Antara Iwan dan Kopi Itu

Iwan Fals - Orang Indonesia Perlu Yang Top
Iwan Fals – Orang Indonesia Perlu Yang Top

Malam baru saja menjelang di Probolinggo. Azan Isya dari masjid yang tak jauh letaknya berkumandang. Sementara gerimis tinggal rinai. Dari bangku belakang yang penuh sesak, saya melihat dua orang pengamen masuk dalam bis yang sedang melaju ke arah Jember ini.

Bis segera melaju, suara azan makin sayup terdengar digantikan suara pengamen. Seperti layaknya pengamen yang baik, mereka mencoba berkomunikasi dengan para penumpang. Salah seorang menyapa selamat malam, lalu “Permisi, numpang ngamen,” katanya. Sapaan itu tak panjang dan segera diakhiri, “Semoga yang memberi uang masuk surga, dan yang tidak memberi dibuka pintu hatinya.”

Lalu lagu pertama dimainkan. Ujung Aspal Pondok Gede gubahan Iwan Fals. Saya tak heran kalau lagu Iwan dinyanyikan oleh begitu banyak pengamen. Walau ada banyak lagu-lagu pop baru yang menyerbu, lagu Iwan seperti tak pernah lekang di kalangan pengamen.

Iwan memang menjadi dewa bagi banyak kelas proletar. Lirik-lirik lagunya yang kritis tapi mudah dipahami membuat Iwan diperlakukan selayaknya pahlawan.

Duo pengamen itu bersuara cukup merdu. Mereka begitu menjiwai, tipikal cara menyanyi dari hati. Lagu Ujung Aspal Pondok Gede berkisah mengenai kenangan akan kampung halaman. Rumah sederhana yang begitu menerbitkan rindu. Lalu segala kenangan akan kampung halaman akan dihancurkan, diratakan dengan tanah oleh buldozer yang angkuh. Lantas di tanah itu akan berdiri pabrik demi memuaskan nafsu konsumsi masyarakat kota.

Lagu ini terdapat pada album Sore Tugu Pancoran (1985). Saat itu Iwan masih belia, baru berumur 24 tahun (Iwan lahir tahun 1961). Iwan muda memang kritis. Dalam setiap lagunya, nyaris selalu ia berkisah tentang kehidupan masyarakat, yang dapat dikatakan, tertindas.

Jalanan macet. Hujan kembali turun. Saya melihat ke luar jendela bis. Entah kenapa saya jadi teringat Iwan muda yang lagunya sering diputar almarhum ayah di komputer. Ayah memang bukan penggemar Iwan. Ia lebih condong menyukai God Bless. Tapi ketika komputer bekas Pentium I yang dibelinya hanya memiliki beberapa folder lagu Indonesia, dan yang layak didengar hanya Iwan Fals, maka tak ada pilihan lagi. Setiap sore Iwan berdendang menemani ayah bermain solitaire hingga azan magrib menjelang.

Iwan muda jelas sangat berbeda dengan Iwan sekarang. Iwan muda berapi-api. Tampak liar dengan rambut gondrong dan kumis lebat. Kata-katanya tajam bagai pedang, membuat gentar kaum-kaum yang disemprotnya. Ketika bergabung dengan Kantata Takwa, kekuatannya jadi berlipat. Dengan W.S. Rendra, Sawung Jabo, Inisisri, juga Setiawan Djodi, mereka lah supergrup terhebat yang pernah dimiliki Indonesia. Bahkan hingga saat ini. Kerjasama mereka menghasilkan banyak lagu legendaris. Salah satunya Bongkar, yang galib dijadikan mars ketika para aktivis mahasiswa turun ke jalan menentang tiran.

Iwan yang sekarang? Saya tak bisa mengatakan ia menjadi lembek. Hanya menjadi lebih bijak, kalem, dan dewasa. Ia memangkas rambut gondrong beserta kumis dan cambangnya. Ia tak lagi berapi-api. Kalau dulu lagunya identik sebagai lagu protes, sekarang lebih ke lagu perenungan diri. Ketika dulu pada Iwan kita melihat api, sekarang Iwan tampak sebagai beringin yang rindang: teduh dan meneduhkan.

Hujan makin menderas. Pengamen terus berdendang. Kali ini lagu kedua, Kereta Tiba Pukul Berapa. Lagu balada ini begitu kocak. Menceritakan seseorang yang terburu-buru ke stasiun untuk menjemput teman. Saking terburunya, ia melanggar rambu lalu lintas dan ditilang. Sesampai di stasiun, kereta yang ditunggu ternyata terlambat. “Dua jam mungkin biasa” nyanyi Iwan dengan lirih yang komikal.

Saya pun demikian, menanti-nanti kapan saya sampai Jember.

* * *

Selain keteduhan ala beringin itu, ada satu hal lagi yang berubah pada Iwan: kompromi. Dulu ia tak pernah mau tampil dalam iklan komersil. Sekarang? Ia pernah tampil untuk iklan sepeda motor. Yang terbaru, ia tampil untuk iklan kopi Top Coffee, yang diproduksi oleh Wings Food. Iklan itu ditayangkan begitu masif.

Saya maklum. Top Coffee adalah merek baru dalam dunia kopi sachet di Indonesia. Saingannya berat. Pasar Indonesia sudah mengenal beberapa merek kopi kemasan. Mulai dari kopi tubruk hingga kopi dengan berbagai rasa. Karena itu, medan pertempuran untuk merebut pasar kopi sangatlah berat. Apalagi manusia modern cenderung membeli merek ketimbang produk.

“Manusia modern tidak lagi membeli barang, tapi mereka membeli merek,” ujar Bondan Winarno dalam artikel berjudul “Citra Itu Mahal” yang termaktub dalam buku Seratus Kiat: Jurus Sukses Kaum Bisnis.

Bondan benar. Produsen kopi yang meng-endorse Iwan tentu paham hal ini. Sebagai pemain baru dalam dunia kopi, mereka harus punya ujung tombak untuk menaikkan nama mereka dalam persaingan kopi. Bintang iklan tak boleh asal pilih, tentu bukan artis kapiran atau penyanyi dangdut murahan. Ikon adalah kewajiban. Akhirnya Iwan yang dipilih. Sebenarnya ada dua lagi bintang sinetron yang jadi duta Top Coffee, tapi saya tak akan membahasnya karena mereka tidak penting.

Jambore Nasional OI Ke-4, Jepara, 13-15 Juli 2012
Jambore Nasional OI Ke-4, Jepara, 13-15 Juli 2012
Jambore Nasional OI Ke-4, Jepara, 13-15 Juli 2012
Jambore Nasional OI Ke-4, Jepara, 13-15 Juli 2012

Iwan merupakan pilihan yang sangat tepat. Siapa sih orang Indonesia yang tidak mengenal Iwan? Rasa-rasanya bagai mencari jarum dalam jerami ketika mencari orang yang tak kenal Iwan.

Pangsa pasar utama yang dituju jelas: penggemar Iwan. Bukan tak ada alasan kenapa kalimat awal iklan Top Coffee berbunyi “Orang Indonesia…” Orang Indonesia memang bisa dimaknakan sebagai penduduk Indonesia. Tapi bisa juga diartikan sebagai basis fans Iwan yang bernaung pada komunitas bernama OI (Orang Indonesia), yang jumlahnya ratusan ribu, atau mungkin jutaan.

Ketika melihat Iwan menjadi bintang iklan kopi, saya mendadak berpikir nakal: bagaimanakah rasa kopi yang mengandalkan perpaduan kopi Robusta dan Arabika itu? Apakah begitu tidak enaknya hingga harus menyewa Iwan sebagai bintang iklan? Tidak cukupkah dua bintang iklan pendukung itu saja?

Lagipula selama ini saya lebih mengenal Wings sebagai produsen sabun cuci. Wajar dong kalau saya meragukan rasa kopinya? Pun, karena bukan penggemar berat kopi, saya heran begitu mengetahui ada kopi mix seperti itu. Saya penasaran dengan keberadaan kopi campuran itu.

Rasa penasaran saya terlunaskan ketika bertemu dengan Zainul Arifin, kawan semasa SMA yang sudah 4 tahun ini bekerja sebagai bartender di berbagai kafe di Bali. Dia pernah bekerja di Black Canyon, sebuah kafe waralaba besar dari Thailand, juga beberapa kafe lain. Dari penuturannya, saya tahu bahwa kopi campuran antara Arabika dan Robusta itu disebut dengan kopi blend. Blend Arabika menandakan lebih banyak unsur kopi Arabikanya ketimbang Robusta. Begitu pula sebaliknya.

“Sebenarnya, bagi orang yang bukan maniak kopi mereka akan memilih kopi blend. Mungkin karena tidak seasam arabika, jadi lambung bisa lebih menerima,” terangnya. Bisa jadi, faktor itu yang lantas dijadikan celah pasar bagi Top Coffee. Mereka lantas menyebut dirinya sebagai market leader atau inovator dalam hal produk kopi blend.

Tapi pada dasarnya, perpaduan antara kopi Robusta dan Arabika bukanlah hal baru di dunia perkopian. Kalau Anda melanglang ke daerah Brebes, sempatkanlah mencari kopi khasnya. Disebut dengan Kopi Nggliyeng, kopi ini juga merupakan perpaduan antara Robusta dan Arabika. Selain itu, pada beberapa forum jual beli kopi online, ada beberapa yang menawarkan kopi blend Robusta dan Arabika.

Dengan semua iklan yang begitu masif di televisi maupun media lain, entah kenapa sejauh ini, saya rasa, pemasaran Top Coffee tidak begitu lancar. Indikasinya jelas: susah saya temukan di Burjo. Burjo sendiri adalah sebutan untuk warung yang menjual bubur kacang hijau (ijo), namun pada perkembangannya menjual berbagai jenis makanan dan minuman.

Bagi saya yang berdomisili di Yogya, Burjo adalah indikator merek f&b (food and beverages) apa yang laris di pasaran. Merk yang tak tersedia di burjo bukanlah produk laris.

Merek kopi yang sering saya temukan adalah Nescafe (sudah pasti, karena merek ini salah satu market leader pasar kopi di Indonesia), Torabika, Kapal Api, dan juga Good Day yang bermain dengan market kopi rasa. Merek baru yang menjulang di burjo malahan Luwak White Coffee, yang promosinya tidak semasif Top Coffee. Dan yang jelas tak perlu membayar mahal untuk bintang iklan sekelas Iwan….

* * *

Konser nge-TOP bareng Iwan Fals & Band, Medan, 06 Agustus 2012
Konser nge-TOP bareng Iwan Fals & Band, Medan, 06 Agustus 2012
Konser nge-TOP bareng Iwan Fals & Band, Medan, 06 Agustus 2012
Konser nge-TOP bareng Iwan Fals & Band, Medan, 06 Agustus 2012

Entah apa yang salah dengan Top Coffee hingga —sepengamatan amatir saya— belum bisa melakukan penetrasi berarti ke pasar kopi Indonesia. Bukan wewenang ilmiah saya untuk menganalisa apa yang salah dengan strategi marketing Top Coffee. Lagipula saya terus memikirkan Iwan.

Entah apa yang membuat Iwan mau menjadi bintang iklan. Adagium, “yang abadi hanyalah perubahan” memang benar adanya. Iwan sudah berubah. Dari penampilan, lirik lagu, hingga pendapatnya mengenai iklan komersial. Iwan lantas dicibir banyak orang. Bagaimana bisa orang yang dinobatkan oleh majalah Times sebagai Pahlawan Asia pada tahun 2003, mau ‘menjual’ diri sebagai bintang iklan kopi. “Kopinya murah pula!” maki seorang simpatisan Orang Indonesia di sebuah artikel mengenai Iwan Fals.

Yang juga bernasib menyedihkan tentu lagu Bongkar. Dari semula menjadi lagu yang sangat politis dan garang, berakhir menjadi slogan iklan kopi. Saya jadi ingat Jim Morrison yang marah besar ketika lagu terlaris mereka Light My Fire akan dijadikan lagu iklan sebuah mobil. Padahal lagu itu ‘hanya’ berkisah mengenai pengalaman memakai drugs. Bongkar pada dasarnya, memiliki ‘derajat’ yang lebih tinggi ketimbang lagu Light My Fire. Tapi sejarah kelak akan membuktikan, Bongkar bernasib lebih buruk.

Yang juga membuat saya tercenung adalah kedua pengamen di depan saya ini. Mereka sedang menghitung receh hasil saweran penumpang bis yang lebih menghargai pengamen yang menyanyikan lagu Iwan ketimbang lagu tidak jelas dari band-band baru. Apakah mereka tak gusar karena Iwan jadi bintang iklan? Apakah mereka tak kecewa karena Bongkar berakhir menjadi slogan iklan kopi?

Saya tak tahu karena tak sempat menanyakan pada mereka. Mereka lompat dari bus bahkan sebelum saya berniat untuk menanyakan kegelisahan saya.

Hujan sudah reda. Malam semakin dingin. Saya jadi merindukan minum kopi hangat. Lalu muncul kembali lagi pertanyaan: apakah kedua pengamen itu minum Top Coffee?

Entahlah….

Sumber Foto:

https://www.facebook.com/TOPCoffeeIndonesia, Album Jambore Nasional OI Ke-4, Jepara, 13-15 Juli 2012 dan Konser nge-TOP bareng Iwan Fals & Band, Medan, 06 Agustus 2012.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Alya Maharani

    Nikmati saja 🙂

  • esai yang menarik, saya menikmatinya seperti meminum kopi di pagi hari

  • avrianpradiptya

    menarik mas.. saya sih mahfum dengan hal seperti.. usia dan kemapanan dapat menumpulkan idealisme siapa saja. tapi baiknya tidak perlu mencibir. itu siklus alam.. alami.. fase yang saya sukai dari bang iwan juga adalah iwan masa lampau.. toh itu bukan alasan saya untuk tidak menyukai ia yang sekarang..