AriReda Tetap ‘Gila’ Pasca Sewindu Tanpa Album Baru

AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta 2
AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta © Niken Wresthi

Saya hampir percaya bahwa saya akan terus menikmati musikalisasi puisi garapan Reda Gaudiamo dan Ari Malibu lewat pemutar musik, sebelum sebuah poster konser tur mampir di halaman instagram. AriReda singgah di Yogyakarta.

Ini tentu kabar gembira. Maklum, bagi saya duet AriReda hampir jadi mitos. Saya mengenal Reda lewat duet Dua Ibu bersama Tatyana dalam album Gadis Kecil (2005), yang sejatinya saya dengar hampir bersamaan dengan album perdana AriReda, Becoming Dew, pada 2007. Keduanya berisi musikalisasi puisi mantan dosen mereka, Sapardi Djoko Damono.

Sayangnya, AriReda ini punya ‘kebiasaan’ khas musisi indie, membuat jeda yang cukup panjang dari satu album ke album lainnya. Pasca Becoming Dew, tak terdengar kabar kemungkinan adanya album kedua. Menyanyikan Puisi, album kedua mereka, baru rilis 8 tahun kemudian. Durasi yang hampir setara dengan lama studi S1 saya (eh). Praktis, pada seluruh masa perkuliahan saya yang membosankan itu, dua album ini jadi juara bertahan pada daftar putar musikalisasi puisi.

Tapi akhirnya tiba juga malam itu, Senin 16 Mei, ketika jalanan Jogja selatan masih basah diguyur hujan sesore. Anggap saja ini sambutan untuk kedatangan pelantun karya-karya penyair ‘spesialis’ hujan. Saya datang cukup awal untuk bisa berdiri di jarak terdekat dengan pintu aula Kedai Kebun Forum, tempat konser dilangsungkan. Dan saya berhasil mendapat saf terdepan.

Sekitar 45 menit lewat dari pukul 9, setelah menikmati petikan gitar Sisir Tanah dan Deugalih, dua siluet tampak memasuki pelataran depan aula. Seorang ibu dalam balutan tunik berwarna gelap dan laki-laki paruh baya dengan lengan kemejanya yang tergulung. Sampai di sini penonton sudah senyum-senyum sumringah, tapi riuh masih tertahan. Baru setelah cahaya kuning menyorot tawa lebar Reda dan Ari, tepuk tangan dan siulan mulai bersahutan.

AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta 5
AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta © Niken Wresthi
AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta 4
AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta

“Selamat malam, perkenalan dulu kali, ya. Biar nggak kebalik. Reda yang perempuan, dan Ari yang laki-laki. Saya ingat dulu ketika kami pertama tampil di Jogja, bahkan ada yang bilang kami pasangan suami-istri,” sambut Reda membuka interaksinya dengan penonton.

Jujur saja, agak aneh mendengar mereka memperkenalkan diri. Kesannya jadi formal dan berjarak. Tapi mendengar Reda bertutur tentang Menyanyikan Puisi dan konser tur yang mereka beri nama Still Crazy After All These Years ini, sambutan Reda jadi terdengar seperti apologi. Atau mungkin pelepasan rindu.

Sebab, 8 tahun sebelum malam itu, ketika saya masih gandrung dengan duet Ari-Reda pada album perdana Becoming Dew yang belum lama rilis, keduanya tak menyangka akan ada album kedua setelahnya. Saya suka istilah Reda yang menyebutnya ‘mati dengan damai.’

“Jujur, setelah menyanyi setahun bersamanya, saya yakin duet kami akan tamat dengan damai. Saya akan bekerja, ngantor, sementara Ari akan sibuk dengan dunia musiknya,” tulis Reda dalam selembar rilis berita yang dibagikan pada pemegang tiket.

Kejutan kedua adalah konser dalam bentuk tur, yang ternyata merupakan konser tur pertama duet yang beranggotakan musisi yang berusia lebih dari setengah abad ini. Tujuh hari berturut-turut, dimulai dari ibukota, AriReda menyanyi pada 6 even di 6 kota berbeda. Jogja adalah persinggahan yang keempat, mungkin sekaligus yang agak berbeda. Sebab selain satu-satunya kota yang konsernya direkam secara audio, AriReda juga menyeret Ricky Virgana, penjaga bass dan penggesek dawai selo White Shoes and the Couples Company, untuk berkolaborasi di panggung. Kabarnya Ricky hanya turut di Jakarta dan Jogja. Itu pun di luar rencana. Ricky yang kebetulan hadir di penampilan AriReda di Coffeewar di Jakarta berinisiatif mengiringi AriReda dengan permainan selo-nya, yang kemudian berlanjut di Jogja.

Saya tak begitu perhatian seperti apa penampilan AriReda di Jakarta. Karenanya kemunculan Ricky memaksa saya sedikit terkejut. Praduga saya, apa dia ‘hanya’ akan membetot bass mengiringi permainan AriReda. Tapi dugaan itu cepat hilang begitu kru membuka sarung selo dan menyiapkannya di sisi kanan level.

Dan benarlah. Pada sesi kedua konser, dengan suara Reda yang masih sama memukaunya dengan yang saya dengar sedari 8 tahun lalu, sayatan selo Ricky mengalun pertama kali di tengah lantunan Nocturno dari album Gadis Kecil yang legendaris itu. Siapa yang bisa menahan pekik dan tepuk tangan. Reda pun dibuat baper. Begitu Nocturno tuntas, perempuan yang menggantungkan selendang batik merah sebagai pemanis gaun hitamnya itu senyum-senyum kecil, menengadah sesekali, lalu melepas kacamata dan mengucek-ucek kedua matanya.

“Huh, padahal saya udah menahan nggak nangis, lho. Saya sangat suka selo, nadanya itu bisa bikin rontok,” gerutu Reda yang disambut tawa penonton.

AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta 3
AriReda, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta © Niken Wresthi

Selanjutnya, permainan Ricky masih terdengar pada 4-5 lagu setelahnya. Saya tak begitu hafal, tapi seingat saya hampir kesemuanya diambil dari album kedua, yang versi aslinya hanya diiringi gitar. Sampai di sini saya melakukan pembelaan untuk menghibur diri. Yo wis lah, nggak nonton AriReda di Festival Musik Folk di Malang juga nggak apa-apa. Setidaknya di Jogja ‘additional player’-nya nggak sembarangan. Apalagi dengan kuota 150 tiket dan tikar-tikar pandan sintetis untuk lesehan para penonton, konser AriReda jadi terasa lebih intim.

Oh, saya hampir lupa, ada 9 materi pada album kedua ini. Dan tak seperti album sebelumnya yang didominasi puisi Sapardi, AriReda juga menyuguhkan musikalisasi puisi dari penyair lain seperti Gunawan Muhammad, Abdul Hadi, Toto Sudarto Bachtiar dan MOZASA. Tapi syair ‘sang dosen’ tetap tak absen, tiga puisi diantaranya merupakan karya Sapardi. Salah satunya adalah Di Restoran yang sebelumnya hanya saya dengar dari rekaman-rekaman live.

AriReda seluruhnya menyanyikan 12-13 lagu, yang dibagi dalam tiga sesi. Sesi terakhir diisi dengan 5 lagu. Hanya saja didominasi lagu-lagu yang sudah cukup familiar. Termasuk Metamorfosis, Pada Suatu Hari dan dua lagu yang sepertinya paling favorit, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Yang terakhir ini jadi pamungkas konser tur Still Crazy After All These Years AriReda di Jogja.

Tak banyak lagu Paul Simon yang saya tahu, tapi Reda mengingatkan saya bahwa tajuk konser tur ini diambil dari salah satu judul lagu penyanyi folk yang nge-tren di era 70-an itu. Kabarnya Ari dan Reda muda juga gemar menyanyikan cover lagu-lagu dari Simon and Garfunkel.

Begitu konser usai, Still Crazy After All These Years melantun lirih mengiringi panitia berberes panggung dan penonton yang sibuk minta foto dan tandatangan. Ketika lagu memasuki bagian chorus, Reda turut bernyanyi sambil bergoyang pelan, menyibakkan selendang merahnya yang sedari tadi terkulai di balik lehernya, dengan senyum mengembang ia lantunkan ‘still crazy after all these years’. Ya, sebuah konser tur untuk duet musisi berusia kepala lima, kalian memang masih gila setelah 32 tahun berkarya dan setelah sewindu tidak mengeluarkan album.

Entah bagaimana hingga album Menyanyikan Puisi ini lahir. Reda hanya bertutur album kedua ini berawal dari proyek senang-senang, sebagaimana album-album sebelumnya, ‘kebiasaan’ kedua khas musisi indie.

“Ya, cuman buat dokumentasi aja. Biar anak-anak kami punya bukti ‘oh, ini lho, album ibu kami, bapak kami.’ Ya, nggak?” tutur Reda sambil melirik Ari yang sibuk pegang gitar dan rajin senyum tapi hemat bicara.

Jadi, akan ada lagi kah ‘proyek senang-senang’ selanjutnya. Yang jelas, mengutip kata Reda, mereka tetap bernyanyi, tidak sering, tidak rutin, tapi juga tidak terhenti.

Niken Wresthi

Penerjemah, penyuka kopi tubruk, dan sekarang sedang menyelesaikan studi linguistik (S2) di UGM.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405