Arabika Blue Tamblingan

Beberapa waktu lalu, sastrawan merangkap; pengusaha, peneliti, dan juga guru ngaji di Jogja, Mas Puthut Eko Aryanto. Secara gencar dan demonstratif, pamer Blue Tamblingan. Kopi yang berasal dari sekitar danau Tamblingan, Munduk, Bali.

Sebagai penggila kopi, tidak lain cuma bisa mangkel dan kemecer. Bajigur… Apalagi saat dia mengatakan ketersediaan kopi di tempat asalnya pun sangat terbatas. Baik lahan maupun produksinya. Ini jelas tambah bikin spaneng lagi. Orang kok hobinya melebih-lebihkan. Kalau basa jawanya: dolop banget.

Pesan langsung ke Bli Putu “Pemilik Kopi Munduk” via inbox juga tidak kunjung direspon, mungkin beliau enggak biasa mesenjeran macam anak muda. Akhirnya, setelah sekian waktu ngampet, saya menghubungi Mas Rizki di Kedai Miko (Minum Kopi) Jogja untuk minta dikirim (beli ya, jangan minta). Sore ini kiriman yang sangat dinanti pun datang.

Saya memesan kacang hijau sekaligus yang sudah disangrai. Pikiran saya sederhana, kalau saya kecewa dengan hasil sangrainya. Saya bisa memainkan profil sesuai dengan yang saya kehendaki di Jakarta. Banyak rumah sangrai bagus yang dapat dijadikan rujukan.

Saya Giling Kasar Kopi Blue Tamblingan dengan Profil Roasting Light to medium
Saya Giling Kasar Kopi Blue Tamblingan dengan Profil Roasting Light to medium | © Haryo Setyo Wibowo
Saya menyeduhnya dengan Aeropress
Saya menyeduhnya dengan Aeropress | © Haryo Setyo Wibowo

Tidak menunggu lama, prosesi penyeduhan segera dimulai. Pilihan alat seduhnya: Aeropress. Bagi saya, kelebihan alat tersebut mampu memunculkan karakter kopi secara keseluruhan. Dan benar, begitu terkena air panas, aroma harum gurih yang sudah keluar saat digiling, tambah menguat di seluruh dapur. Namun, saya tetap tidak berharap lebih rasanya akan seenak aromanya.

Sebenarnya, saya tidak paham juga sejarah biji tersebut sebelum diseduh. Apakah memang melalui pemrosesan natural yang dapat menghadirkan sensasi rasa anggur atau cara lain? Sambil menimang biji-biji seragam yang sepertinya memang disortasi sangat baik. Keinginan menyeruput segera semakin tak terkendali.

Dan, hasilnya melebihi ekspektasi. Rasanya segar dan bersih, tidak ngganjel saat ditelan. Roman, anak saya, menyebutnya lebih lugas, “Lebih enak daripada kopi yang di tiga kantong kertas ini (Gayo, Guatemala, Ethiopia), Pak”. Sheryl, dari kejauhan terlihat cuma mengawasi.

“Ini belum coba pakai alat lain atau cukup ditubruk, Rom. Bisa jadi akan lebih enak lagi”.

Saya lumayan beruntung, menikmatinya di saat puncak. Tiga sampai empat hari setelah roasting. Kedepannya, tentu saya menginginkan langsung meminum kopi ini di Munduk, Bali. Langsung dari sumber petani kopinya lengkap dengan suasana pendukungnya. Agendakan ya, Bun Tisye D Retnojati

Mengembang Sempurna
Mengembang Sempurna | © Haryo Setyo Wibowo
Rasa kopinya mengalahkan biji-biji dari rumah sangrai kopi terkenal
Rasa kopinya mengalahkan biji-biji dari rumah sangrai kopi terkenal | © Haryo Setyo Wibowo

Apakah saya terlihat berlebihan?

Kalau suatu saat anda belum dapat merasakan seperti yang saya gambarkan. Saya siap menyeduhkan untuk anda. Itu pun kalau bijinya tidak cukup sulit didapatkan.

Belajar dari Kopi

Konsumsi kopi saya per tahun kira-kira 8,6kg. Ini hanya sedikit lebih rendah dari konsumsi rata-rata orang Finlandia. Kok tahu-tahunya? Bagi sementara orang apa yang saya lakukan mungkin sedikit ribet. Mau ngopi saja ditimbang, suhu air pun diperhitungkan. Bukan apa-apa, semata untuk konsistensi rasa dan kesesuaian selera saja.

Tapi, ya, ini tidak seperti “NKRI Harga Mati”. Berpendapat sedikit beda pun bisa distempel makar. Terkadang saya merasa tidak perlu repot untuk nimbang. Untuk biji beratnya sedikit hapal (karena sering) dapat dikira-kira dengan sendok takar. Suhu air pun demikian. Sejumlah air yang berhasil dididihkan, didiamkan beberapa saat, lebih kurang sesuai dengan suhu yang kita inginkan.

Inti sebenarnya, proses penyeduhan juga merupakan bagian dari menikmati yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Ini tentu tidak berlaku untuk yang menikmatinya di kedai kopi. Kopi memberikan ruang yang cukup untuk kita nikmati dengan beragam cara.

Di awal-awal menemukan kegairahan ngopi tanpa gula. Sering memandang sebelah mata orang yang ngopi sambil cidak-ciduk gula yang sangat mungkin merusak keunggulan atau keunikan masing-masing kopi. Apa yang ingin dicari dari rasa kopi yang sudah kau pendam dengan manisnya gula? Begitu biasa saya membatin.

Single origin atau kekhasan dari tiap biji memang menjadi kekuatan utama arabika. Tetapi, kalau ada orang ingin menikmatinya dengan menambahkan susu, gula, bubuk kayu manis, dan vanila. Atas dasar apa kita melarangnya?

Juga soal apakah lidah kita arabika atau robusta. Di pasaran, harga arabika yang “kaya rasa” memang jauh meninggalkan robusta yang cenderung hanya mempunyai satu rasa. Tetapi itu bukan berarti jadi ajang penghakiman bahwa lidah robusta itu kurang pengalaman soal rasa, atau kita maki: ndeso!

Indonesia adalah salah satu penghasil robusta terutama di dunia. Banyak petani kopi menggantungkan kehidupan dari sana. Banyak orang terangkat derajat martabatnya dari biji demi biji yang dihasilkannya.

Di tangan para penyeduh handal, biji kopi kaya rasa yang dicampur dengan biji miskin rasa, hasilnya sering terjadi; hal luar biasa. Jauh lebih enak daripada biji arabika dicampur dengan biji arabika lainnya. Kalau diibaratkan itu seperti bertemunya kepandaian dan kebijaksanaan. Ilmu pasti pun tidak akan pernah berhasil memastikan.

Dalam hasanah perkopian. Tidak ada peran yang satu melebihi peran lainnya. Juru sangrai belum tentu lebih hebat dari barista. Barista belum tentu kalah hebat dari petani kopi. Interdependensinya sangatlah nyata. Tidak bisa salah satu hidup meninggalkan peran atau bahkan meniadakan yang lain.

Kita ini memang makhluk aneh. Ada lebih dari 70 jenis biji kopi, yang kita perdebatkan hanya arabika dan robusta. Ini seperti duel klasik topik: Islam vs Katolik. Padahal di bumi ini ada ribuan ajaran lain. Satu ajaran variannya bisa puluhan hingga ratusan.

Kita ngotot mengatakan enak arabika. Sementara kita tidak tahu variannya sangat banyak dan pengolahannya bermacam cara.

___

Kopi Blue-Tamblingan dengan teman makan pisang goreng
Kopi Blue-Tamblingan dengan teman makan pisang goreng | © Haryo Setyo Wibowo

Untuk kesekian kali, Blue Tamblingan, hadir di depan mata anda lagi. Kopi ini membuat saya Cinta Mati #3 (kek Mulan Jameela wae). Pertama cinta mati arabika, kedua cinta mati ngopi tanpa gula, ketiga cinta mati pada biji kopi dari birunya pemandangan Danau Tamblingan ini.

Saya perlu membuat disclaimer dulu. Ini bukan dalam rangka menjadi dolop, atau buzzer para petani kopi dari Munduk. Hampir semua prasyarat untuk membuat kopi ini menjadi kopi specialty memang terpenuhi. Ada keterbatasan, ada kerja keras, dan tentu saja kenikmatan nyaris sempurna.

Indonesia adalah surganya kopi. Ada banyak kopi yang bisa saja menggulingkan Blue Tamblingan. Kopi-kopi Sumatra mempunyai cita rasa membumi, kopi-kopi Jawa pasti juga menjanjikan kenikmatan luar biasa seperti halnya kopi-kopi dari pegunungan Papua. Tapi kali ini saya sedang tidak ingin berpaling.

Blue Tamblingan kali ini tidak memonopoli frame sendirian. Dia ditemani kepok goreng tanpa minyak. Ini tidak akan berbicara kesehatan tetapi soal kenikmatan. Karena pada dasarnya kesehatan sekedar bonus saja.

Ekspedisi Kopi Miko

Haryo Setyo Wibowo

Juru Seduh Rumahan

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com