Anton Maksum: Filsuf Kopi Dari Lampung

Anton Maksum filsuf kopi Bandar Lampung
Lihat Galeri
5 Foto
Anton Maksum filsuf kopi Bandar Lampung
Anton Maksum: Filsuf Kopi Dari Lampung
Anton Maksum filsuf kopi Bandar Lampung

© Neni Muhidin

Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu
Anton Maksum: Filsuf Kopi Dari Lampung
Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu

© Anton Maksum

Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu
Anton Maksum: Filsuf Kopi Dari Lampung
Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu

© Anton Maksum

Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu
Anton Maksum: Filsuf Kopi Dari Lampung
Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu

© Anton Maksum

Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu
Anton Maksum: Filsuf Kopi Dari Lampung
Rumah dan kebun kopi di Desa Kembalu

© Anton Maksum

Film Filosofi Kopi menampilkan sosok barista, Ben (Chicco Jerikho), yang mendalami kopi tidak saja sebagai minuman tetapi juga sebagai tanaman. Ben dalam film itu memahami kopi dari hulu hingga hilir. Tokoh yang diciptakan Dewi Lestari dalam cerita pendeknya itu di dunia nyata dapat kita temui di Bandar Lampung.

Jika sedang berada di Bandar Lampung, mampirlah ke Kedai Galigo di Pagar Alam, Rajabasa. Kedai teduh yang di bulan November 2017 ini memasuki tahun pertamanya itu, adalah hilir dari keseharian Anton Maksum (53 tahun).

Tidak hanya kedai, Anton mengemas produk kopi olahan dari yang bentuknya masih beras (green bean) sampai yang sangrai (roast bean). Bisnis di bawah bendera usaha CV. Nusantara Food itu menjual kopi jenis robusta dari kebun keluarga dan kerabat di Desa Kembalu, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, kabupaten penghasil panen terbesar kopi robusta di Provinsi Lampung.

Anton menyebut kopinya sebagai Fine Robusta. Kopi dirawat sejak dari kebun, saat dan setelah panen, penyimpanan, hingga saat kopi disangrai dan siap giling. Penyajian dari seduh manual pun dipelajari teknik dan triknya.

Teknik sangrai gerabah dipelajarinya sampai ke Banyuwangi. Anton berguru di Sanggar Genjah Arum yang didirikan Setiawan Surbekti. Anton berkisah tentang perjumpaannya dengan ahli kopi yang namanya sudah mendunia itu. “Saya harus bolak-balik ke sana dari Lampung untuk dapat ilmunya,” kata Anton. Teknik sangrai terbaik itu telah disandingkannya dengan sangrai mesin.

Kopi adalah masa silam bagi Anton. Lahir di Magelang, anak kedua dari enam bersaudara itu menjadi satu-satunya yang meneruskan warisan orangtua mereka sebagai transmigran dari Jawa Tengah yang hijrah dan menjadi petani kopi di Lampung Barat. Rumah masa kecil dan pohon-pohon kopi yang masih seperti sejak dilihatnya pertamakali dibawa orangtua pindah ke sana.

Tentang nama Galigo yang dipakainya sebagai merek dagang, Anton memang terinspirasi dari epos I La Galigo dari kebudayaan orang Bugis di Sulawesi Selatan. “Ceritanya panjang,” kata Anton sambil memperlihatkan stiker bungkus kemasan yang dipajang di meja stan perayaan hari kopi sedunia yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Provinsi Lampung di Kota Bandar Lampung (01/10).

Sajian varian kopi Galigo yang kesemuanya diambil dari petani kopi di Lampung
Sajian varian kopi Galigo yang kesemuanya diambil dari petani kopi di Lampung | © Neni Muhidin
Kemasan Galigo Coffee yang dijual menampilkan lengkap informasi kopi, mulai dari petani, proses pascapanen, hingga asal kebun kopinya
Kemasan Galigo Coffee yang dijual menampilkan lengkap informasi kopi, mulai dari petani, proses pascapanen, hingga asal kebun kopinya | © Neni Muhidin

Anton memang penyuka filsafat. Sebuah buku yang dia temukan dan segera dibacanya di perpustakaan saat duduk di bangku SMA di Ambarawa menginspirasi hidupnya. Buku itu dikenangnya dan diabadikannya dalam bungkus kemasan kopi. Buku berjudul: Dilema Usaha Manusia Rasional karya Romo Sindhunata. Dalam sebuah kesempatan bertemu penulisnya di Yogyakarta, Anton menghadiahi Sindhunata kopi produksinya itu. Sindhunata hanya tertawa. Kata Sindhunata dia aneh. Nama kok ditaruh di bungkusan.

Buku Sindhunata itu bermakna dalam buat Anton karena mengulas sisi lain manusia yang dibungkus topeng modernitas. “Ada suatu masa ketika saya mesti berbohong ke orang-orang kalau saya ini anak orang kaya. Saat itu, saya malu, minder kalau harus mengaku ke orang lain kalau saya ini anak petani.” Buku itu mengubah banyak hal dalam perjalanan hidup Anton selanjutnya.

Anton merasa harus kembali dan melakukan sesuatu untuk keluarga dan kerabatnya sesama petani kopi di desa yang dari ibu kota provinsi lama tempuhnya lima jam itu. Dalam sambutan pembukaan acara hari kopi sedunia di Bandar Lampung itu, Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo menyampaikan, ada 147 ribu kepala keluarga petani kopi di Lampung, dengan total lahan tanam kopi seluas 160.876 hektar. Empat dari kabupaten produsen kopi terbesar adalah Pesawaran, Lampung Utara, Tanggamus, dan yang tertinggi di Lampung Barat. Ada keluarga dan kerabat Anton dalam data perkopian yang disebutkan gubernur itu. Terlebih karena Kembalu adalah desa penghasil kopi robusta bermutu bersama desa tetangganya, Liwa.

Pengetahuannya tentang kopi dipraktikkannya di kampung halaman. Petani diedukasi. “Harus sudah jujur dari niat,” Anton berfilsafat. Tentang ini dia menyampaikan tentang pentingnya petik merah buah kopi dan metode pengeringan biji kopi di “para-para”. Prinsip adil juga dia terapkan dalam informasi kopi yang dia jual, bahkan sampai mencantumkan nama petani.

Di pasar kopi yang lebih luas, sebagai eksportir kopi, Anton, dengan nada suara dan raut sedih merasa telah berada di kenyataan pasar yang dia sebut “kasar” itu. “Konsumen tidak mau tahu kenapa rasa kopi kok bisa enak. Konsumen hanya mau tahu enak dan bila perlu murah.”

Pengetahuan kopi yang otodidak dari masa kecil itu bertemu dengan gairah filsafat yang kuat. Sebelum benar-benar kembali ke kampung halaman, pada 1985 sampai pertengahan tahun 90-an, Anton sempat berdomisili di Jakarta dan bekerja paruh waktu sebagai transkriptor di harian Kompas dan mengajar filsafat epistemologi di Universitas Tarumanegara. Anton adalah sarjana filsafat jebolan STF Driyarkara Jakarta.

Neni Muhidin

Pegiat literasi di Perpustakaan Mini Nemu Buku (PMNB) Palu, penikmat kopi, dan bercita-cita menulis feature tentang kedai kopi yang paling dekat dari stadion Old Trafford di kota Manchester.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com