Ajakan Berontak Anton Ismael

Siswi SMA duduk di atas motor tua dengan tangan kanan memegang rokok dan tangan kiri berkacak pinggang. Tepat di belakangnya berdiri sosok berbusana wayang orang dengan wajah yang tak tampak. Sosok yang entah gaib, entah tidak. Karya foto itu berjudul “Membolos”. Di sebelahnya terpajang foto perempuan berpakaian pekerja kelas menengah kota yang menatap ke kejauhan. Sosok Ibu tua dengan kebaya, kain rumahan, dan sapu ijuk di tangan, memegang pundak si perempuan dari belakang. Karya foto ini berjudul “Merantau”. Kedua karya mencoba menyampaikan pesan bahwa siapa pun dirimu sekarang, apa pun yang kau lakukan, di mana pun kau berada, sebuah bayangan akan selalu mengikutimu, berusaha mendefinisikanmu, mempengaruhi pilihan-pilihanmu. Sebuah bayangan dari masa lalu; orang tua, nilai, pengalaman masa kanak-kanak, rumah masa kecil.

“Membolos” dan “Merantau” ada di antara enam belas karya Anton Ismael, seorang fotografer dan pengajar, dalam pameran bertajuk “Rumah” dengan kurator Ade Darmawan. Dalam masa pameran, sekali waktu salah satu murid kelas fotografi Anton akan menemani pengunjung dan menjelaskan hal-hal yang coba disampaikan gurunya melalui karya foto, mixed media, dan instalasi. Dari sang pemandu saya mengerti bagaimana melalui karya, Anton mencoba mengajakmu melihat kembali imaji akan rumahmu di masa lalu, dan bagaimana imaji-imaji itu dihadapkan dengan pandangan-pandangan serta kenyataanmu sekarang.

Kenangan akan rumah sering dilihat secara romantis dan melankolis. Pekarangan tempat kau berlari dengan kaki telanjang dengan latar suara ibu yang menyuruhmu mandi, atau tempat di mana Bapak menemukan koleksi majalah pornomu dan tetap memberimu permakluman. Rumah masa kecil adalah tempat yang kau kenang dengan senyum manis.

Sungguhkah selalu begitu?

Suasana Pameran “Rumah” oleh Anton Ismael
Pameran “Rumah” oleh Anton Ismael © Teddy W. Kusuma

Anton Ismael lahir di sebuah tempat di Jawa Tengah di mana lima gunung mengelilinginya. Saat Anton kecil bermain di halaman, Gunung Telomoyo, Merbabu, Merapi, Manoreh, dan Sumbing ada dalam pandangannya. Imaji akan gunung masuk jauh lebih ke dalam. Ruang tidurnya berisi lukisan gunung, ruang keluarganya berisi foto gunung, teman-teman sekolahnya menggambar gunung, ia pun ikut mengisi kertas gambarnya dengan dua segi tiga yang membosankan itu. Bahkan sekarang, saat Anton meminta anaknya menggambar apa pun yang ia mau, si anak — tentu saja — menggambar gunung.

Perkara gunung ini, kemudian ia lihat sebagai simbol untuk melihat rumah dengan cara yang lain. Selain segala kebersahajaannya, rumah juga sebuah dogma. Ia adalah tempat di mana nilai ditanamkan padamu setiap hari, tanpa kau bisa memilihnya; Agama, tata perilaku, cita-cita, dan lain-lain. Seperti gunung yang bahkan masuk ke ruang-ruang privat dan alam bawah sadarnya, demikian pula rumah, juga orang tua.

Karya-karya Anton mengajakmu melihat rumah dengan cara yang berbeda.

Sebuah gambar menunjukkan hamparan sebuah kain menyerupai taplak meja warna-warni. Di salah satu bagiannya terdapat sobekan yang memperlihatkan sebuah puting, entah lelaki, entah perempuan. Meja makan konon adalah tempat berkumpul keluarga yang hangat, sementara puting adalah bagian tubuh yang dianggap tabu untuk diperlihatkan. Karya ini, menurut pemandu pameran, mencoba menyampaikan bahwa ruang makan, tempat di mana keintiman keluarga dirayakan, dapat juga menghadirkan pengalaman kekeluargaan yang berbeda. Meja makan dapat menjadi sebuah tempat penghakiman. Betapa pilihan pacarmu payah, cara berpakaianmu semakin kacau, agamamu belum benar, dan kau mulai jadi pembangkang. Meja makan, tempat yang bersahaja itu, dapat merupakan tempat di mana dogma dan doktrin ditanamkan di kepalamu. Setiap hari, sepanjang musim.

Pemberontakan akan dogma dan kungkungan masa lalu lantas menjadi narasi dalam karya-karya yang dipamerkan. Ada gambar gunung yang terlihat sengaja dirusak, seolah menyampaikan bagaimana doktrin masa lalu hendak dihapus. Dalam video rekaman wawancara Anton dengan beberapa anak muda, para pemuda menyampaikan keinginannya untuk tetap mendapat ruang pribadi untuk tumbuh tanpa campur tangan berlebih orang tua. Beberapa karya bahkan menampilkan pemberontakan yang terkesan brutal. Karya berjudul “Potret Nenek” menampilkan wajah seorang perempuan tua dengan cipratan cat menyerupai tembakan di jidatnya. Tentang karya ini, katalog pameran menempatkan kutipan:

Apa kabar bu? Semoga engkau baik-baik saja.
Maafkan saya, tapi kali ini saya akan melakukan dengan cara saya

Ada perlawanan di sana, juga amarah.

“Potret Nenek” dalam Pameran “Rumah” oleh Anton Ismael
— // © Teddy W. Kusuma

Namun demikian, perkara mengenang rumah ini tidak akan pernah hitam dan putih belaka. Ia selalu memiliki kerumitan-kerumitan, juga dilema. Bahkan dalam kebrutalan pemberontakannya, Anton sepertinya tetap memberi ruang pengakuan terhadap totalitas cinta orang tua terhadap anak. Sebuah karya instalasi berupa tiga gulung kertas toilet menempatkan tiga foto orang tua di ujungnya. Karya ini mencoba menyampaikan bahwa, bagaimana pun, orang tua akan selalu rela berada di depan untuk membersihkan segala kekacauan yang mungkin kau buat.

Kenangan akan rumah yang kompleks ini menyebabkan pengunjung pameran dapat memiliki memiliki reaksi yang berbeda.

     “Nggak mesti segitunya, sih,” kata seorang pengunjung, pemuda yang menenteng tas blacu, saat ia menatap “Potret Nenek”.

     “Kau yakin? Coba kau pikir lagi,” kata temannya

Pemuda dengan tas blacu mungkin memiliki masa lalu yang manis, dengan meja makan keluarga yang selalu diisi dengan interaksi yang hangat dan terbuka. Karenanya ia merasa pemberontakan Anton sedikit berlebihan. Sementara temannya mungkin memiliki kenangan yang lebih ruwet, sehingga ia merasakan keterhubungan dengan karya yang dipamerkan. Saat berpindah ke karya yang lain, mereka tampak masih memperdebatkan sesuatu.

Anton tampaknya menyadari betapa pengalaman seseorang akan rumah dan masa kecil akan sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Justru pengalaman yang dapat beraneka ragam itu pula, salah satunya, yang memberikan gagasan baginya untuk mengerjakan pameran ini. Karenanya, pameran juga menyediakan ruangan bagi pengunjung untuk mengekspresikan bagaimana mereka mengingat rumahnya masing-masing. Kertas-kertas kosong, plastik transparan, serta cat berbagai warna tersedia bagi pengunjung untuk berkreasi secara bebas. Maka muncullah sebuah ruangan dengan warna-warni ekspresi, ungkapan cinta, ungkapan marah, ucapan rindu, dan sebagainya.

Karya Anton Ismael dalam Pameran “Rumah”
— // © Teddy W. Kusuma

Beberapa darimu datang ke pameran seni untuk berfoto bersama karya, atau meminta kawan mengambil foto dirimu yang sedang tepekur menatap karya dengan wajah berpikir. Pameran ini, saya kira, akan memberimu lebih dari itu. Ia menyentuhmu dalam titik yang personal. Titik di mana kau menyimpan memori masa kanak-kanakmu, apa pun bentuknya. Memori yang, suka atau pun tidak, membentuk siapa dirimu hari ini.

Fokus pameran ini jelas tidak melulu soal teknis fotografinya. Anton memberikan pengalaman yang lebih kepada pengunjungnya, pengalaman yang sangat pribadi. Karya-karyanya dapat memantik emosi, baik melankolis mau pun sedih, atau memicu perdebatan bagaimana kenangan-kenangan itu hendak ditempatkan. Apa pun itu, ia akan menciptakan dialog-dialog yang kontemplatif, dengan diri sendiri atau teman, seperti pengunjung dengan tas blacu dan kawannya tadi. Saat beranjak dari ruang pameran, sebagian pengunjung akan berpikir untuk menelepon, entah ibu atau bapaknya, lalu berbicara hal-hal mendalam, soal masa lalu, ajakan makan bersama, atau mungkin, sekadar pertanyaan kabar. Sebagian yang lain, yang bayangan dan tekanan masa lalu membuatnya sesak nafas, akan pulang dan merasa betapa Anton memahaminya.

Pamerah “Rumah” oleh Anton Ismael dengan Kurator Ade Darmawan berlangsung di Ruci Art Space, Jakarta Selatan, 1 April – 15 Mei 2016

Teddy W. Kusuma

Mengelola POST, toko buku independen di Pasar Santa, Jakarta Selatan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405