Armor Coffee: Kehangatan di Dataran Tinggi Bandung

Saya tidak pernah mengira akan tempat ini pada saat liburan singkat sabtu lalu, bersama teman-teman kuliah. Mengingat mereka cenderung lebih memilih ke tempat nongkrong atau kafe yang sekiranya akan mendatangkan puluhan “love” jika di-update di Path. Maklum saja mereka mengikuti perkembangan zaman—anak-anak gaul sosmed, eh padahal saya juga sama.

Teman saya, Faisal, yang sebenarnya menjadi peta berjalan bagi kami. Ia yang membawa kami ke tempat-tempat nongkrong cihuy di Bandung. Ia asli orang Bandung, jadi ia sudah hafal dan khatam di tempat-tempat per-nongkrongan-an di sana. Setelah berkunjung ke Farmhouse Lembang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Armor Coffee. Selama perjalanan mereka selalu menyebut, “yuk, ke Armor aja.” Selama perjalanan itu pula saya tidak mengira akan ke tempat minum kopi yang cukup berbeda. Yah, memang dalam liburan singkat ini saya lebih manut untuk kemana saja kemauan mereka.

Kami tiba di daerah Taman Hutan Raya Djuanda, Dago Pakar. Sebenarnya ketika sampai di lokasi, Armor Coffe itu tidak berdiri sendiri, banyak pula rumah makan yang menemani. Tempat parkirnya lebih menyerupai Warpat Puncak akan keramaiannya. Atmosfer hiruk pikuk pengunjung begitu terasa bahkan mulai dari parkiran.

Suasana outdoor Armor Coffee cocok untuk melepas penat bersama teman.
Suasana outdoor Armor Coffee cocok untuk melepas penat bersama teman. © Haris Prabowo

Tetapi ketika menuju lokasi Armor Coffee-nya, mata langsung dimanjakan dengan pemandangan yang begitu aduhai. Tak hanya udaranya yang sejuk, pemandangannya pun menyegarkan mata. Tempat duduk para pengunjung berada di outdoor. Pengunjung dapat merasakan segarnya udara di sana. Lengkap dengan meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu jati.

Tanpa menunggu lama, saya langsung menuju tempat pemesanan menu yang berada di indoor. Terdapat beberapa pilihan kopi seperti Robusta, Arabica, dan Liberica. Penciuman pun menunjuk Arabica sebagai penghangat tubuh, dengan menggunakan French Press. Tak sangka tak diduga, saya hanya membutuhkan Rp.20.000,- untuk menebus satu ceret kopi tersebut. Murah sekali, bukan?

Saya juga memesan Cireng Rujak seharga Rp. 30.000,- yang ternyata porsinya banyak sekali. Saya cukup keluarkan satu lembar uang berwarna biru untuk melunasi semuanya. Dan ada satu hal lagi yang membuat saya cukup terkejut, semua menu tersebut tidak dikenakan pajak sama sekali. Nominal harga yang ada di menu itulah yang harus dibayar tanpa ada tambahan pajak. Heran saya, ternyata masih ada tempat yang isinya digandrungi anak-anak muda namun tidak dikenakan pajak seperti tempat ini. Siapapun pemilik tempat ini, semoga Anda masuk surga!

Kopi Arabica dan Cireng Rujak pun akhirnya dihidangkan di meja saya. Sebenarnya Kopi Arabica tersebut tidak terlalu pahit, namun rasanya begitu asam selang dua-tiga detik. Dihidangkan ketika masih panas, menjadi minuman yang pas sebagai penetralisir tubuh dengan suhu yang cukup dingin. Cireng Rujaknya pun dihidangkan dengan keadaan hangat dan renyah. Santapan yang harus secepat mungkin dilahap mengingat Cireng akan menjadi sekeras sandal jepit jika sudah dingin.

Saya dan teman-teman menikmati sajian Kopi dan Cireng di udara yang cukup sejuk nan menyegarkan.
Saya dan teman-teman menikmati sajian Kopi dan Cireng di udara yang cukup sejuk nan menyegarkan. © Haris Prabowo

Tak hanya sajian nikmat itu saja kelebihannya. Tempat ini juga bisa menjadi lokasi yang yahud untuk narsis ala-ala anak muda zaman sekarang. Cocok untuk update, maupun untuk mengganti foto profil media sosial yang telah usang. Jadi tidak heran banyak pengunjung yang saya lihat betah berlama-lama nongkrong karena terlalu sibuk memenuhi foto di galeri handphone—padahal makanannya sudah habis.

Mungkin bagi masyarakat asli atau anak muda yang ngekos di Bandung, tempat semacam ini sudah bukan hal yang baru. Namun bagi mahasiswa Jakarta macam saya yang setiap hari harus melawan kerasnya Ibukota, tempat ini layak untuk dikunjungi berkali-kali.

Haris Prabowo

Penikmat buku, kopi, dan roti. Wartawan kampus di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aspirasi UPNVJ. Cinta dia setengah mati.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405