AS Roma dan Pertandingan Tiga Babak di Jointa

Roma versus Palermo. 5 November 2012. Markas Romanisti Regional Yogyakarta yang terletak di Kafe Jointa masih lenggang. Pertandingan dijadwalkan berlangsung pada 02.45 WIB. Itu berarti masih satu jam lagi dari kedatangan saya.

Parno, lelaki yang bertugas menjaga berlangsungnya pertandingan di kedai tengah bersiap-bersiap. Monitor yang sengaja disewa sudah diletakkan pada tempatnya. Begitupun dengan layar besar untuk menyaksikan siaran langung pertandingan dari stadion Olimpico, Roma. Parno nyaris satu-satunya pegawai kedai yang masih bertahan. Dia sedang mendapat giliran bertugas hari itu.

Layar lebar siap tayangkan laga AS Roma vs Palermo. © Danu Saputra

Romi Hajar adalah Romanisti pertama yang tiba. Ia sempatkan datang ke Jointa. Mahasiswa Ilmu Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia) yang kuliah sambil kerja kebetulan sedang tugas piket di kafe yang tak jauh letaknya dari Jointa. Ia segera bersandar di bangku yang terbuat dari bambu tutul setelah sebelumnya memesan white coffee.

Ini telah musim kedua Romanisti menggunakan Jointa sebagai markas mereka. Menurut kesepakatan kontrak suporter AS Roma dan pihak manajemen Kafe Jointa akan berlangsung selama dua musim. Dalam setiap pertandingan AS Roma acara nonton bersama akan digelar di Jointa. Rapat dan nongkrong para pendukung Roma juga dilakukan di sini.

Seorang lagi datang. Pakaiannya berwarna orange, di punggungnya bertuliskan “Romanisti Regional Yogyakarta”. Ia membawa spanduk panjang, dan meminta bantuan Romy untuk memasang spanduk yang bertuliskan “Brigata Bravetta”. Monitor telah dinyalakan. Siaran langsung Roma dan Palermo ditayangkan di TVRI. Antena duduk tak mampu menyajikan gambar jernih. Lelaki bernama Vidi itu menanyakan pada Parno apa sudah maksimal gambar yang bisa ditangkap. Parno bilang, sudah. Ia tampak masih tak puas. “Bentar saya ambil televisi,” katanya. Ia pun memacu motornya.

Tak lama kemudian suara motor terhenti di tepi jalan. Saya terkejut. Vidi kesulitan untuk membelokkan motornya. Terang saja, televisi 21 inci dibawanya dengan motor seorang diri. Ia meletakkan televisi itu di dekat monitor berada. Ia berharap dengan adanya televisi gambar yang ditangkap jadi lebih jernih. Sayang colokan listrik yang tersedia tak mampu lagi muat. Ia pun pasrah dengan menerima gambar yang dirasa paling jelas. Televisi tak jadi digunakan.

Romanisti berdatangan dan televisi yang tak terpakai. © Danu Saputra

Pertandingan siap dimulai. Belasan suporter AS Roma telah berada di Jointa. Tak lupa berbagai atribut AS Roma mereka kenakan. Masing-masing mereka mengambil posisi yang nyaman. Romi tampak terkantuk-kantuk di kursi paling depan. Vidi terlihat tak juga menemukan posisi yang nyaman. Sambil berdiri ia menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Barangkali ia khawatir dengan dua kali kekalahan beruntun pada pertandingan Roma sebelumnya. Palermo meski tim papan bawah, ia punya tradisi merepotkan tim-tim besar.

TVRI memuat gambar dari stadion Olimpico Roma, tempat pertandingan berlangsung. “No Totty no party.” Salah satu poster terlihat dibawa oleh pendukung AS Roma di tepi stadion. Totty sang kaisar Roma turun pada pertandingan ini. Kick of babak pertama ditiup wasit.

Pertandingan baru berjalan 4 menit. Pelanggaran dilakukan Pisano, pemain Palermo. Ia tackling keras Lamela. “Pisano, banyak-banyak makan pisang deh,” celoteh Vidi. Permainan berlanjut. Menit ke sebelas umpan Ivan Piris membuka peluang. Totti menyambutnya dengan sundulan. Bola mengenai tiang gawang. Pantulan ditanduk lagi oleh Totti. Gool! Roma 1, Palermo 0.

Romi tertidur tertinggal menyaksikan momen secara langsung. Ia sepertinya sedang kelelahan. Segelas kopi yang terdapat di mejanya tak mampu mengusir kantuknya. Ia hanya terbangun saat kawan-kawannya bersorak atau bertepuk tangan saat ada momen istimewa di layar. Namun terjaganya sekejap saja, ia turut bertepuk tangan seperti memberi dukungan, lantas terkalahkan lagi oleh rasa kantuk.

AS Roma mampu mengandakan keunggulan di menit ke-31. Memanfaatkan kesalahan lini belakang Palermo yang bertabrakan. Osvaldo yang berada di posisi bebas, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melesatkan bola ke arah gawang. Suara tepuk tangan dan teriakan kembali terdengar di Jointa. 2 : 0 untuk keunggulan kesebelasan dari kota Roma. Tak lama berselang pertandingan terhenti. Istirahat babak pertama.

Pendukung Roma di kafe Jointa pun bersantai. Saya meminum kopi yang saya pesan, lalu menyalakan rokok. Di antara para pendukung mulai saling sapa. Mereka seperti sedang mengendorkan urat syaraf yang menegang saat pertandingan. Sebagian bercanda, tebak skor, ada yang memperkirakan Roma akan menang. Ada yang memperkirakan 2 : 0 ada pula yang menebak 4 : 0. Bahkan ada yang Palermo akan melesatkan gol ke gawang Roma, namun masih juga Roma menang meski tipis, dengan skor 4 : 3.

Di belakang dari sebuah laptop beberapa orang berkumpul untuk menyaksikan skor dari tim lainnya. Namun yang menarik perhatian mereka, rival sekota Roma: SS Lazio. “November Rain,” kata seseorang mengomentari hasil pertandingan Lazio. Rival satu kota ini akan dipertemukan di partai sekota pada pekan berikutnya.

Menantikan azan subuh sambil berdoa dan berdiskusi. © Danu Saputra

Babak kedua kembali berlanjut. Belum ada kejadian menarik yang terjadi. Namun beberapa menit kemudian tayangan pertandingan diambil alih tayangan azan subuh. Istirahat babak ketiga. Tayangan azan yang biasanya cepat berlalu kali ini terasa sangat lama. Gambar kembali tayangkan pertandingan. Roma telah unggul 3 : 0. Di Kafe Jointa penonton tak sempat menyaksikan detik-detik saat terjadinya gol.

Totty ditarik keluar oleh pelatih, ia digantikan Mattia Destro. Baru masuk lapangan, Destro mendapatkan kartu kuning. Di menit ke 79 Destro yang lolos dari jebakan offside memaksa Ujkani memungut bola dari gawang untuk keempat kalinya. Namun Destro diusir dari lapangan setelah mencetak gol. Dia mendapatkan kartu kuning kedua akibat selebrasi dengan melepas kaus.

Teriakan tak terima terdengar di Jointa. “Di kasih kartu nih,” lontaran dari belakang terdengar. “Nggak jadi loh! Nggak jadi loh!” kata Vidi. “Dia ingat loh, nggak jadi dilepas kausnya.” Namun wasit tetap saja memberikan kartu kuning kedua untuk Destro dan memaksanya keluar, dengan memberinya kartu merah.

Palermo memperkecil ketertingalan di menit-menit terakhir. Josip Illicic menjebol gawang Roma setelah memaksimalkan umpan Miccoli. Skor 4:1 untuk keunggulan Roma bertahan hingga menit terakhir. Kemenangan ini menempatkan AS Roma di posisi enam klasmen sementara dengan 17 poin pada pekan itu.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.

  • Nih Ngomongin Kafenya, Kopinya atau malah laporan mata pertandingan AS.Roma 😀