Agama Kopi: Sebuah Laku Menuju Puncak Kenikmatan

Merayakan malam tahun baru mungkin menjadi satu di antara sekian banyak momen yang selalu memancing perdebatan. Apalagi alasannya kalau bukan karena berbau-bau agama—salah satu ruang paling sensitif bagi sebagian besar kelompok masyarakat kita.

Akan tetapi, saya rasa, hal itu tidak memengaruhi antusiasme banyak orang untuk merayakan malam tahun baru di Yogyakarta. Buktinya, sejak Jum’at sore, telah banyak kendaraan berplat nomor luar daerah memenuhi sebagian besar ruas jalan utama di Yogyakarta. Besoknya, di sekitaran Nol Kilometer, telah banyak orang berkumpul. Jumlah itu tentu saja akan terus bertambah hingga menjelang tengah malam, membludak dan meluber menjadi lautan manusia. Atas dasar apa mereka melakukan itu semua? Ketulusan.

Buku Agama Kopi
Agama Kopi | © Andi Sumangelipu

Dalam buku “Agama Kopi” dijelaskan, ketulusan adalah kerelaan hati. Bila tak ada kerelaan hati untuk ikut merayakan tahun baru, tentu tak ada yang mau datang ke Yogyakarta. Itulah tolok ukur paling mudah untuk melihat ketulusan hati mereka.

Ketulusan ini tidak sama dengan keikhlasan. Andi Sumangelipu, si penulis buku “Agama Kopi” dalam bab Ikhlas (Memberi) Itu Berat menjelaskan, perbedaan antara tulus dan ikhlas. Andi menjelaskan, tulus adalah kerelaan hati karena faktor kesenangan atau tidak ada beban karena lapang (baca mampu), baik secara materi maupun non materi.

Sementara ikhlas, adalah merelakan sesuatu yang terasa berat. Di buku itu dicontohkan, ikhlas ialah memberi sedekah pada mereka yang membutuhkan, walaupun pada saat itu keuangan kita telah menipis. Tentu tidak disertai dengan hati yang nggrundel.

Nggrundel merupakan salah satu penyakit hati. orang Jawa me-nembang-kan Tombo Ati untuk mengingatkan kita bahwa penyakit hati itu bisa disembuhkan. Salah satu obatnya ialah wong kang sholeh kumpulono (berkumpul dengan orang sholeh).

Orang sholeh, dalam bab Mendaki Gunung Spiritual dalam buku itu di jelaskan sebagai pembimbing. Tak hanya membimbing untuk mengobati penyakit hati, melainkan juga sebagai penunjuk jalan bagi orang yang “sakit”.

Jalan yang ditempuh pun seringkali tidak sama, bahkan berlawanan dengan orang lain. Bukankah mata angin juga berlawanan arah satu sama lain? Namun intinya tetap sama, yaitu di pusat atau tengah arah mata angin. Begitu juga orang boleh berbeda dalam memilih jalan, syariat, tarekat, mazhab atau pun agama, namun tujuannya tetap sama, Tuhan. Semua itu dijelaskan dalam buku “Agama Kopi”.

Lalu, apa sebenarnya “Agama Kopi”?

“Agama Kopi” bukanlah agama baru, karena pembawanya bukanlah seorang nabi. Andi Sumangelipu hanyalah penikmat kopi yang piawai moco kahanan (membaca keadaan) kemudian menuangkannya dalam tulisan. Dan kebetulan dibukukan.

Kekuatan “Agama Kopi” terletak pada gaya bahasa Andi Sumangelipu yang gemar memakai kiasan. Sudut pandang yang nyleneh juga menjadi daya tarik lain dari buku setebal 186 halaman ini.

Menurut Andi, agama memiliki kemiripan dengan selera minuman. Penganut “Agama Kopi” misalnya, tentu meyakini adanya kenikmatan (baca: Tuhan) saat meminum kopi. Begitu juga dengan penganut agama susu, teh, jahe, serta jus. Semuanya ingin meraih dan mencapai kenikmatan, yakni Tuhan. Hanya caranya saja yang berbeda.

Lanjutnya, kopi, susu, teh, jahe, jus, merupakan sebuah kitab suci yang mengandung unsur penting sebagai pemberi warna dan rasa yang khas suatu agama. Lalu, bagaimana jadinya jika ada yang mencampurkan berbagai cita rasa kitab suci dalam satu wadah?

Buku ini lagi-lagi menjawab dengan bahasa kiasan: tidak apa-apa, yang penting masih termasuk golongan penikmat minuman, bukan golongan penjual minuman. Daripada sibuk memperdebatkan apa golongan orang yang merayakan tahun baru, lebih baik, mari sejenak introspeksi diri bersama secangkir kopi.

Riza Zakaria

Penikmat Kehidupan


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405