Agus Mulyadi dan Kopi Kesayangannya

Torabika Moka

Komputer menyala, suara musik mengalun, dan di sebelahnya secangkir kopi berukuran jumbo terhidang. Begitulah, Agus Mulyadi, bujang flamboyan asal Magelang ini menjalani malam-malamnya di kamarnya.

Di saat-saat itulah Agus Mulyadi lebih produktif. Seringkali ia menulis kisah-kisah konyol tentang orang dan hal-hal menarik di sekitarnya. Jika tidak, ia merekam dirinya nyocot ngalor-ngidul (kebanyakan ngawur) di depan kamera atau membaca artikel-artikel dari sejumlah media daring. Singkat kata, ia termasuk manusia kekinian yang menggunakan dunia maya sebagai rimba ilmu pengetahuan. Dari sana keterampilannya terasah, pengetahuannya berkembang.

Agus Mulyadi dan Kopi Kesayangannya
Dispenser untuk menjerang air panas. © Nody Arizona

Agus sempat pula menggegerkan jagat maya tanah air. Semuanya bermula dari, suatu ketika seorang kawannya selalu mengajak pergi nonton konser JKT 48 di Yogyakarta. Ia enggan berangkat, sebagai bukti telah pernah bertemu Oshi JKT 48 ia memadupadan foto dirinya dengan Oshi serta menunjukkan kepada kawannya. Tapi, tak lama kemudian kawannya tahu foto itu hanya olahan Photoshop. Dan meminta dibikinkan foto serupa. Agus menguji kesungguhan kawannya, ia berkenan mengedit foto dengan syarat kawanya mau memegang dasbor motor milik tentara.

Mengetahui bahwa ada orang yang ingin tampil bareng tokoh idola. Agus membuka jasa editing foto. Foto dirinya dengan para tokoh terkenal sebagai media promosinya. Beberapa selebtwit membagikan walaupun dengan niatan merisak. Pandji Pragiwaksono (@Pandji) salah satunya. Tak lama berselang orderan ramai. Dari anak alay sampai calon anggota dewan menggunakan jasa edit foto Agus.

Usaha yang baru dirintisnya itu tak bertahan lama. Sejak 3 November 2013 Agus memutuskan menutup jasa editing foto. Gulung tikar. Seseorang yang lama berkecimpung di dunia fotografi mengingatkan Agus jika apa yang dilakukan melanggar lisensi foto dan bisa dibawa ke ranah hukum. Agus enggan memperpanjang urusan ini, apalagi di beberapa forum dia sudah ramai jadi perbincangan.

Saat terdengar kumandang azan Subuh, Agus biasanya mematikan komputer. Ia segera menunaikan salat, baru kemudian beranjak tidur sampai nanti ketika terik sinar matahari menyengat tubuhnya.

* * *

Saya bertemu dengan Agus Mulyadi pertama kali melalui sebuah konspirasi yang diracang secara sistematis, terstruktur, dan masif.

Agus Mulyadi dan Kopi Kesayangannya
Bungkus kopi dikumpulkan Agus Mulyadi. Obsesinya, ingin foto ditumpukan bungkus kopi yang memenuhi kamarnya. © Nody Arizona
Suatu sore langit Yogyakarta sedang berselimut awan hitam. Pertanda bakal jatuh hujan. Dan di grup WhatsApp, Puthut EA, cerpenis spesialis kisah-kisah patah rasa itu, memberi kabar ada kawan istrinya, namanya Tia, bakal tiba di stasiun Tugu. Istrinya tak bisa menjemput. Ia masih menambahkan informasi, kawan istrinya datang dari Solo, dan cantik. Masih ada pesan tambahan, saya meski membawa jas hujan dan helem yang bersih.

Hujan kini telah runtuh. Jalanan Yogyakarta mulai berkubang air. Saya menerabas lampu merah. Agaknya, bakal berlangsung pertemuan yang romantis.

Di stasiun, saya celingak-celinguk. Nomor Tia tidak bisa ditelepon. Ia hanya membalas pesan. Di depan mobil berwarna kuning yang menginformasikan keberadaannya tidak ada pertanda gadis berparas cantik.

Cilaka! Saya lagi-lagi dikerjain. Dari kejauhan seorang lelaki, dengan rambut basah akibat tampias dan senyum yang menjengkelkan, berjalan menuju arah saya. Dia mengenalkan diri, singkat, Agus.

Agus berpenampilan sederhana. Ia tampak nyaman menggunakan kaos dan celana kain. Saat pergi keluar rumah, ia kenakan topi bundar, yang disebutnya sebagai topi copet. Satu lagi hal istimewa yang sulit dilupakan ketika bertemu dengannya yakni sepanjang hari ia selalu tampak tersenyum.

Kawan saya, Nuran Wibisono, terpesona dengan sosok satu ini. Nuran sedang memasak baguette ketika saya datang bersama Agus. Ia segera menawarkan roti yang baru dibikinnya kepada Agus. Beberapa kali Nuran menawarkan kopi atau teh kepada Agus.

Tawaran pertama Nuran, dibalas Agus dengan, “Masih kenyang, mas…”

Tapi tawaran kedua atau ketiga baru upaya Nuran berhasil. “Nyoba kopi kene, ben koyok seniman,” kata Agus. Nuran membuatkan kopi di dapur, Agus menghampiri dan berkata, “Kopine ojo pahit mas, ojo podo karo eling mantan.”

Agus suka memang kopi, tapi kopi kesukaannya ialah kopi banci. Saya dan Nuran sempat kebingungan. Tapi, Agus lekas menambahkan, “Kopi kan identik dengan laki-laki, susu identik dengan perempuan. Kalau dicampur yo banci.”

* * *

Agus punya kecenderungan tak umum. Pandangannya acapkali sederhana dan polos, tapi justru itu yang membuat orang-orang yang terbiasa dengan teori ini dan itu gelagapan.

Soal kopi. Ia biasa mengosumsi kopi instan Torabika Moka. Ia makin senang bila produk tersebut sedang promo, misalnya beli lima gratis satu. Bonus kopi itu ia sediakan untuk kawan-kawannya yang singgah ke rumahnya.

Agus Mulyadi dan Kopi Kesayangannya
© Agus Mulyadi
Agus Mulyadi dan Kopi Kesayangannya
Kamar Agus Mulyadi © Agus Mulyadi

Saya, Agus, dan Puthut EA pergi ke kedai kopi malam itu. Puthut memesan kopi yang disajikan dengan gaya khas kopitiam. Saya juga. Tapi Agus memandang lembar menu dengan lama. Ia melihat harga kopi yang tertera di daftar menu. “Ngerti ngene, aku gowo kopi teko omah,” celetuk Agus.

Agus termasuk penikmat kopi ekstrimis jenis yang lain. Di satu pihak, kerap saya menemui ekstrimis kopi yang sangat mementingkan kemurnian rasa kopi. Tak boleh ada gula, tak boleh ada hembusan asap rokok, serta wewangian yang bisa mengganggu aroma kopi. Sedang Agus tak peduli dengan jenis kopi lain. Ia tak bisa berpindah ke lain kopi.

Ketika ulang tahun Puthut EA yang ke 37 digelarlah perayaan kecil-kecilan. Kawan-kawannya diundang makan dan minum kopi, termasuk Agus Mulyadi. Di saat itulah, Agus hendak memesan air panas untuk menyeduh kopi kesayangannya yang tersedia dalam tasnya.

Mengetahui itu, Puthut lekas-lekas mencegah. “Peh, yen sampek metu’ne kopi tak antemi koe!

Semua yang hadir di sana tertawa. Agus tak berhasil menikmati kopi kesayangannya. Tapi, tak ada yang bisa mencegah Agus untuk mencintai kopi Torabika Moka. Soal rasa, setiap orang mempunyai ukuran kenikmatan masing-masing.

Bagi Agus Mulyadi, Torabika Moka tetaplah yang nomor satu dibanding kopi lain. Untuk kopi kesayangannya, Agus sempat memberi penghargaan. “Terima kasih Torabika Moka karena sudah memaniskan hidup saya yang agak kelam ini. Menyeruputmu sejumput demi sejumput rasa-rasanya bisa menghilangkan gundahku. Oh, Torabika Moka, Andai kau wanita, tentu sudah kupinang sedari dulu.”

Keterangan:

Karya-karya Agus Mulyadi bisa dibaca di http://www.agusmulyadi.web.id/ dan untuk video rekamannya salah satunya bisa disaksikan di https://www.youtube.com/watch?v=0Kf92RKZbvA. Tapi jika Anda ingin lebih, bisa cari buku Jomblo tapi Hapal Pancasila.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.

  • mas seleb yg satu itu emang ndak ada matinya, jos!

  • si agus emang maknyus… guyonane tenanan

  • Kopi selalu menjadi bagian dari inspirasi. Hidup kopi!