American Style Coffee

Top Gear
Top Gear © Danu Saputra

Saat kawan saya membelokkan motor ke SPBU Terban di Jalan C. Simanjuntak No 17, Yogyakarta, saya mengira ia hendak mengisi bahan bakar. Namun saat mendekati mesin pengisian bahan bakar ia tak berhenti. Ia terus saja menarik gas sampai di tempat parkir yang berada satu garis dengan pengisian bensin.

Papan nama meriah terlihat di dinding tak jauh dari pintu. Top Gear: Coffee Shop, tertera dalam papan nama itu. Lengkap dengan gambar gir sebagai logo rumah kopi ini. Saya masih tak menyangka. Kalau saja di tengah-tengahnya tak ada gambar secangkir kopi dengan asap sedang mengepul, saya pasti akan mengira ini sebuah toko aksesoris otomotif daripada coffee shop.

Gir yang berfungsi sebagai penggerak pada mesin memang laiknya kopi bagi sebagian orang. Kopi seakan menjadi tenaga penggerak tersendiri bagi seseorang. Sebelum aktivitas harian dimulai, secangkir kopi acapkali di-sruput terlebih dahulu. Bahkan sebagian orang merasa kehilangan semangat memulai hari jikala tanpa meminum secangkir kopi terlebih dulu.

Saya terlebih dahulu memasuki lorong yang mengantarkan ke rest area SPBU Terban. Poster yang dipajang di lorong tangga mengesankan nuansa otomotif. Seorang perempuan yang berdiri di belakang meja kasir menyapa. “Ada teman atau sendiri, kakak?” Saya menjawab, sedang bersama seorang kawan tapi masih di bawah.

Dia lantas memberi saya alternatif pilihan tempat duduk. Bila saya mengambil ke arah kanan ada sofa dan beberapa alat musik yang bisa saya pergunakan. Bila ke sebelah kiri ada dua alternatif pilihan, saya bisa duduk di ruangan indoor atau outdoor. Saya duduk di ruangan indoor. Di dalam ruangan memang disediakan bagi para perokok. Ada pembatas yang terbuat dari kaca demi keamanan.

“Karena kopi dan rokok tidak bisa dipisahkan, maka kami berusaha tetap menyediakan ruangan bagi para perokok,” jelas Habi Burrahman, manajer Top Gear.

Di dalam coffee shop ini saya tidak punya gambaran sedang berada di rest area sebuah SPBU. Jika saja dari kaca jendela di samping tempat duduk saya tidak terlihat kendaraan bermotor sedang mengisi bahan bakar, maka saya pasti merasa sedang di sebuah coffee shop yang terletak di plaza atau mal.

Saat saya datang, sedang terjadi pergantian jadwal kerja. Para pekerja terlihat begitu banyak di dapur terbuka yang tak jauh dari saya berada. “Espresso, cappucino atau peaberry?” Saya diberikan menu andalan coffee shop ini. Saya ingin mencoba peaberry Jambi yang disajikan ala kopi tubruk. Peaberry lebih dikenal dengan kopi lanang. Kopi merupakan tanaman dikotil yang berkeping dua, namun tanaman kopi lanang hanya berbiji satu. Karena unik dan kuantitas yang sedikit, kopi lanang acapkali masuk sebagai kopi specialty.

Kopi pun tersaji tak lama kemudian. “Lebih enaknya kalau ditutup sekitar tiga menit,” kata Habi. Saya menuruti sarannya, karena dengan demikian maka proses penguapan tidak berlangsung. Dengan cara semacam ini seluruh aroma dan rasa kopi akan sempurna.

Tiga menit telah lewat saya membuka penutup cangkir. Bagian atasnya tampak tertutupi oleh bubuk kopi yang mengental. Saya mengesernya menggunakan sendok. Aroma kopi segar menyeruak. Saya menghirup aroma, kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit. Pahit yang terasa di lidah melebihi kopi yang biasa saya nikmati.

* * *

Coffee shop yang baru berdiri beberapa bulan lalu ini berusaha menyajikan kopi dalam keadaan segar. Karena itu kopi yang disajikan tidak disimpan terlalu lama hingga proses roasting. Hari ini roasting dilakukan, distibutor akan segera mengirimkan, dan satu atau dua hari kemudian kopi siap disajikan di Top Gear. Penyimpanan kopi sebagai persediaan memang perlu, namun banyak coffee shop, termasuk Top Gear berupaya untuk tidak berlama-lama menyimpan kopi. “Dalam dua minggu sudah dilakukan pergantian,” terangnya. Ini untuk menjaga kualitas penyajian. Dengan kopi segar yang disajikan aroma jadi lebih terasa.

“Kopi yang enak adalah kopi fresh,” kata Habi. Ia bercerita pengalamannya, bahwa dengan mengkonsumsi kopi segar dengan teknik penyajiannya benar, maka ia tidak pernah merasakan sakit maag setelah minum kopi. Tapi syaratnya sebelum minum perut sudah terisi terlebih dahulu. Kecenderungan gangguan lambungnya barangkali terjadi dengan meminum kopi instan yang disimpan dalam jangka waktu panjang.
American style
American Style © Danu Saputra

Menu spesial berusaha dihadirkan tiap bulannya. Bulan ini menu spesial yang ditawarkan ialah ceers coffee, dan mint vanilla. Untuk single origin selain peaberry, Java Arabica dan ada pula Aceh Gayo. “Single origin yang dihadirkan memang terbatas karena yang diusahakan adalah kesegaran ketika kopi disajikan,” jelas Habi. Kopi dari berbagai daerah seperti Mandailing, Papua, Bali, Toraja dan beberapa daerah lain tetap tersedia di coffee shop ini.

Coffee shop yang mengambil tema otomotif ini cenderung menggunakan American style dalam penyajian kopinya. “Karena teknik American style sangat jarang digunakan, dan kita mencoba menghadirkan berbeda,” terangnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh Italia masih kuat dalam modifikasi penyajian kopi. Namun di Amerika terjadi penyesuaian teknik penyajian kopi, meski tidak sampai keluar jalurnya. “Barangkali karena yang datang ke Amerika lebih beragam,” lanjutnya. Dalam teknik penyajian ini dibutuhkan teknik khusus supaya rasa pahit yang lebih keluar. Sedangkan dari segi teknik, ala Italia dan Australia cenderung menguatkan tingkat keasaman.

Espresso menjadi faktor utama dalam penyajian kopi secara modern. Dari espresso yang baik bisa dikembangkan ke berbagai variasi menu turunannya. Penyajian kopi dengan espresso memungkinkan kualitas ekstrak kopi dan aneka menu turunan tersaji maksimal.

Meskipun ada banyak kelebihan espresso, namun kopi ini masih sulit diterima masyarakat. Kebanyakan masyarakat masih heran bila disajikan kopi dalam bentuk beberapa puluh milligram saja. Habi bercerita pengalaman selama dia mengelola Top Gear. “Beberapa orang memesan espresso, namun minta gula. Ada pula yang ditambah air.”

“Di sini kami menyediakan cappucino klasik, barangkali mau coba,” kata Habi menawarkan. Boleh saja, kata saya. Tulus Dwi Saputra, sang kapten barista, segera membuatkan cappucino klasik. Beberapa saat cappucino dengan yang dihiasi gambar hati dan tulip pun tersaji. Saya merasakan rasa pahit kopi dan manis susu yang seimbang.

* * *

Interior Top Gear
Interior Top Gear © Danu Saputra

Saya berjalan untuk melihat-lihat apa saja yang ada di coffee shop ini. Menarik juga, selain ada beberapa alat musik yang bisa digunakan pengunjung, ada pula Desktop PC Area yang terdiri dari dua komputer yang terhubung dengan internet. Dua komputer yang tersedia ini bisa dimanfaatkan pengunjung yang tidak membawa laptop sendiri.

Beberapa televisi layar datar sedang menayangkan film Vanishing On 7th Street. Televisi itu biasa digunakan untuk nonton bersama para pengemar balap untuk menonton bersama Moto GP dan F1. Tempat duduk yang tersedia cukup membuat masing-masing pengujung bisa mengobrol dengan nyaman.

Ada pula podium tempat para juara balap menerima penghargaan dan karangan bunga dari wanita cantik yang saya lihat di televisi. Di podium yang disediakan sebagai aksesoris ini, pengunjung bisa melakukan sesi foto. Ya, walaupun tidak ikut lomba pacu motor pengunjung bisa mempunyai foto layaknya juara.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.