Ada Cengkeh di Antara Kopi

Cengkeh di antara kopi
Cengkeh di antara kopi | © Fawaz

Tiga orang pria sedang duduk di depan bangunan yang difungsikan sebagai tempat pengolahan biji kopi sekaligus gudang penyimpanan saat kami tiba. Hari sudah senja. Mendung menyelimuti Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Bondowoso.

Sebelumnya kami belum pernah datang ke tempat ini, juga sama sekali tak mengenal tiga orang pria yang cukup terkejut dengan kedatangan kami. Hamparan kebun kopi dan gudang pengolahan kopi yang menarik kami untuk menghentikan sepeda motor yang kami kendarai. Usai memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, Hariyono (40 tahun) menyilakan kami masuk ke rumahnya.

Tiga batang pohon cengkeh berjajar di tepi halaman rumah, sebatang lagi tepat berada di sebelah rumah di tepian halaman sisi lainnya. Keempatnya sedang berbunga lebat, siap dipanen. Di halaman rumah yang luas, biji kopi bersanding dengan bunga cengkeh sedang dijemur. Menuju rumah Hariyono, di teras rumah terdapat beberapa karung biji kopi dan bunga cengkeh yang baru selesai dipetik. Sebagian sudah dipisahkan dari tangkainya, sebagian lagi menunggu dipisahkan dari tangkai sebelum dijemur.

Keluarga Sutrisno bersama tim ekspedisi kopi
Keluarga Sutrisno bersama tim ekspedisi kopi Miko | © Fawaz

Menurut Hariyono, selain empat batang yang ada di halamannya, ia memiliki total 60 batang pohon cengkeh yang ditanam di sela kebun kopi yang berada di sekitar rumahnya. Pohon cengkeh itu difungsikan sebagai tanaman penaung untuk pohon kopi di sekitar rumahnya. Semua pohon cengkeh itu ditanam oleh Sutrisno (75 tahun), ayah dari Hariyono.

Pohon-pohon cengkeh itu kini berusia antara 25-30 tahun. Sutrisno menanam cengkeh di akhir periode 1980-an hingga awal 1990-an. Saat harga cengkeh anjlok di tahun 1991 dan 1992, banyak masyarakat yang menebang pohon cengkeh mereka. Sutrisno adalah satu dari sedikit yang tidak menebang pohon cengkehnya. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Baru ditanam kok, Mas, jadi biar saja sudah. Buat apa ditebang.”

Ketika harga cengkeh kembali beranjak naik, pohon cengkeh milik Sutrisno mulai menghasilkan, ia berhasil meraup keuntungan dari 60 batang pohon cengkeh yang ia tanam di sela kesibukan bertani kopi. Sutrisno mulai bertani kopi sejak tahun 1961 saat usianya 20 tahun. Ia mewarisi kemampuan bertani kopi dari orangtuanya yang juga petani kopi sejak zaman penjajahan Belanda. Dari delapan bersaudara, tiga di antaranya melanjutkan bertani kopi, termasuk Sutrisno. Sedangkan Hariyono adalah satu-satunya keturunan yang melanjutkan pertanian kopi dari empat orang anaknya. Lainnya tinggal dan bekerja di kota Situbondo.

Sutrisno kini memiliki 14 hektar kebun kopi yang sepenuhnya dikelola oleh Hariyono. Usia senja membuatnya hanya bekerja di kebun sekitar rumahnya. Saat musim panen kopi yang berbarengan dengan panen cengkeh sekarang ini, Sutrisno ikut membantu menjemur kopi dan cengkeh yang sudah dipanen.

Cengkeh yang baru dipanen
Cengkeh yang baru dipanen | © Fawaz

Tahun ini di Desa Kayumas, cengkeh kering perkilo dihargai Rp120 ribu. Selama proses panen cengkeh, Sutrisno mempekerjakan seorang pekerja untuk memanen cengkeh dengan upah borongan perkilo sebesar Rp1700. Selain mengeluarkan biaya panen, ia juga harus membayar upah kepada pekerja yang memisahkan cengkeh dari tangkainya. Biayanya sama dengan biaya upah panen.

Saat panen cengkeh, satu batang pohon bisa menghasilkan antara 15-60 kilogram bunga cengkeh, tergantung kondisi cuaca dan tanah. Ada dua mekanisme panen kopi yang pernah dijalani Sutrisno, dipanen sendiri dengan mempekerjakan orang untuk memanennya, atau dijual borongan seluruh hasil cengkeh saat masih di pohon. Harga jual borongan cengkeh antara Rp45 juta hingga Rp55 juta. Keuntungan mekanisme borongan ini, Sutrisno tak perlu repot memanen dan menjemur cengkeh, ia tinggal terima uang saja. Namun biasanya keuntungan yang didapat dari mekanisme borongan lebih sedikit dibanding dipanen sendiri.

Pada awalnya, Sutrisno sekadar iseng menanam cengkeh. Ia menanam cengkeh untuk mengisi waktu luang di sela kesibukan bertani kopi. Kini saat harga cengkeh cukup menjanjikan, ia bisa mendapat keuntungan dari keisengannya ini. Hasil dari panen cengkeh bisa digunakan untuk menambah modal di pertanian kopi. Memperluas kebun kopinya dan membangun pabrik pengolahan biji kopi.

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405