5 Film Korea untuk Menghangatkan Musim Penghujan

Menyantap soto ayam panas diiringi guyuran salju, saya kira bakal jadi pengalaman paling transendental. Sayang, Indonesia cuma dikasih dua musim. Musim hujan dan kemarau. Ada pula tambahan musim transisi, yang ditandai cuaca plin-plan dan orang-orang yang mudah dihajar batuk pilek. Kadang saya mengeluh betapa membosankannya iklim tropis. Iklim ini mungkin yang bikin para penyair kacangan gemar mengeksploitasi senja dan hujan. Sekali-kali turun salju kek, seminggu sudah cukup.

Ketika kalender menapaki bulan-bulan berakhiran “-ber”, meski gejala alam agak nakal belakangan ini, ada semacam kesepakatan musim hujan harus melaksanakan tugasnya. Hujan turun dan seringnya dengan iseng mengobrak-abrik jadwal kegiatanmu. Saat hujan turun dan kamu enggak bisa keluar, menonton film adalah solusi praksis mengalihkan sumpah serapahmu.

Seseorang bisa menemukan begitu banyak rasa sakit saat hujan turun, tulis John Steinbeck. Untuk merayakan kepedihan, film Korea Selatan makin cocok dicicipi saat musim hujan. Sebab, resep khusus film Korea adalah adanya han, perasaan kultural tak terjelaskan yang meliputi melankolia sekaligus kemarahan, yang cuma dipunyai orang Korea. Han ini yang jadi bahan bakar para sineas Korea. Sinema Korea jelas tak pernah gagal mengaduk emosi.

Menilik sejarah perfilman Korea, menurut Euny Hong dalam The Birth of Korean Cool, sampai 1990-an, cuma ada beberapa genre: drama polisi murahan dan mudah ditebak, kisah cinta yang malang, dan film bermuatan moral tentang nilai-nilai kebajikan. Film Korea waktu itu begitu membosankan, bahkan serasa siksaan, keluh Hong.

Kim Minhee Nonton Film Korea
Kim Minhee Nonton Film Korea | Sumber: YouTube.com

Film Korea yang dulu bahkan lebih cocok dibuang dalam keresek. Belakangan, mereka sering nongol di Cannes dan beragam festival film bergengsi. Hong justru baru benar-benar menemukan kembali film Korea ketika dia tinggal di Prancis. Di negara pencinta sinema tersebut, film Korea sangat populer.

Sejak tahun-tahun setelah kejatuhan rezim militer ototarian dan lahirnya demokratisasi pada 1987, wajah perfilman Korea dipoles habis-habisan. Pemerintahan Korea bukan hanya getol promosi, tapi menggelontorkan dana melimpah untuk kemajuan sinemanya. Sampai dibuat undang-undang dan dekrit presiden segala. Hasilnya, apa yang kita bisa saksikan sekarang.

1. Spring, Summer, Autumn, Winter… Spring (Kim Kiduk, 2003)

Spring, Summer, Autumn, Winter… Spring
Spring, Summer, Autumn, Winter… Spring | Sumber: Mubi.com

Sudah baca Phenomenology of Spirit-nya Hegel? Di sana ditulis bahwa kejahatan justru berada dalam tatapan yang merasakan kejahatan di sekeliling dirinya. Nah, film ini yang menurut filsuf Slavoj Zizek memberi gambaran sempurna soal gagasan tadi.

Membawa bentuk parabel dalam Buddhisme, film dari Kim Kiduk dimulai dengan seorang biksu bijak dan seorang bocah polos yang jadi muridnya, yang keduanya menetap di kuil terpencil di tengah danau. Beberapa tahun kemudian, seorang gadis muda datang untuk berobat, dan dari sinilah kekacauan mulai bereaksi. Si bocah yang sudah pemuda itu jatuh hati pada si gadis, bahkan mereka melakukan persenggamaan. Si biksu mengingatkan bahwa mengejar hawa nafsu akan berakhir pada petaka, namun si pemuda tetap keukeuh. Dia meninggalkan gurunya sendiri, mengejar si gadis yang sudah sembuh dan balik ke kota. Kejahatan tercipta, petaka merekah.

Kejahatan bukan hanya hasrat manusiawi, sebut Zizek; kejahatan juga merupakan tatapan sang biksu, yang merasakan hasrat posesif pada muridnya tadi sebagai kejahatan. Inilah yang dalam filsafat kita sebut refleksivitas. Apakah pencarian menuju jalan kebaikan adalah juga mengarahkan kita pada kejahatan? Juga, kenapa cinta begitu posesif?

Selain problem filosofis dari kacamata Barat tadi, film ini adalah sebuah realisasi mengenai samsara, siklus hidup. Tontonlah film ini layaknya sedang membaca Yasunari Kawabata atau menghayati haiku. Sebab kalau enggak menikmatinya dengan namaste, yang kamu dapat cuma kebosanan.

2. Sympathy for Lady Vengeance (Park Chanwook, 2005)

Sympathy for Lady Vengeance
Sympathy for Lady Vengeance |Sumber: Mubi.com

“Hidup tanpa rasa benci pada orang lain sangat mustahil,” ungkap Park Chanwook. “Tidak ada yang salah dengan berfantasi soal balas dendam. Anda hanya tidak boleh mempraktekkannya.”

Film-film Chanwook hadir sebagai katarsis rasa benci dan nafsu balas dendam yang terkurung dari dirimu. Merupakan film ketiga dari trilogi balas dendamnya — Symphaty for Mr Vengeance (2002), Oldboy (2003) dan Lady Vengeance ini. Trilogi balas dendam ini bisa ditonton secara keseluruhan, namun tak mengikat. Bisa dinikmati bebas, tak perlu berurutan.

Sejak memenangkan Grand Prix untuk Oldboy di Cannes, Chanwook jadi sineas paling terkenal dari Korea. Namun ketimbang Oldboy, justru dari trilogy balas dendam, Lady Vengeance yang paling saya nikmati. Bahkan bagi kamu yang tak terlalu suka genre brutal berdarah-darah, Lady Vengeance adalah tontonan yang tak boleh dilewatkan. Lebih komikal dan lebih nyeni.

Dalam film-film Chanwook, pembalasan dendam tampak indah. Para tokoh utamanya kuat, lebih dari sekadar baik dan jahat, sekaligus bikin penonton punya keterikatan emosional pada mereka. Chanwook berhasil mendefinisikan apa artinya antihero. Film-filmnya menyajikan pertentangan filosofis, mengikat penontonnya melalui debat atas kehormatan, kesetiaan, kekerasan, dan pertanyaan mendasar tentang makna menjadi manusia.

“Pembalasan dendam terbentuk dari emosi manusia yang paling ekstrem. Kalau kita mengeksplorasi kondisi manusia, ini lingkungan eksperimental yang sangat menarik,” ujar Chanwook. Sutradara ini memang lulusan filsafat, dan dari kuliahnya tampak masih memengaruhi karyanya.

3. Castaway on the Moon (Lee Hae-jun, 2009)

Castaway on the Moon
Castaway on the Moon | Sumber: Mubi.com

Stigma soal bunuh diri dan psikosis akut tampak sukar untuk dijadikan bahan komedi. Namun, Lee Haejun menerima tantangan tersebut, dan berhasil. Dalam film debutnya ini, antara humor, keputusasaan dan absurditas diselaraskan untuk kemudian dikawinkan dengan romansa manis.

Setelah percobaan bunuh diri dengan melompat dari jembatan, seorang pria malah terdampar di sebuah pulau terpencil di tengah Sungai Han. Karena tak bisa berenang, dia terjebak di pulau tersebut. Pasrah akan takdirnya, dia kemudian hidup ala Robinson Crusoe. Di sisi lain, seorang perempuan muda tertutup, yang mendekam dalam kamar apartemennya selama bertahun-tahun, tanpa sengaja memata-matai si lelaki di pulau tadi dan bersimpati padanya.

Castaway on the Moon adalah film indah yang menyoal realitas yang kita ciptakan sendiri dan apa yang sebenarnya nyata, tentang hubungan tak terbatas kita dengan alam. Siapa pun yang tinggal di kota metropolitan modern di negara mana pun di dunia ini pasti akan menyadari laju kehidupan yang mengerikan di kota-kota yang tidak pernah tidur; anonimitas dalam arus massa menciptakan sikap egosentris, hanya fokus pada diri mereka sendiri dan kehidupan mereka sendiri.

Oh, ending film ini sialannya hampir saja bikin saya menitikkan air mata. Ketika film berakhir, saya termangu mendengarkan kredit, menunggu otak saya mengejar semua hal yang mata dan telinga saya telah alami.

4. Right Now, Wrong Then (Hong Sangsoo, 2015)

Right Now, Wrong Then
Right Now, Wrong Then | Sumber: Mubi.com

Minimalis sekaligus manis. Bahkan dari segi pengambilan gambar pun, tak banyak mengumbar efek kamera; cara zoom-in dan zoom-out malah, dengan sengaja, seperti dalam film pendek bikinan mahasiswa amatiran yang pakai DSLR murahan.

Hong Sangsoo terkenal menghadirkan film sederhana ala tragicomedy Woody Allen. Kisah bermula ketika seorang sutradara film tiba di kota sehari lebih awal. Dengan waktu luang untuk dihabiskan sebelum seminar dan screening filmnya esok hari, dia mengunjungi sebuah istana tua yang menjadi tempat wisata. Di sana, dia bertemu dengan seorang seniman muda.

Mereka berbasa-basi, lalu terlibat obrolan dan ngopi bareng. Mereka pergi ke bengkel kerja sang seniman muda untuk melihat lukisannya, dilanjut makan malam sambil minum-minum. Lebih banyak percakapan terjadi, dan soju, dan kemudian kumpul-kumpul dengan kawan-kawan si pelukis di mana segala macam rahasia mulai terungkap. Lalu, tanpa disangka, kita mulai lagi semuanya dari awal, tapi sekarang keadaannya agak berbeda.

Right Now, Wrong Then adalah sebuah drama romantis yang menampilkan dua kemungkinan skenario yang bisa dihasilkan dari pertemuan seorang pembuat film dan seorang pelukis. Hong Sangsoo ingin mencapai semacam kesempurnaan seperti yang dibicarakan Heidegger bahwa penyair hebat selalu mengerjakan puisi yang sama, berulang-ulang, lagi dan lagi. Hong Sangsoo mempraktekkannya dalam film ini.

5. Anarchist from Colony (Lee Joonik, 2017)

Anarchist from Colony
Anarchist from Colony | Sumber: vlive.tv

Lee Joonik memang piawai dalam meracik film sejarah. Sebelumnya, dia telah membikin biopik Dongju: The Portrait of the Poet (2016) dan beberapa film kolosal, yang paling laris King and the Clown (2005).

Penggambaran ideologi anarkisme yang cocok sebagai pengantar, dengan akurasi sejarah yang baik. Film ini merupakan biopic dari seorang aktivis anarkis dan revolusioner bernama Park Yeol, yang mengorganisir kelompok kemerdekaan saat Korea di bawah Imperialisme Jepang. Kelompok anarkis tersebut berencana membunuh Pangeran Hirohito sang putera mahkota.

Cerita berpusat saat gempa bumi besar melanda Kanto pada 1923, kebakaran hebat setelahnya dan tragedi berdarah yang mengikutinya. Agar tak tercipta protes, Pemerintah Jepang yang mau main aman malah menimpakan kesalahan pada orang-orang Korea yang dianggap menyulut api, khususnya para komunis. Terprovokasi propaganda fitnah tersebut, kelompok preman dan afiliasi sayap kanan melancarkan genosida. Histeria anti-kiri dan anti-Korea makin mengganas.

Film ini juga menyoroti hubungan yang penuh gairah antara Park Yeol dan kekasihnya Fumiko Kaneko, seorang anarko-nihilis Jepang yang bersimpati dengan orang-orang Korea yang tertindas di bawah kekaisaran Jepang. Park Yeol digambarkan seorang pemuda yang supel, berani sekaligus bandel alami. Kekasihnya Fumiko adalah wanita tangguh dan cerdas, yang punya selera humor nyeleneh meski dalam penjara sekalipun.

Dengan istilah anarki yang sering disalahpahami hari ini, Anarchist from Colony bisa jadi semacam pembacaan dasar. Anarki bukanlah keinginan untuk menciptakan dunia tanpa peraturan, melainkan dunia tanpa ada orang lain yang mengklaim untuk mengaturmu secara paksa. Juga, seperti yang diteliti Benedict Anderson dalam Under Three Flags, bahwa anarkisme punya pengaruh penting pada gerakan anti-kolonial global.

Arif Abdurahman

Bermukim di Bandung dan bergiat di Komunitas Aleut. Menulis dan menerjemahkan jurnal, esai, serta cerpen di yeaharip.com dan beragam media.