“Aroma” Firdaus dari Indonesia

Sebenarnya sudah terlampau terlambat untuk menuliskan tentang film keren, Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) —selanjutnya saya sebut Aroma. Pasalnya, film ini sudah dirilis bulan Juni silam. Tetapi apa daya, saya baru berkesempatan menonton akhir bulan September lalu.

Film yang disutradarai oleh Budi Kurniawan ini termasuk satu dari sedikit sekali film tentang kopi Indonesia. Risetnya tak main-main. Budi, dalam sebuah wawancara, mengatakan kalau ia melakukan riset selama empat tahun sebelum menghabiskan tiga tahun tambahan untuk proses ambil gambar.

Yang menarik, film ini diproduksi oleh Produksi Film Negara. Aroma Of Heaven adalah film pertama PFN setelah tidur panjang. Kerja keras mereka tak sia-sia. Selain bisa diputar di bioskop Blitz Megaplex (meski hanya dua hari saja), film ini juga diputar di Festival Film Cannes.

Aroma of Heaven
Thamar Becks, kehadiran perempuan kelahiran Belanda berdarah Madura dalam film Aroma of Heaven ini berperan penting hadirnya kisah yang tak lepas dari narasi sejarah, dulu dan kini. © Produksi Film Negara

Film ini dibuka oleh narasi Thamar Becks, perempuan kelahiran Belanda yang di nadinya mengalir darah Madura. Ia datang ke Indonesia karena penasaran tentang asal usulnya. Perempuan manis ini lantas tertarik tentang sejarah kopi di Nusantara. Lalu Aroma pun melakukan perjalanan jelajah kopi.

Cerita pertama berawal dari awal mula kopi di Indonesia sejak awal abad ke 18. Dalam Serat Centhini, sebuah karya sastra Jawa, dijelaskan sudah banyak orang yang ngopi kala itu.

Dari arsip VOC, dijelaskan kalau Van Hoorn, salah seorang petinggi VOC membagi biji kopi pada para petani pribumi di daerah Batavia, Cirebon, dan sekitarnya. Masih menurut sumber yang sama, kopi itu digudangkan di Jatinegara dan Priangan (Jawa Barat) lalu baru disebar ke banyak daerah lain. (Baca juga: Indonesia dalam Secangkir Kopi)

Pada 1724, persebaran kopi di Jawa sudah begitu deras. Kopi yang ditanam di tanah Jawa ini bahkan diekspor ke Eropa. Menurut catatan keuangan VOC, pada 1724, kopi dari Jawa yang diekspor ke Eropa jumlahnya lebih besar ketimbang kopi ekspor dari Yaman, negara yang konon mengawali persebaran kopi ke seluruh dunia.

“Bahkan di Eropa, kopi dikenal sebagai a cup of java,” kata Pujo Semedi, seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada yang jadi salah satu narasumber dalam Aroma. Tentang a cup of java ini bisa juga ditengok di buku “A Cup of Java” yang ditulis oleh Gabriella Teggia dan Mark Hanusz.

Dari Kolonialisme hingga Rasa

Secara khusus saya terkesima dengan pemaparan dari Pujo Semedi tentang kopi Indonesia. Ia begitu menggebu bercerita bagaimana kolonialisme sudah mengambil begitu banyak, bahkan terlalu banyak, kekayaan Indonesia. Termasuk kopi.

“Ya kopi yang dicampur jagung itu kan juga hasil dari kolonialisme,” kata Pujo yang merupakan Guru Besar Antropologi UGM ini.

Orang Indonesia pada masa itu tak bisa menikmati kopi. Emas hitam ini terlampau mahal dan mewah untuk mereka. Bayangkan, mereka tak bisa mengonsumsi apa yang mereka tanam dengan peluh berderas-deras.

Aroma of Heaven
Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) © Produksi Film Negara

Akibatnya, mereka mengumpulkan biji-biji kopi berkualitas jelek, bahkan busuk, lalu disangrai dengan jagung atau beras. Agar jumlahnya banyak, tentu saja. Walau tentu rasanya tak seenak kopi murni. Di daerah saya, Arjasa, Jember, saya masih menemui banyak orang yang minum kopi sangrai jagung ini.

Bahkan di Sumatera Barat, tepatnya di Tanah Datar, dikenal kopi kawa, alias kopi yang berasal dari seduhan daun kopi. Ini merupakan akal cerdik dari petani kopi di Tanah Datar yang ingin mengonsumsi kopi tapi tak mampu.

Lah, ternyata setelah Indonesia merdeka, kebanyakan dari keadannya nyaris tak berubah. Kopi berkualitas dari Aceh, Flores, Bali, Papua, hingga Jawa dijual ke luar negeri.

Orang Indonesia kebanyakan, mengonsumsi kopi kemasan. Padahal kopi kemasan itu kopi dengan banyak campuran dan biji kopinya diimpor dari Vietnam. Karena apa? Ya karena kopi dari Indonesia kebanyakan diekspor. Kalau mau kopi dengan kualitas bagus, ya harus pergi ke kedai waralaba. Kedai kopi macam ini membeli biji kopi dari Indonesia, lantas kembali menjualnya ke Indonesia dengan harga mahal.

Duh!

Untungnya, sekarang sudah banyak kedai-kedai lokal yang menjual kopi spesial dari banyak daerah di Nusantara. Mereka biasanya melakukan direct trading, membeli langsung pada para petani kopi di daerah. Mereka bisa memangkas pihak ketiga. Otomatis, harga kopi di kedai kopi lokal ini bisa lebih murah.

Harusnya, kedai kopi macam itu yang harus didukung lebih giat.

Dari Aceh hingga Flores

Aroma lantas beralih daerah. Sekarang menuju Pekalongan. Di daerah Doro ada sebuah pabrik pengolahan kopi. Pabrik ini punya satu cerita menarik. Pada 1878, Belanda membangun pipa penggelontor biji kopi yang tersembunyi di bawah tanah.

Pipa ini memang efisien dalam mengalirkan biji kopi ke bawah. Selain itu, biji kopi juga aman dari pencurian. Pipa ini masih dipakai hingga 1928. Itu tahun masuknya kendaraan bermotor ke Doro. Setelahnya, pipa itu tak lagi dipakai. Walau demikian, sampai sekarang pipa itu masih ada walau sudah tertutupi rimbun semak.

Setelah Pekalongan, Aroma terbang ke Gayo, Aceh. Ini daerah yang menjadi salah satu penghasil kopi unggulan.

Aroma of Heaven
Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) © Produksi Film Negara

“Petani Gayo menang nama, tapi tak menang dijual. Nama besar tak berbanding lurus dengan kesejahteraan,” kata Mahdi Usati, seorang coffee cupper asli Gayo. Kopi yang berkualitas bagus dijual ke luar, lantas orang Gayo membeli kopi sudah dalam bentuk bubuk atau kemasan dengan kualitas jauh di bawah kualitas kopi Gayo. “Ini ada kata pepatahnya: orang Gayo itu jual pisang, tapi lantas beli pisang goreng,” kata Mahdi tersenyum pahit.

Mahdi mengatakan, “Orang Gayo hidup dari kopi!” katanya. “Orang Gayo akan lapar jika tak ada kopi. Tak ada orang Gayo yang tak punya lahan kopi,” lanjut Mahdi.

Kopi memang bukan sekadar tumbuhan bagi orang Gayo. Mereka menempatkan kopi sebagai mahluk hidup yang sangat dihormati. Bahkan mereka memberi nama pada kopi: Siti Kahwa. “Lalu mereka dikawinkan dengan angin, jadilah kopi Gayo,” kata Mustasarun, seorang petani kopi di Gayo yang sudah puluhan tahun menanam kopi.

Kala musim tanam kopi datang, para petani kopi meriung di ladang. Tetua lantas membacakan mantra yang selalu dirapal waktu menanam kopi.

Bismillah / Siti Kahwa / kunikahen ko orom kuyu / wih kin walimu / tanoh kin saksimu / Lo kin saksi kalammu.

(Bismillah / Siti Kahwa / kunikahkan dikau dengan angin / air walimu / tanah saksimu / matahari saksi kalammu.)

Mustasaraun sudah serupa ilmuwan kopi tanpa sekolah formal. Ia paham banyak konsep biologi tanaman. Ia bahkan menceritakan soal rumus 12 berbanding 3. “Artinya kalau saya menyilangkan 12 jenis kopi, maka akan dapat 3 klon baru,” kata Mustasarun sembari tersenyum. Dedikasi Mustasarun tak tertandingi. Berkat keuletannya, ia kini punya 136 varietas kopi Gayo.

Aroma of Heaven
Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) © Produksi Film Negara
Aroma of Heaven
Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) © Produksi Film Negara

Di Gayo juga ada tradisi mengonsumsi kopi yang sangat unik. Dikenal dengan nama kertuf, atau kadang disebut kertup. Caranya: biji kopi yang sudah disangrai, digigit begitu saja. Lantas sesaplah air hangat, dan dipungkasi dengan menggigit gula aren.

Istilah itu lantas dijadikan nama untuk sebuah koperasi petani kopi Gayo. Namun namanya dimodifikasi sedikit: Qertoev.

Setelah Gayo di Aceh, tim Aroma menjelajah lagi. Dari Manggarai hingga Banyuwangi. Berbagai narasumber dimintai keterangan. Mulai dari profesional cuppers seperti Toni Wahid dan Tuti Mochtar; ahli kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Surip Mawardi; pemilik Philocoffee, Herdiansyah Suteja; hingga seniman Banyuwangi Hasnan Singodimayan.

Hasnan punya filosofi menarik bagi para perempuan yang sedang mencari jodoh. Dan masih berkaitan dengan cara sangrai kopi yang baik.

“Goreng kopi jangan terlalu gosong. Gampang pecah. Cari suami juga jangan terlalu ganteng. Nanti banyak ulah.”

Nah lho!

• • •Catatan Produksi
Judul AsliBiji Kopi Indonesia
Judul InternasionalAroma of Heaven
SutradaraBudi Kurniawan
Eksekutif ProduserShelvy Arifin
ProduserPapang Lakey & Nicholas Yudifar
Durasi65 Menit
Tahun Rilis2014
BahasaIndonesia, Belanda, Jawa, Sunda, Gayo, Osing
SubtitleEnglish
FormatDigital Cinema
Negara AsalIndonesia
ProduksiPerum Produksi Film Negara (PFN), Budfilm, Traffic Production & GoodNews Film

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.

  • Kepada Yth. Pak Nuran Wibisono,
    Terima Kasih untuk ulasan tentang film kami Aroma Of Heaven. Saya ingin mengoreksi satu hal terkait paragraf ketiga di mana disebutkan bahwa film ini diputar Blitz Megaplex yang benar adalah untuk 7 hari lamanya dan diputar di Festival Film Cannes adalah tidak benar, yang benar adalah trailer film ini diputar di Booth Indonesia pada Cannes Film Market 2014. Sekiranya agar menghindari kesalahpahaman atas fakta yang telah terjadi, mohon untuk koreksinya.

    Terima Kasih
    dan
    Salam Seruput.

    Nicholas Yudifar
    Produser