pemilik, karyawan, dan konsumen juga dijaga agar tidak ada jarak. Mbok Ngopi sengaja tidak mewajibkan karyawannya untuk memakai seragam. “Kalau pakai seragam nanti pasti ada jarak. Sedikit apapun pasti ada jarak. Saya ingin antara pengunjung dan kami bisa saling berbagi,” kata Dhimas Wahyu Prabowo, (27) pemilik kedai ini.

Kesan kekeluargaan itu memang sengaja dijaga oleh Dhimas. Itu juga yang menjadi filosofi nama dari Mbok Ngopi. “Mbok Ngopi itu ajakan. Ayo mbok yo ngopi,” katanya.

Kopi menurutnya adalah media komunikasi. Dari kopi orang-orang bisa saling berbagi, bahkan tidak hanya soal pertemanan saja, dari kopi juga banyak menghubungkan relasi bisnis. “Buktinya di Mbok Ngopi. Di sini saya bisa bertemu dengan kenalan-kenalan saya. Ada garapan buat event di Kudus, di Pati, juga dari sini,” katanya.

Meja Barista Mbok Ngopi yang sengaja dibuat sama dengan Meja Bar
Meja Barista Mbok Ngopi yang sengaja dibuat sama dengan Meja Bar | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Mbok Ngopi memang baru setahun berjalan. Tepatnya di bulan Agustus 2015 lalu. Dari perjalanan setahun itu, Mbok Ngopi sudah punya pelanggan tetap. Selain dari teman sendiri juga dari pelanggan yang sebenarnya tidak pernah diduga sebelumnya. “Ada yang sekeluarga kesini. Bapak, ibu, sama anaknya sering kesini,” katanya.

“Ada juga pelanggan yang unik. Bapak-bapak, selalu pesan pesanan yang sama. Kopi, es teh, sama mie. Tapi es-nya suruh dibuat terakhir. Jadi kalau bapak itu datang kita sudah tahu,” kata Dhimas. Dari menerapkan konsep itu banyak teman Dhimas yang nyaman berada di sana.

Dia juga tidak terlalu kaku dengan apa yang harus ada atau tidak ada di kedainya. Seperti event-event yang diadakan. Dhimas pernah meminta temannya untuk memutar DJ. Menurutnya tidak ada yang salah. “Ngopi jadi media untuk berbagi apa saja,” katanya mengulang.

Sejarah dan Menu

Kata ‘Mbok’ juga ada hubungannya dengan si mbok; orang tua. “Ini ajakan dari orang tua,” katanya. Dia kemudian menceritakan bagaimana dulu budaya ngopi di Kudus timbul.

Budaya ngopi sudah ada waktu kedatangan Islam di Kudus. Yaitu saat Sunan Kudus membawa Islam dari Aceh. Aceh memang sampai sekarang terkenal dengan budaya ngopinya. Di sana warung-warung kopi tersebar di sepanjang jalan. “Di Aceh, kalau ngopi ya di warung, di kedai,” katanya.

Di Kudus pun hampir sama, selain di warung, ngopi juga jamak dijumpai di pesantren-pesantren waktu malam hari. Saat ngopi digunakan untuk saling berbagi, membaur, dan dijadikan media berdakwah langsung kepada masyarakat. “Makanya kalau ngopi di sini siang dan malam hari,” katanya.

Banyak juga kedai kopi tradisional di Kudus yang ramai pengunjung. Kedai-kedai itu seperti tidak pernah sepi. Bahkan kabarnya sudah dikenal di kabupaten tetangga Kudus. Padahal Kudus bukan merupakan basis kopi. “Kalau kebun kopi hanya sedikit saja. Berada di perbukitan pegunungan Muria,” katanya.

Namun, baru setahun ini kedai-kedai dengan tawaran konsep modern mulai berdiri. Dhimas mengatakan ada 25 kedai modern yang setahun ini buka, dan akan terus bertambah. Dia sendiri tidak menampik, bahwa kesan modern di kedai-kedai itu sebenarnya menghilangkan ciri tradisional budaya ngopi di Kudus. Namun, Mbok Ngopi meski juga mengikuti perkembangan kopi modern, tetap menjaga kopi tradisional Kudus.

Kopi Pilihan di Warung Mbok Ngopi
Kopi Pilihan di Warung Mbok Ngopi | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Seperti menu yang ditawarkan oleh Mbok Ngopi. Menu utamanya adalah kopi tarik dan teh tarik. Kopi tarik berbahan dasar kopi klothok, sebuah metode pembuatan kopi dengan cara kopinya ikut direbus dalam panci.

Kopi klothoknya Mbok Ngopi diramu sendiri. Dipilih dari biji kebun kopi Kudus sendiri, kemudian di-blend dengan kopi-kopi dari daerah lainnya. Saya sedikit dibukakan rahasia, kalau kopi yang diramu itu dari robusta dan arabika. “Saya ingin mencocokkan lidah orang sini. Kalau pakai arabika orang akan merasa aneh,” katanya.

Mengikuti segmentasi pasar di kedainya, kemudian menu dari kopi klothok itu tidak hanya dibuat kopi tarik saja. Dhimas mengembangkan varian menu lainnya dari kopi klothok. Varian kopi panas dan dingin.

Selain Kopi Klothok yang jadi andalannya, Mbok Ngopi juga menyediakan single origin, khas dari perkebunan sekitar Kudus, yaitu Robusta Muria, Java Premium dari Temanggung, Kopi Pak Wawan dari teman Dhimas di Jakarta, dan single origin dari daerah lain yang sudah populer di telinga pecinta kopi. Seperti Gayo, Preanger, dan Kalosi.

Saya baru tahu, ternyata di Kudus yang dekat dengan tempat tinggal saya juga memberi tawaran menarik bagi penikmat kopi. Karena saya memang menghabiskan waktu lama di Jember, daerah yang juga menjadi basis kopi di Jawa Timur. Apalagi disana juga terdapat Pusat Penelitian Kopi terbesar di Indonesia.

Kembali pada kali pertama saya tertarik dengan Mbok Ngopi, yaitu adanya makam di tengah-tengah meja pelanggan. Dhimas dengan tegas mengatakan bahwa itu kebetulan, “Ya gimana lagi. Dapatnya tempat disini kok.”

Ternyata memang bukan makam yang menjadi konsep utamanya. Hanya saja, makam kemudian menjadi daya tarik sendiri yang unik bagi Mbok Ngopi. Teman-teman Dhimas, dan para pengunjung yang sudah familiar punya sebutan sendiri untuk kedainya. Ajakannya pun berbeda. “Temen-temen malah kalau janjian ngopi disini bilangnya ‘Ayo ngopi nang kuburan!’. Tapi yo piye maneh mas. Pancen yo nang tengah kuburan, ” saya pun tergelitik mendengarnya.

Dian Teguh Wahyu Hidayat

Masih jadi jurnalis, dan seorang wiraswasta yang ingin mengeksplor tempat kelahirannya, Demak, Jawa Tengah.