Aieng Bittang di Pulau Poteran

Dermaga perahu Pulau Poteran
Dermaga perahu Pulau Poteran | © M Faksi Fahlevi

Saya adalah pemuda kampung yang lahir di sebuah pulau kecil di ujung kota tua, Kalianget, Sumenep. Sebuah pulau landai yang diitari oleh Selat Jawa di bagian Selatan, dan Pulau Bali di arah Timur.

Untuk sampai Pulau Poteran yang menyimpan destinasi wisata alam dan religi sepeti Ponjuk, Asta Mojopahit dan Syaid Yusuf, cukup bermodal Rp 3 ribu dengan transportasi laut seperti tongkang dan perahu kecil dalam jarak tempuh sekitar 5 menit.

Pada liburan kampung kali ini, aku membayangkan bisa menemukan kedai kopi di Pulau Poteran yang bisa membuat perasaan agak nyaman sembari menikmat semilir angin laut, deburan ombak, atau macam siluet batu karang di pinggiran pantai. Setidaknya, itu bisa meredam kegagapan karena diberondong pertanyaan macam kapan lulus, nikah, dan sebagainya dari orang tua dan kerabat.

Akan tetapi, ketakutan itu jauh dari yang ku bayangkan sebelumnya. Tak ada pertanyaan kapan lulus, nikah, dan sebagainya, aku malah menemukan cerita soal kopi yang tak kutemukan sebelumnya di kedai-kedai seperti di Jogja.

Mengopi di Akar Rumput

Di sini, saya akan bercerita tentang kopi di akar rumput serta martabatnya bagi masyarakat Pulau Poteran, sekaligus Desa Poteran, yang secara administrasi termasuk dari delapan desa yang ada di Kecamatan Talango, Sumenep, Jawa Timur.

Obrolan kopi itu bermula saat saya ikut membantu salah satu keluarga yang lagi membangun dapur rumahnya. Umumnya tradisi yang mengakar kuat di kampung halaman saya, bahwa wajib membantu tetangganya yang lagi membangun rumah maupun yang lainya.

Kopi dan rokok
Kopi dan rokok | © M Faksi Fahlevi

Di sela-sela waktu istirahat, saya lalu bertanya ke salah satu teman, perihal apa yang menjadi perekat gotong royong di kampung saya. Di perilaku berhubungan sesama masyarakat yang kini selalu dinilai dengan materi, pekerjaan setidaknya bisa dinilai dengan upah. Sebut saja namanya Fathorrahman, biasa dipanggil mas Oong, salah seorang teman, pertanyaan saya lalu ia jawab, “ mun tadak kopina ban rokokna ya tak nolongi paggun Cong (jika tidak ada kopi dan rokok tidak akan membantu Cong[1]),” ungkapnya.

Bapak saya lalu memberi penjelasan lebih rigid dan rinci perihal makna kopi bagi orang Poteran. Ia pria dengan usia yang memang tak lagi muda, tapi masih terlihat lebih bugar dengan nada bicara yang tegas dan lugas. Katanya, jika sebuah rumah tak menyuguhi kopi, itu petanda tidak memberi penghormatan pada tamu. Bapak menyebutnya, “tak sopan (kurang baik)”.

Pak Sahlan, selaku arsitek pengerjaan bangunan itu, ikut nimbrung pada obrolan kami. Kopi, menurutnya, sebagai pengikat sosial orang Poteran, dapat disajikan saat acara-acara penting seperti halnya pengajian akbar, pernikahan, tahlilan, kerja bakti. Di waktu-waktu itu, kopi hadir sebagai tanda penghormatan.

Meski bukan daerah penghasil kopi, tapi kita akan mudah menemukan kopi dibalik rumah-rumah warga Poteran. Wajar, jika gula dan kopi bubuk akan lebih mudah ditemukan dibanding misalnya, beras atau Jagung.

“Sebab kopi adalah martabat dan tanda hormat,” tegas Pak Hadi.

Kopi Sebagai Obat

Cak Yodiono, seorang pengusaha sembako di Jakarta, yang kebetulan sedang pulang kampung lebaran kali ini membuat obrolan kopi semakin seru. Dari kopi sebagai martabat sosial hingga mitos kopi sebagai obat.

Kata Cak Yodi, menjalankan usaha sembako di Jakarta butuh stamina ekstra dan fisik yang kuat. Untuk menjaga staminanya, ia menggunakan resep rahasia. Resep yang ia gunakan adalah kopi pahit diminum dengan pil bodrex. Meski berisiko pada kesehatan, ia malah menimpali, “nyatanya aku baik-baik aja”.

Kopi juga menjadi amunisi wajib bagi nelayan Poteran.

Menurut Cak Yodi, di Poteran, untuk mengetahui orang sehat atau tidak itu gampang, cukup tanya: apakah ia minum kopi atau tidak. “Jika tidak ngopi berarti orang itu tidak sehat,” katanya. Tentu saja itu hanya satu joke semata. Meski joke semacam itu memang diambil dari tradisi kehidupan masyarakat sekitar.

Sedikit pesan yang perlu saya sampaikan, tentu saja sebagai warga desa Poteran, jika Anda datang ke desa kami dengan maksud baik, atau bermaksud berwisata, tak usah khawatir jika Anda mau ngopi, meski tak semua warga desa kami adalah penjual kopi. Anda cukup bertamu dan bersilaturrahmi, dengan senang hati warga Poteran akan memberikan suguhan kopi, atau biasa kami sebut aieng bittang.

[1] Kacong, adalah panggilan bagi orang yang usianya lebih muda dalam bahasa Madura dan sekaligus ikon bagi panggilan pemuda.

M Faksi Fahlevi

Penulis lepas

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com