Ambisi Komite Nobel Sastra Memilih Bob Dylan

Gagasan ini sebatas otak-atik gathuk. Bukan telaah serius, tidak dilatari niat membincangkan mendalam kualitas sastrawi karya sang pemenang Nobel 2016 yang belum lama menghebohkan komunitas penulis dan pembaca sedunia.

Saya ingin memulainya dari hiruk pikuk yang sekilas tak terhubung kepada jagat sastra: Pemilihan presiden Amerika Serikat. Pemilu tahun ini merupakan anomali. Dua calon yang bertarung sama-sama dibenci untuk perkara berbeda. Hillary Clinton kerap dituding perpanjangan kepentingan korporasi multinasional dan mewakili semua imaji buruk status quo elit AS. Sementara Donald Trump —kita tahu— punya daftar kontroversi sekaligus blunder politik yang sulit dirangkum sekali duduk.

Persoalannya, suka tidak suka, AS sementara ini merupakan hegemon paling berpengaruh di bawah kolong langit kita. Seandainya Trump terpilih, era baru entitas hegemon global akan menyongsong; satu paket dengan kebijakan-kebijakan yang berdampak pada banyak manusia.

Di lain pihak, populasi penduduk muda —baik dari spektrum politik liberal, konservatif, hingga sosialis— menuntut adanya perubahan radikal tatanan ekonomi politik di AS. Suara kemarahan pada status quo ini meroketkan sosok Trump, serta nyaris menggagalkan peluang Hillary maju sebagai kandidat gara-gara kehadiran opa sosialis bernama Bernie Sanders.

Hasil pemilu AS, oleh karenanya, dinantikan banyak pasang mata. Sudah pasti akan muncul perubahan radikal di negeri itu, cepat atau lambat. Banyak kegelisahan mencuat. Terpilihnya Hillary belum menjamin suasana bakal adem ayem. Amerika sedang hamil tua oleh kombinasi pelbagai ontran-ontran domestiknya.

Komite Nobel Sastra tampaknya termasuk yang gelisah. Saya tertarik berspekulasi, bahwa terpilihnya Bob Dylan sebagai pemenang merespon momen transisi yang dijelang rakyat Amerika, sekaligus upaya Nobel mengirim pesan kepada penduduk dunia yang merasakan ekses politik kotak suara satu negara adi daya.

Bob Dylan
Bob Dylan | © www.wallpaperup.com

Saya sejak beberapa pekan lalu menyetujui sebuah rumor bahwa pemenang Nobel Sastra akan diprioritaskan untuk penulis (terminologi yang problematis setelah kemenangan Dylan) dari Negeri Paman Sam. Apalagi tanggal pengumuman pemenang mundur. Menandakan ada perdebatan panjang, yang sangat mungkin politis, antar juri. Mungkin belum tentu dari awal pemenangnya sudah ditetapkan Dylan. Bisa jadi komite tertarik pada Phillip Roth atau Don DeLillo. Soal kenapa bukan dua sosok sastrawan itu, akan diulas lebih lanjut di bawah.

Saya pikir wajar ketika Komite Nobel memilih sosok diharapkan mewakili kebutuhan simbolis terhadap nilai-nilai ideal yang seharusnya diacu dan dijadikan standar bersikap dari arena kebudayaan —sesuai ideologi institusi sebesar mereka. Nobel harus diakui punya kekuatan modal sosial menyodorkan sosok seniman panutan bagi pemilih AS maupun kita-kita yang menonton dari pinggiran.

Tepatnya —mengacu pada pemilihan sosok Dylan— menghadirkan pemenang Nobel Sastra yang pernah menjalankan peran sebagai penyambung lidah rakyat menghadapi masa-masa transisi. Dylan paling produktif di era 60-an. Sebuah era penuh gejolak; ada kemarahan anak muda, tuntutan perubahan tatanan politik rasis, pemerataan ekonomi, serta penolakan atas imperialisme gaya baru di Vietnam. Senafas belaka dengan apa yang sedang disuarakan oleh anak-anak muda yang marah di AS, dan kemudian berupaya membuat perubahan melalui dukungan pada Trump atau Sanders.

Dylan adalah seorang liberal individualis. Komitmen keseniannya yang terbesar tetap pada nilai kemanusiaan. Saat diwawancarai Majalah New Yorker pada 1964, Dylan merasa lelah ditarik dan dikotak-kotakkan oleh banyak kubu sepanjang pergerakan 60-an awal. Setidaknya, dia terbebani cap-cap yang disematkan kalangan liberal dan kiri baru. Dia tak mau mewakili orang-orang. Dylan ingin menjadi Dylan. Dia lebih nyaman disebut musisi folk sableng daripada aktivis kiri-kanan-atas-bawah, apalagi dicap penulis lagu protes.

Terlepas dari penolakannya atas peran sebagai juru bicara sebuah generasi, Dylan memang sempat menerima beban besar itu: membuat karya yang menyuarakan kegelisahan manusia lintas batas; kegelisahan generasinya.

Tugas mahaberat yang kita tahu pernah dipikul penyanyi Indonesia legendaris —yang jelas terpengaruh estetika Dylan— Iwan Fals. Takdir meminta sebagian kecil seniman merespon zaman. Dylan melawan kalangan elit, arsitek kebijakan perang dingin, serta semua simbol kemapanan; Iwan memberanikan diri mengecam pembangunan, kemunafikan, hingga budaya korup rezim otoriter pemegang bedil.

Sama seperti Dylan, pada akhirnya Iwan tak mau terus menanggung beban itu. Dia lebih ikhlas dicemooh sebagai pendukung pariwara kopi sachet.

Tapi tak bisa dinafikan, zaman peralihan butuh sosok berani. Mereka yang terpaksa mematutkan pemikirannya sebagai kompas moral orang lain. Panduan melawan kemapanan. Barangkali pemilihan musisi sebagai peraih Nobel Sastra adalah cara Akademi Swedia menyindir ketiadaan sosok serupa Dylan pada masa-masa genting yang sedang menghinggapi AS. Barangkali.

Toh, terpilihnya Winston Churchill — berkat naskah-naskah pidatonya merespon gejolak Perang Dunia II — menjadi preseden sikap politik serupa dari Komite Nobel sejak sekian dasawarsa lalu.

Di sisi lain, kepentingan yang lebih mudah terbaca dari Komite Nobel Sastra menyangkut politik estetika. Penghargaan Nobel, walau dibumbui citra global dan semua yang serba adiluhung itu, harus kita ingat dibentuk oleh alam pikir dan selera Swedia. Sebuah rezim pemikiran tertentu yang jelas-jelas tidak diniatkan mewakili kemajemukan gagasan di bumi manusia. Sastra Amerika saja sampai 2008 lalu, masih dianggap “terisolir dari pertukaran gagasan kiwari” oleh Ketua Komite Nobel.

Karenanya menganggap setiap keputusan Nobel sebagai barometer kesenian sastra (dunia) tentu saja prematur, kalau bukan serampangan.

Kendati demikian kita masih bisa menerka sudut pandang panitia Nobel tiga tahun terakhir dalam memilih pemenang, yang penuh cita rasa progresif. Perlu diingat, Alfred Nobel tak pernah mematok kriteria kelayakan karya seni tulis tertentu. Wasiatnya hanya mengharapkan komite memilih segala jenis tulisan dengan “nilai sastrawi yang memadai.”

Interpretasi bebas itu tampaknya yang dimanfaatkan secara maksimal oleh komite tiga tahun terakhir. Hasilnya juri memilih berturut-turut penulis cerpen, jurnalis, dan musisi. Dilengkapi wacana canggih menyokong pilihan mereka yang seakan lepas dari pakem. Bagi saya visi baru Komite inilah yang menyingkirkan Roth, DeLillo, McCarthy, dan penulis-penulis gaek lainnya (termasuk, hemhemhem, Murakami).

Artinya pembentukan cara pandang politik kesenian baru terkait cara tutur (medium) merupakan isu yang ditonjolkan oleh Komite Nobel. Perkara mencari alternatif bentuk penyajian sastra adalah kuncinya. Isu ini bisa saja berbeda kebutuhannya dari Indonesia dan negara-negara lain. Kita mungkin masih butuh lebih banyak lagi novel, cerpen, puisi, yang dicetak dan dikomunikasikan melalui tulisan.

“Silakan saja punya pendapat beda. Bagi kami yang sedang penting diwacanakan adalah kemungkinan memperluas definisi sastra,” begitu barangkali jawaban Komite Nobel kalau-kalau ada gugatan yang mampir.

Minat baca di Swedia dan negara-negara Barat lain mungkin masih tinggi. Tapi kita tidak bisa menafikan pesatnya penetrasi komunikasi audio visual masa kini. Snapchat dan Instagram digumuli lebih intens oleh khalayak dibanding buku. Sama saja antara Texas dan Jakarta. Stockholm dan Surabaya.

Komite Nobel terkesan tak ingin meratap-ratap saat merespon situasi kebudayaan yang semakin hari semakin visual serta gegas. Mereka ogah membuat seminar sastra memakai slogan kosong “quo vadis sastra kita?”

Yang penting bagi Komite Sastra tampaknya menjamin keberlanjutan tradisi bercerita tentang serba-serbi manusia. Narasi yang memiliki nilai sastrawi. Nilai Sastra ala Nobel beda dari Pulitzer, Kusala Sastra, dan bejibun kanonisasi lainnya. Perkara nilai ini topik yang berbeda.

Jurnalisme agaknya lebih dulu menerima perluasan cakrawala baru ini. Semua pihak sepakat jurnalisme berkualitas tetap dibutuhkan publik. Hanya saja, jika artinya seorang wartawan tak cukup lagi hanya pandai menembus narasumber dan menulis; namun juga wajib memiliki kemampuan olah data, sedikit penyuntingan video, serta bahasa program, itu tak jadi soal. Ya itulah kebutuhan zaman, jurnalis harus mengikuti.

Kembali lagi soal pilihan medium sastra; pembukaan kemungkinan-kemungkinan baru inilah yang perlu kita antisipasi di masa mendatang. Setidaknya dari Komite Nobel. Mereka sudah bersikap: saat aksara tidak lagi memadai menyodorkan nilai-nilai sastrawi, pelaku kesenian dari medium lain patut disertakan sebagai panutan.

Sangat bisa diterima seandainya tahun depan giliran penulis skenario film/serial terpilih sebagai pemenang Nobel Sastra. Sutradara Iran Asghar Farhadi atau Dardenne Bersaudara dari Prancis, ambil contoh, punya rekam jejak skenario yang bila dibukukan mutunya saya kira tak kalah dari produk-produk sastra kontemporer. Munculnya pemenang Nobel sastra dari kalangan seniman film saya pikir tinggal tunggu waktu. Penulis kuat di blantika sastra Indonesia pun sebagian menulis skenario film/FTV.

Begitulah. Ada pertarungan wacana yang sedang disulut Komite Nobel. Bob Dylan merupakan sosok sesuai kriteria, sebangun dengan gagasan besar yang sedang disemai. Dan memang selalu seperti itu kanonisasi ala Nobel, setiap waktu, setiap saat.

Soal peminat dan pegiat sastra Indonesia perlu ikut terlibat atau tidak dalam alur perbincangan yang sedang dimoderatori para intelektual kebudayaan di Swedia sono, adalah topik kajian lain yang sebaiknya mendapat porsi bahasan tersendiri. Tentu bobotnya wajib lebih serius dari catatan kecil ini.

Ardyan Mohamad Erlangga

Jurnalis mukim di Jakarta. Hanya suka kopi arabika.