Antara Manfaat dan Mudarat dari Minum Kopi

(Tanggapan tentang Fundamentalis Kopi)
Penyajian kopi dengan metode modern.
Penyajian kopi dengan metode “modern” yang dipercaya mampu memaksimalkan rasa dan aroma kopi. © Rivanlee A

Saya tertarik membaca tautan dari @KopiID yang muncul di timeline beberapa waktu lalu, tentang Fundamentalis Kopi yang Sebaiknya Tidak Anda Ikuti. Sebelum membaca, saya menduga-duga isi dari artikel tersebut. Apakah ada kisah terselubung dibalik fundamentalis kopi? Ternyata dugaan saya melenceng jauh. Puthut EA menjelaskan tiga hal tentang “aliran kanan” yang selanjutnya disebut gerakan fundamentalis.

Kalau saya tidak salah menangkap, fundamentalis aliran kanan adalah mereka yang mengampanyekan “pakem” dalam menikmati kopi. Pakem ini meliputi mereka yang minum kopi tanpa gula atau tambahan lain. Tiga hal kampanye ini tidak lain, pertama anjuran minum kopi tanpa gula, tidak minum kopi bubuk kemasan, dan kenikmatan kopi arabika.

Dari tiga hal tersebut, Puthut coba menegaskan untuk tidak taklid pada anjuran-anjuran yang selama ini disuarakan. Saya sepakat dengan Puthut, terutama pada hal ketiga di mana kita tidak harus melulu mengagungkan kopi arabika. Sebagai salah satu pengekspor kopi terbesar di dunia, Indonesia terdapat beragam jenis kopi, entah arabika entah robusta. Rasanya, keduanya “wajib” dicicip untuk menentukan mana yang pas di lidah. Tapi, ada hal yang mengganjal di pikiran saya ketika ajakan minum kopi tanpa gula dan tidak minum kopi saset ini disanggah. Bagi saya, dua hal ini penting terlepas dari kampanye yang berlebihan.

Saya sendiri heran, kenapa ajakan minum kopi tanpa gula dan tidak minum kopi saset lumayan kencang di kalangan penikmat kopi. Awalnya kampanye ini saya pikir sama seperti Walikota Depok yang mengampanyekan makan nasi pakai tangan kanan. Tapi saya terlalu dini menyimpulkan. Minum kopi tanpa gula yang berhubungan juga dengan tidak minum kopi saset, ternyata berkaitan dengan kesehatan.

Sampai saya bertemu dengan orang yang berkecimpung di dunia perkopian sejak lama dan menanyakan tentang hal ini. Ia bercerita tentang pentingnya minum kopi tanpa gula. Selain mengagung-agungkan khasiat kopi, ia juga jelaskan hubungannya dengan kesehatan jika minum kopi tanpa gula. Banyak sanggahan yang keluar dari mulut saya saat itu. Tentu, saya tak lantas percaya ketika barista yang mengaitkannya ke arah kesehatan.

Untuk lebih menjawab keheranan saya, selanjutnya saya andalkan paman Google dan menemukan artikel Want To Be Healty Drink Coffee Without Sugar (http://www.articlesofhealthcare.com/593/want-to-be-healthy-drink-coffee-without-sugar.html). Dalam artikel itu dijelaskan bahwa “To get a positive benefit of coffee, consumption once a day without sugar, because the benefits and the aroma will be maximal.”

Kandungan zat yang terdapat di kopi beragam, tentu yang paling mendominasi adalah kafein. Juga kandungan antioksidan yang dapat mengurangi depresi. Dalam jangka panjang, kandungan-kandungan ini dapat bermanfaat maksimal ketika kopi dinikmati tanpa gula. Sedangkan, mengonsumsi kopi saset yang terlalu sering justru lebih banyak mudarat daripada manfaat.

Tak lain, kampaye minum kopi tanpa gula dan menjauhi kopi saset adalah ajakan baik di mana peminum bisa menikmati kopi plus khasiatnya dan membawa pakem minum kopi ke arahnya. Tentu proses yang tidak cepat dan tidak bisa dipaksakan. Selebihnya, adalah perkara niat dan waktu bagi seseorang untuk benar-benar bisa menikmati kopi, dari mulai menggiling, menyeduh, hingga sesapan pertama kopi yang kita buat, tanpa gula atau susu.

Mas Puthut kapan-kapan ngopi bareng, ya.

Rivanlee Anandar

Peminum kopi yang tak lupa minum air putih.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405