Adu Merdu Para Penyanyi Keroncong

Penonton yang berjubal di depan sebuah kelenteng di Probolinggo, Jawa Timur, mengelu-elukan nama Tan Tjeng Bok. Buaya keroncong yang memiliki suara khas itu memang tengah naik daun pada 1920-an. Ia berjalan pasti saat hendak naik panggung. Namun, tiba-tiba ia muntah darah. Meski begitu, Tjeng Bok tetap bernyanyi dan menyabet jawara di sana.

Saat itu, Tjeng Bok yakin dirinya terkena guna-guna. Tak hanya sekali, ia mengaku terkena guna-guna lagi di Makassar.

Kejadian yang menimpa buaya keroncong Tjeng Bok, yang sudah menggondol 97 buah medali emas di keroncong concours merupakan hal biasa di tahun 1920-an. Selain “dikerjai” lawannya, para penjudi yang menjagokan salah seorang peserta ikut bermain ilmu hitam (Kompas, 15 Juni 1970).

Keroncong, yang merupakan musik hibridisasi, sejak dibawa orang Portugis ke kampung Tugu pada abad ke-16 itu memang menjadi musik hiburan yang sangat populer pada awal abad ke-20. Tak heran, keroncong concours sangat dinanti-nanti para seniman olah suara untuk mengadu bakat mereka.

*

Menurut Peter Keppy dalam tulisannya “Keroncong, concours and crooners Home grown entertainment in early twentieth-century Batavia” di buku Linking Destinies: Trade, Towns and Kin in Asian History (2008: 143), keroncong concours mengangkat musik keroncong, dan membuatnya lebih populer lagi.

Concours diadakan di taman hiburan dan mendapat popularitas di Batavia pada akhir 1910,” tulis Keppy. Selain mempopulerkan keroncong, concours pun membuka lahan bisnis yang besar.

Sebagai catatan, saat itu keroncong bukan satu-satunya genre musik yang dijadikan kompetisi. Ada hawaiian dan jazz. Namun, menurut Keppy, keroncong concours memiliki keunikan dibanding hawaiian dan jazz.

“Lagu disajikan dalam tradisi pantun Melayu, penuh makna tersembunyi, seringkali dengan konotasi seksual yang kuat. Dua penyanyi terlibat dalam “pertempuran” verbal (sindiran) dan berimprovisasi di tempat,” tulis Keppy.

Syarat kemenangan keroncong concours bukan hanya suara, tapi juga kelihaian berpantun. Mereka yang paling kreatif, cerdas, dan halus akan jadi kampioen.

Tan Tjeng Bok bersama Sulastri, Dhiana, dan Tina Melinda, pada 1955
Tan Tjeng Bok bersama Sulastri, Dhiana, dan Tina Melinda, pada 1955 | Sumber: Wikimedia @Varia

Sedangkan Philip Bradford Yampolsky dalam disertasinya di University of Washington, “Music and media in the Dutch East Indies: Gramophone records and radio in the late colonial era, 1903-1942” (2013: 285-286), menyebut pengumuman keroncong concours baru ada pada Maret 1917. Pengumuman itu tertera di sebuah koran terbitan Batavia.

Pengumuman itu menyiratkan, keroncong concours bisa diikuti kelompok musik keroncong dengan seorang penyanyi, lelaki ataupun perempuan. Yampolsky menulis, pengumuman itu memberitahukan bahwa pemenang akan ditentukan dengan kemampuan mereka bermain musik, harmonis, dan kostum yang menarik. Poin penting lainnya, sama seperti yang disebut Keppy, kepandaian bermain pantun (2013: 287).

Selain di Batavia, Yampolsky mencatat, keroncong concours pun ada di luar Batavia. Misalnya saja di Surabaya diadakan pada Desember 1918. Lalu, tahun 1921 kompetisi semacam ini menyebar di wilayah Jawa Timur, seperti di Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Gempol-Porong.

Pada pertengahan 1920-an, kontes keroncong menjadi ajang tahunan di pasar rakyat (pasar malam) kota-kota besar di Jawa. Yampolsky menyebut, polanya berubah menjadi pertarungan antarkelompok keroncong, bukan lagi penyanyi solo (2013: 297). Kelompok dengan penyanyi lelaki saling bersaing. Begitu pula kelompok dengan penyanyi perempuan. Tak lagi penyanyi lelaki melawan penyanyi perempuan.

Menurut Haryadi Suadi dalam tulisannya “Perkembangan Musik Hiburan di Kota Bandung Periode Tahun 1810-1960-an” di 200 Tahun Seni di Bandung, pasar malam dibuka hampir bersamaan pada awal 1920-an. Pesta para penyanyi dan penikmat keroncong pun digelar di Bandung (Jaabeurs), Batavia (Pasar Gambir), Solo (Pasar Malam Tumbuk Dalem), dan Surabaya (Jaarmarkt).

Sebelum beradu suara di pasar-pasar rakyat tadi, biasanya para penyanyi sudah berkompetisi di daerah masing-masing. Misalnya, mereka yang menang di Probolinggo, biasanya akan ikut kompetisi tingkat Jawa Timur di Jaarmarkt Surabaya untuk menggondol kampioen Oost Java (jawara Jawa Timur).

Iklan ajakan mengikuti keroncong concours pun dimuat di sejumlah surat kabar. Contohnya, Pewarta Soerabaia edisi 30 September 1939 memampang foto penyanyi perempuan yang akan adu merdu di keroncong concours Jawa Timur.

Dalam surat kabar itu, ada Darning dari Surabaya, Lelij Nirom dari Surabaya, Moena dari Malang, Francisca dari Pasuruan, Pin dari Probolinggo, Soelastri dari Malang, Karsinem dari Surabaya, Annie dari Cianjur, dan Annie Landouw penyanyi tunanetra dari Solo. Ajang itu dimeriahkan Miss Lee dan Pak Doho yang suaranya sudah akrab di telinga publik Surabaya melalui corong radio Nirom Surabaya.

Orkes keroncong di Barabai, 1926. Keroncong utamanya populer di kampung-kampung, meriahkan pesta khitanan sampai kawinan.
Orkes keroncong di Barabai, 1926. Keroncong utamanya populer di kampung-kampung, meriahkan pesta khitanan sampai kawinan. | Sumber: Twitter @Potretlawas
Grup keroncong Insulinde, bentukan pelajar Hindia di negeri Belanda, circa 1942
Grup keroncong Insulinde, bentukan pelajar Hindia di negeri Belanda, circa 1942 | Sumber: Twitter @Potretlawas

Menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik (1992: 307), concours sangat penting artinya bagi pemusik keroncong, terutama mereka yang ikut serta di keroncong concours Pasar Gambir. Sebab, jika menang di sini, mereka menang secara nasional. Concours Pasar Gambir merupakan kompetisi keroncong yang paling prestisius. Japi menambahkan, penyanyi yang menarik perhatian adalah mereka yang bisa mengikuti selera zaman, seperti memainkan lagu-lagu populer Amerika.

Peluang untuk menyanyi di radio pun terbuka lebar kala Radio Ketimoeran berdiri pada awal 1940-an. Menurut Victor Ganap (2013: 141), sejak saat itu nilai bobot sebuah concours menjadi semakin meningkat, dan kesempatan orkes keroncong layak siaran di radio semakin besar.

Nama-nama tenar yang lahir dari ajang keroncong concours, di antaranya Amat, Tuminah, S. Abdullah, Annie Landouw, Koesbini, dan Miss Netty. Selain mendapatkan medali emas, mereka juga mendapatkan uang dalam jumlah yang besar. Tan Tjeng Bok menyebut, uang yang diterima jika memenangkan kontes itu sebesar seribu gulden (Kompas, 15 Juni 1970).

Belum lagi mereka dilirik para pencari bakat dari label-label piringan hitam ternama, seperti Beka, Columbia, dan Canary. Suara mereka berpeluang direkam di label-label tadi.

*

Situasi berubah drastis kala Jepang menduduki Indonesia. Lapangan kesenian, termasuk keroncong, dimanfaatkan demi kepentingan propaganda semata. Ketika Indonesia merdeka, keroncong concours dijadikan model pertimbangan untuk perhelatan Pemilihan Bintang Radio yang diadakan di RRI sejak 1951 (Ganap, 2011: 143).

Pada 16 dan 17 Juni 1970, pernah diadakan Festival Keroncong Asli seDjakarta di Taman Ismail Marzuki. Festival ini bisa dibilang meniru konsep keroncong concours masa Hindia Belanda. Namun, menurut Kompas 15 Juni 1970, festival tersebut sepi peminat. Hadiahnya pun tak seheboh keroncong concours. Jawara kompetisi ini hanya mendapatkan piala, piagam, televisi, tape recorder, dan radio transistor.

Seiring waktu, musik keroncong tersisih oleh genre musik lain. Termakan zaman. Genre musik ini akhirnya dicap sebagai musik kuno yang berasal dari kalangan uzur.

Fandy Hutari

Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, terutama film dan teater masa kolonial.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com