Aksi Melawan dengan Menanam Cengkeh di Tanah Turgo

Sore di penghujung bulan Mei (31/5/2017) lalu jadi pengecualian yang menyenangkan. Sepulang dari aktivitas rutin dari Kotagede Yogyakarta, saya bertolak jauh menuju Turgo. Jaraknya cukup panjang, tentu saja. Terlebih lokasi tujuan meleset dari perkiraan semula. Saya kira lokasi tertuju berada di sekitar jalan Kaliurang dekat UII (Universitas Islam Indonesia), dan ternyata bayangan itu salah.

Butuh waktu sekira 30 menit untuk sampai di Turgo, dari jalan kaliurang km12. Turgo merupakan dusun yang terletak di Kecamatan Pakem, Sleman. “Lewat Jalan Kaliurang,” ujar seorang kawan memberi petunjuk arah terbaik untuk sampai sana.

Dua malam sebelum lawatan cukup jauh itu, kabar acara “Tribute to Kretek” melayang ke kotak pesan gawai saya. Tempatnya di gedung PAUD Nurul Hikmah di dusun Turgo dan diselenggarakan oleh Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

Sekilas pandang pada poster acara, seketika itu pula saya tertambat pada tema menantang yang diusung KNPK dalam tiga kata, “Menanam adalah Melawan.”

Sesi diskusi selepas tarawih Tribute to Kretek
Sesi diskusi selepas tarawih Tribute to Kretek | © Rifai Asyhari

Ternyata, menanam tak sesederhana menabur benih di atas tanah lalu menunggu beberapa tahun sampai batang pohon membesar dan akhirnya bisa dipanen. Menanam juga dimaknai sebagai laku melawan pada kekuatan besar yang sewenang-wenang. Dalam ranah kretek, pelestarian produk lokal itu berarti menantang serangan tembakau impor dan wacana anti kretek yang memojokkan petani tembakau, juga cengkeh.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah menyebutkan, 150.000 ton tembakau impor menggempur pasar Indonesia pada 2016 lalu. Buruknya lagi, jumlah itu setara dengan 60% tembakau yang tersebar di pasaran. Padahal angka produksi tembakau Indonesia menempati urutan keenam terbesar dunia.

Gagasan itu terlontar dari Toto Rahardjo melalui orasi budaya tanpa judul yang ia sampaikan di permulaan acara. Ia membacakan orasi budaya dengan santai sebagaimana seorang penceramah di surau. Duduk bersilah di hadapan peserta diskusi menggunakan sarung, dan diselingi dengan cerita kehidupan pribadi, sesekali.

“Sebelumnya saya pernah didakwa kena stroke dan dilarang merokok. Saya berhenti. Namun kembali merokok setelah bertemu Dokter Iman. Itu adalah hari kemerdekaan saya untuk kembali merokok. Dokter itu seperti ‘mesias’ buat saya.”

Bagi Pak Toto pelarangan kretek, merokok, dan segala turunannya, adalah sebuah kemustahilan yang patut ditertawakan. Tidaklah mungkin memberantas komoditas yang masih jadi kebutuhan rakyat seperti kretek.

Akan tetapi, Pak Toto tak seegois itu dengan hanya berkelakar sepanjang orasi. Sebagai budayawan, pandangan soal kretek melebar pada soal tata kelola hidup masyarakat. “Sejauh apa kuasa rakyat pada akses tanah dan kebebasan menanam?” pertanyaan tajam seperti itu tidak untuk dijawab langsung oleh peserta, tentu saja.

Pak Toto berorasi selama satu jam, dan mengakhirinya pada pukul 20.28 WIB. Orasi yang menyenangkan lantaran Pak Toto banyak melontarkan refleksi yang tangkas tetapi menghujam. Sepenuh kerelaan diri, saya mendengar dengan seksama sejak pertanyaan pertama ia ajukan, “Sejak kapan diskursus pro kretek dan anti kretek bergulir?”

Begitulah cara saya mengingat beberapa detail dari budayawan sepuh Jogjakarta itu. Acara “Menanam adalah Melawan!” yang dihadiri banyak cendekiawan, wartawan, dan para penulis itu tak sesederhana ajang diskusi biasa yang seringkali mengumbar pertanyaan-pertanyaan tak penting. Acara ini adalah bentuk perlawanan terhadap Hari Anti Tembakau yang jatuh pada tanggal yang sama, 31 Mei. Ada dua sesi lain yang saya ikuti.

Nurhady Sirimorok bicara soal Harta Milik Bersama
Nurhady Sirimorok bicara soal ‘Harta Milik Bersama’ | © Rifai Asyhari

Tiga jam sebelum orasi Pak Toto bermula, 1.000 pohon cengkeh ditanam bersama. Tapi bukan seribu dalam arti harfiah, tentu. Menanam seribu pohon dalam sekali waktu adalah usaha muluk-muluk jika melihat sisa waktu sore itu hanyalah satu setengah jam sampai saat berbuka puasa. Sementara jumlah peserta yang hadir tidaklah memadai untuk menanam dalam sekali komando. Alhasil, hanya sepuluh akar pohon cengkeh yang secara resmi ditanam hingga saat senja menjelang.

Sementara 990 pohon lainnya berjejer anteng menunggu giliran. Jumlah sebanyak itu akan dibagikan pada warga Turgo untuk ditanam di tanah masing-masing. Udara di Turgo cukup dingin untuk membesarkan cengkeh secara sempurna. “Tahun ke empat sudah bisa panen.” Ujar seorang pria yang tak sempat saya ketahui namanya.

Memang, tak banyak orang yang saya kenali hari itu. Hanya beberapa penulis dan aktivis yang saya kenal melalui media sosial karena tulisan atau konsistensi pergerakan mereka. Sebuah kemalangan bagi saya yang tak banyak berinteraksi dengan mereka. Saya hanya bisa menyebut beberapa nama yang familiar dan saya sering ikuti tulisan dan aktivitas mereka seperti: Pak Toto Rahardjo, Mas Hairus Salim, Puthut EA, Kyai Majidun, dan Joko Prianto.

Toto Rahardjo mengawali acara simbolik menanam seribu pohon cengkeh
Toto Rahardjo mengawali acara simbolik menanam seribu pohon cengkeh | © Rifai Asyhari
Joko Prianto tengah menanam pohon cengkeh
Joko Prianto tengah menanam pohon cengkeh | © Rifai Asyhari

Nama terakhir yang saya sebut tadi ikut ambil bagian menanam satu pohon cengkeh di bawah langit sore Turgo. Ia menguruk lubang pohon dengan sempurna. Tentu saja Joko Prianto sosok yang pantas mewakili momen Menanam adalah Melawan!

Saya mengenali Joko sebagai aktivis pergerakan warga Kendeng dari Kota Rembang. Kali itu ia tak hanya menanam pohon, tapi juga didaulat menjadi pembicara di sesi diskusi setelah orasi kebudayaan Pak Toto Rahardjo.

Bersama Nurhadi Sirimorok dari Makassar, Joko menggotong cerita perlawanan Petani Kendeng yang melibatkan dirinya selama bertahun-tahun. Ia juga bertutur soal ketahanannya membela kepentingan rakyat selama ini. “Saya pernah dapat ancaman dibunuh, diculik, dan dihadang ratusan preman,” kata Joko membeberkan rintangannya selama melawan.

Semua hal intimidasi tersebut tak menjadi soal, karena satu prinsip yang selalu ia genggam. “Urip ora njaluk, mati ora daftar,” ujarannya disambut tepuk tangan riuh peserta.

Datang jauh dari Makassar, Nurhadi turut membincangkan fenomena umum di kalangan masyarakat. “Selama ini warga desa hanya bersatu untuk keperluan acara seremonial sesaat. Tapi tak pernah bersatu untuk membahas persoalan ekonomi dan politik,” kata Nurhadi. Itu memprihatinkan, menurutnya.

“Warga harus punya harta milik bersama,” jelas aktivis dari pulau Sulawesi itu. Kepemilikan harta bersama adalah poin penting yang ia tekankan berulang kali selama menggenggam mikrofon.

Lewat kepemilikan bersama, solidaritas rakyat untuk kedaulatan ekonomi akan tercipta. Begitu kesan yang tertangkap dan saya bawa pulang usai acara. Tribute to Kretek selesai tepat pada jam sepuluh malam.

Suhu dingin di Turgo kian meningkat. Saya kembali pulang dengan menunggangi motor, tapi kali itu tidak sendiri. Ada dua kawan turut serta menemani perjalanan pulang. Diskursus baru soal pentingnya membela kepentingan petani kretek terus terngiang di kepala saya hingga sekarang. Cengkeh adalah salah satu komoditas penting untuk terus dilestarikan, karena kegunaannya yang sangat banyak dan penting untuk dunia kesehatan, terutama untuk bahan baku kretek. Anehnya kaum anti tembakau selalu mencibir bahwa kretek sifatnya merusak, tapi tak benar-benar tahu susahnya perjuangan para petani dan manfaat bahan-bahan di dalam racikan kretek. Menanam adalah salah satu bentuk melestarikan alam dan bagian dari melawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro pada petani.

Rifai Asyhari

Mahasiswa Komunikasi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Menggemerai begadang dan bangun siang.