Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah

Salah satu air terjun tampak dari kejauhan
Lihat Galeri
7 Foto
Buah kopi yang tampak indah sebelum memasuki area air terjun
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Buah kopi yang tampak indah sebelum memasuki area air terjun

© Elvan De Porres

Pemandangan alam menuju air terjun Muru Sobe memang sungguh memanjakan mata
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Pemandangan alam menuju air terjun Muru Sobe memang sungguh memanjakan mata

© Elvan De Porres

Papan penanda ucapan selamat datang di air terjun Muru Sobe
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Papan penanda ucapan selamat datang di air terjun Muru Sobe

© Elvan De Porres

Salah satu air terjun tampak dari kejauhan
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Salah satu air terjun tampak dari kejauhan

© Elvan De Porres

Sungai kecil yang tampak begitu jernih
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Sungai kecil yang tampak begitu jernih

© Elvan De Porres

Rombongan kami berhenti sejenak untuk melepas lelah
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Rombongan kami berhenti sejenak untuk melepas lelah

© Elvan De Porres

Mama Lusia Ngurah dan beberapa orang anak kecil menyapa kami dengan ramah dan penuh ketulusan
Air Terjun Muru Sobe yang Megah dan Gagah
Mama Lusia Ngurah dan beberapa orang anak kecil menyapa kami dengan ramah dan penuh ketulusan

© Elvan De Porres

Sebetulnya, apa yang paling menarik dari sebuah perjalanan? Lokasi tujuannya, pemandangan yang mengitarinya, ataukah pengalaman-pengalaman banyol yang terjadi selama kau terlibat di dalamnya?

Kau boleh menjawab salah satunya, atau menjawab semuanya, atau menambahkan beberapa opsi tambahan seturut yang kau pikirkan. Toh, setiap orang selalu punya narasi tersendiri dalam tapak perjalanan yang ditempuh. Musababnya, hidup adalah cerita, dan cerita tentu saja memiliki sudut pandang dan ragam refleksi yang berbeda juga kaya.

Saya dan beberapa teman punya kisah unik tentang Muru Sobe. Itu adalah sebuah air terjun kembar yang tempatnya berada sangat jauh, jauh di pedalaman wilayah barat kota Maumere, Sikka, Flores, NTT. Muru Sobe, yang secara harfiah berarti terjun lurus seperti balok bambu, adalah sebuah sajian menarik tentang keindahan alami. Bahwasanya alam tak butuh akal sehat manusia untuk mempertanyakannya. Sehingga yang lebih penting adalah itu direfleksikan sebagai karunia Maha Pencipta sekaligus bagaimana caranya disyukuri, dijaga, dan dibiarkan tetap lestari.

* * *

Dari kota Maumere, kami memacu sepeda motor ke arah barat menuju jembatan ramping Kaliwajo. Perjalanan tersebut berjarak sekitar 30 km. Di Kaliwajo, kami berbelok kanan ke lokasi air terjun Muru Sobe yang terletak di kampung Detunaka, desa Poma, kecamatan Tanawawo. Kami menyusuri jalanan besar yang juga bisa dilewati oleh mobil. Namun, medan aspal berkerikil, tak mulus, genangan air hujan, juga bekas tanah longsor adalah beberapa perkara yang harus diatasi. Belum lagi beberapa pohon yang tumbang di pinggir jalan. Kau harus selalu waspada dan sebaiknya menunggangi kendaraanmu dengan kecepatan sedang.

Namun, kau tak perlu khawatir, hamparan hutan yang indah, deretan air mengalir, dan riuh meriahnya bunyi hewan-hewan khas pedesaan memberikan penghiburan tersendiri. Juga orang-orang sepanjang jalan yang kau temui tampak begitu ramah dan akan menyapamu akrab.

“Hati-hati, kaka!” beberapa anak kecil melambaikan tangan kepada rombongan kami. Sekaligus juga memberi peringatan bahwa medan perjalanan ini memang rumit. Anak-anak itu baru pulang dari Gereja, kebetulan hari Minggu, dan harus menempuh perjalanan sejauh 2 km untuk tiba di rumahnya. Mereka tampak riang gembira meski berjalan kaki. Barangkali mereka telah terbiasa dengan keadaan seperti itu, saya pikir. Tentu, jika kau orang kota dan berganti posisi dengan anak-anak kecil itu, kau akan kewalahan dan tak sanggup melakukan perjalanan seperti mereka.

Rute ke air terjun Muru Sobe memang penuh tantangan. Beberapa orang pelancong menyebutnya ekstrem. Namun, terjalnya medan takkan melunturkan semangatmu bila itu dijalani dengan kemauan kuat. Apalagi suasana pegunungan sangat terasa di sini. Udara segar dan jejeran tumbuhan hijau bisa memberikan energi tambahan. Makanya, kami terus memacu kendaraan. Meski beberapa kali sempat kewalahan oleh jalan yang tak rata, curam, dan penuh tanjakan.

Muru Sobe masih jauh dan kami kelelahan. Kami berhenti sejenak, menenggak air mineral, dan menyantap beberapa potong roti yang kami beli di pasar Wolofeo. Salah seorang kawan memeriksa sepeda motornya, sekadar mengantisipasi dan berjaga-jaga bila ada peralatan yang rusak. Aman. Perjalanan kami lanjutkan.

Hawa dingin dataran tinggi mulai menusuk kulit. Kami beruntung. Kabut yang mengarak naik dari lembah bukit memberikan panorama tersendiri. Saya turun dari sepeda motor dan berfoto sejenak. Mengabadikan momen indah itu.

Kami kemudian menuruni lembah dan akhirnya tiba juga di kampung Detunaka. Rombongan kami menyapa beberapa orang anak kecil dan bertanya tentang lokasi air terjun. Mereka menunjuk papan nama kecil dan mengajak kami untuk menyusuri sebuah jalan setapak. Kami memarkir motor di lokasi yang telah disediakan.

Tapi, Muru Sobe letaknya sedikit jauh ke dalam. Di dalam hutan, di antara bambu-bambu yang menjulang tegak dan pohon-pohon yang rimbun nan besar. Dari lokasi parkir, kami berjalan kaki melewati sebuah jembatan gantung. Setelah itu, mata kami dimanjakan dengan kehadiran pohon-pohon kopi yang berdiri segar di pinggir jalan. Dersik daunnya dan aroma bijinya semakin menambah cita rasa petualangan kami. Dan kau akan segera lupa pada perjalananmu yang panjang dan melelahkan. Sebab, suasana Muru Sobe sudah di depan mata. Bunyi air mengalir, suara hewan-hewan hutan, juga padanan batu-batu besar memberikan pertanda itu.

Kami bertemu dengan Mama Lusia Ngurah di sebuah pondok kecil. Beliau menyapa kami dengan sesungging senyum manis. Mama Lusia adalah warga asli di situ. Meskipun bahasa Indonesianya agak terbata-bata, beliau tetap berusaha menyambut kami ramah. Mama Lusia menjelaskan bahwa air terjun Muru Sobe sebenarnya telah didatangi para pengunjung sejak lama. Sekira belasan tahun lalu, meskipun fasilitas dan akses begitu terbatas, bahkan pelik. Sekarang, telah ada fasilitas berupa toilet dan pondok berteduh. Beberapa tempat sampah dan papan penunjuk jalan juga tersedia di sana. Itu merupakan hasil kreasi teman-teman Mapala Universitas Nusa Nipa Maumere. Jika saya tidak keliru, mereka pernah berkunjung ke Muru Sobe pada 2014 silam.

Setelah berpamitan dengan Mama Lusia Ngurah, saya dan teman-teman “terjun” ke dalam sungai guna menyusuri pusat air terjun kembar itu. Uniknya, anak-anak kecil di situ dengan riang gembira rela menemani perjalanan kami. Air mengalir begitu jernih. Tumbuhan di sisi kiri dan kanannya tampak asri.

Tentu saja, pengalaman menjelajahi ceruk sungai kecil itu jadi tantangan tersendiri lagi. Kami harus merintangi batu-batu besar yang berdiri bebas juga pohon-pohon besar yang tumbang. Kau juga mesti berhati-hati ketika melewati jembatan bambu kecil yang dibuat untuk menghindari pusaran air sungai yang dalam. Kami mesti melewati itu satu per satu biar tidak roboh. Langkah senantiasa dibulatkan, dengung Muru Sobe semakin tercapakkan.

Akhirnya, dua paras elok itu kelihatan juga. Air terjun kembar Muru Sobe. Saya girang bukan kepalang. Barangkali lelah dan keringat sepertinya bukanlah rindu yang dibayar tuntas. Mereka adalah mandraguna yang telah menuntun setiap tapak perjalanan hingga sampai ke tempat ini. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Alami dan jatmika dipandang mata.

Tinggi air terjun Muru Sobe sekira 100 meter. Keduanya berdiri sejajar. Saling berdampingan. Airnya sungguh jernih dengan riak yang berirama. Di sekelilingnya, bukit-bukit tampak lebat dengan varian jenis flora yang menggelayut indah.

Apabila kau datang saat musim hujan, debit air terjun akan besar dan itu senantiasa sajikan pemandangan indah tersendiri. Namun, kau mesti juga berhati-hati sebab tantangan akan semakin legit. Rute yang ditempuh bisa saja licin atau penuh longsoran. Aliran air sungai pun begitu deras. Sebaiknya, kau juga harus selalu menyiapkan jas hujan karena hujan bisa datang kapan saja di wilayah dataran tinggi seperti ini.

Saya dan teman-teman sangat memanjakan diri di bawah luncuran air terjun. Kami berendam, bermain air, dan menikmati kesegaran hidup yang tak terpermanai itu. Perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan akhirnya berujung pada kebahagiaan. Tentang keciprat air yang menyejukkan. Juga tentang udara segar tanpa derik cemar apa pun. Juga tentang puspawarna tumbuh-tumbuhan yang mengitarinya. Artinya jelas, panca indramu selalu mendapat rangsangan baru dari setiap suasana alam yang tampak nyata.

* * *

Di hadapan Muru Sobe yang berdiri megah dan gagah, tak ada bising gaduh laiknya situasi perkotaan yang semakin hari semakin bikin pening kepala. Yang kautemukan hanyalah bunyi air terjun dan air mengalir bagai suatu rangkaian irama ritmis. Bau hutan beserta pepohonan juga pancarona suara hewan hutan cukuplah membuatmu gegetun dan takjub. Lantas rasa syukur dan bangga akan ciptaan Tuhan ini jadi sebuah keniscayaan.

Maka, setelah hampir dua jam lebih memuaskan diri di bawah patuk air terjun kembar tersebut, kami memutuskan untuk pulang. Apalagi langit semakin sore, ditambah rintik-rintik hujan yang mulai terasa.

Saya berkemas, melihat sejenak ke arah air terjun, dan perlahan-lahan melangkahkan kaki untuk perjalanan pulang yang pasti juga penuh rintangan. Tentu, ini adalah pengalaman menyenangkan. Juga, sekali lagi, penuh rasa syukur dan bangga. Muru Sobe masih alami dan semoga ia senantiasa alami. Saya berdeham dalam hati. Merapal harapan. Selamat tinggal air terjun, selamat tinggal adik-adik yang telah jadi teman perjalanan setia, selamat tinggal mama Lusia Ngurah. Selamat tinggal Muru Sobe yang megah dan gagah.

Elvan De Porres

Anggota komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere. Buku kumpulan esainya yang telah terbit berjudul “Menggaris dari Pinggir” (2017).


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405