4peniti dan Kisah-kisah yang Jarang Diketahui

Kerajinan dari tissue bergambar yang bisa dibuat berbagai hiasan, bahkan dilekatkan pada poci.
Kerajinan dari tissue bergambar yang bisa dibuat berbagai hiasan, bahkan dilekatkan pada poci. | © Fransisca Agustin

Sudah jam tiga dan saya masih di kota. Oh, tidaaakk!! Bandung di hari Minggu sungguh membuat putus asa. Jangan iseng ke utara atau daerah Jl. Pasteur kalau tidak mau merasa seperti di Jakarta pada pagi hari kerja. Jalan menuju pintu tol… padat meratap.

Sampai di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan Padalarang, grup 4peniti yang saya incar sudah sampai pada tiga lagu terakhir. Nampak di layar LED, Zaki sedang beraksi. Antara sedih dan geram, saya berlari mencari panggungnya, sementara kawan semobil saya mencari tempat parkir.

Kamu akan bertanya, siapakah gerangan 4peniti itu? Kok belum pernah dengar di radio ataupun eksis di tivi? Nah, itulah masalah kita. Terlalu silau oleh kemasan luar.

Para idola kekinian yang sedap dipandang hanya memiliki mungkin separuh kharisma dan magnet panggung Zaki. Usianya di atas 40 tahun. Berjenggot dan sudah banyak beruban. Sehari-hari bekerja kantoran sebagai desainer display di supermarket. Kemarin, ia hanya mengenakan kemeja putih dan sarung. Kalau kamu mencari vocalis yang trendi dan seksi, pasti kamu akan langsung melengos.

Zaki mengajak penonton bertepuk tangan memeriahkan lagu
Zaki mengajak penonton bertepuk tangan memeriahkan lagu. | © Fransisca Agustin
Zaki, Rudy, Ari, dan Ammy setelah penonton diajak maju ke depan panggung
Zaki, Rudy, Ari, dan Ammy setelah penonton diajak maju ke depan panggung. | © Fransisca Agustin

Tapi di balik itu… Zaki punya energi. Energi yang mungkin hanya diapresiasi sesama musisi. Saya pernah ikut jadi additional player di 4peniti hampir setahun lalu. Zaki waktu itu jelas terlihat ngantuk. Matanya semacam bohlam untuk inkubator, redup 5 watt. Begitu dia naik panggung, ia menjelma karakter berbeda. Menghentak!

Begitu pula di Locafore Kota Baru, Minggu 4 September lalu. Zaki mengajak orang-orang ikut bertepuk tangan. Energinya membuat penonton tidak bisa menolak. Lalu dengan manis ia membawa penonton berdiri dan maju ke depan panggung, di lagu terakhir.

Bahwa saya sendiri sebetulnya tidak kenal lagu itu, tidak berpengaruh sama sekali. Saya menikmati energi yang terlontar. Ikut bersorak dan berteriak. Itulah entertainer sejati!

Itu tentang Zaki, vocalis merangkap gitarisnya. Pemain biolanya, Ammy Kurniawan. Belum pernah dengar? Tapi pernah dengar lagu Suara (Ku Berharap) Hijau Daun? Itu beliau yang main suara string di intronya. Kamu jarang memperhatikan kan, siapa-siapa pemain musik di lagu kesayanganmu? Itulah.

Lagu Empat Mata d’Bagindas? Juga beliau yang main solo biolanya. Demikian pula lagu-lagu Mocca. Yang paling jelas terdengar mungkin suara biola di lagu Hanya Satu, soundtrack film Untuk Rena.

Pemain bass 4peniti? Rudy Zulkarnaen. Lebih terkenal dengan nama Rudy ‘Aru’. Belum pernah dengar, kan? Oh bukan, bukan keluarga seleb Nia Zulkarnaen, istri Ari Sihasale. Tuh, kan.

Beliau ini bassist wahid di Bandung. Session player yang bisa diandalkan untuk ngejob jenis musik apapun. Dari jazz sampai lagu etnik dan keroncong, bisa. Perlu pemain bass untuk orchestra? Beliau akan main kontrabass gesek. Perlu bassist untuk band? Beliau akan main bass elektrik dengan teknik slapping.

Pernah dengar grup simakDialog? Pasti belum. Tapi tahu Tohpati, kan? Lha, simakDialog itu grup jazznya Tohpati. Rudy sering sekali jadi bassistnya. Kamu nggak pernah tahu bahwa Tohpati adalah gitaris jazz? Saya bisa maklum. Saya sendiri sakit kepala kalau mendengarkan simakDialog.

Nah, personel 4peniti yang paling sering terlewat adalah drummernya. Ari Renaldi. Nama bekennya, Ari ‘Aru’. Sering luput dari perhatian karena duduknya selalu di paling belakang. Tertutup drum dan cymbal. Pun karena Ari jarang sekali caper. Kalau ingin menggoda membuatnya tertawa di sela obrolan, kamu perlu usaha ekstra.

Apa? Kamu belum pernah dengar nama Ari Renaldi alias Ari ‘Aru’? Ini keterlaluan! Beliau adalah drummer di road band Rio Febrian dan Project Pop. Ingat lagu Dangdut is the Music of My Country? Ari yang main drumnya.

Yang penting kalian tahu, Ari merupakan tokoh sangat penting di balik kesuksesan banyak artis idolamu. Dari Mocca, Glenn Fredly, Anang & Ashanty, Yura, Fabian Winandi, serta Afgan dan Raisa.

Ari sebagai apa, tanyamu? Astagaaa… Kamu akan geleng-geleng kepala. Beliau itu merangkap dari produser, arranger, ngurusin mixing dan mastering, sampai tentu saja pengisi track. Track drum, piano, loop, kadang strings, entah apa lagi. Hanya Ari, para artisnya, dan Tuhan yang tahu.

Rudy ‘Aru’, bassist 4peniti yang kakak kandung Ari itu, juga ikut mengisi track bass di rekaman lagu-lagu Tulus, Glenn Fredly, Isyana Sarasvati, Sherina, Vidi, Raisa, juga Afgan.

Yang paling sukses adalah karya Ari untuk album-album Tulus. Di ajang AMI Awards 2015, Ari menyabet 5 piala: Album Pop Terbaik (Gajah), Album Terbaik (Gajah), Karya Produksi Terbaik (Jangan Cintai Aku Apa Adanya), Pencipta Lagu Pop Terbaik (Tulus – Jangan Cintai Aku Apa Adanya), Peramu Rekam Terbaik (Ari Renaldi – 1000 Tahun Lamanya. Lagu Tulus dalam album Pongki Barata – Meet the Stars).

Tulus sendiri juga menyabet Artis Solo Pria Pop Terbaik. Tentu saja ini tak lepas dari peran Ari sebagai arranger dan peramu rekam, karena artis pop terbaik dinilai dari lagu yang sudah jadi sempurna. Sungguh sayang, dalam kategori seperti ini hanya sang artis yang mendapat piala. Nggak heran kalau kamu nggak pernah dengar siapa itu Ari Renaldi, sang artis sebenarnya. He is the real artist, Bung, Nona, Tuan, dan Nyonya!

Ah, kali ini saya tidak berhasil menyaksikan Ari main piano. Beliau punya touch yang khas. Saya sendiri, yang pernah bersusah payah kursus piano klasik selama 8 tahun, takjub mendengar sentuhan beliau. Seperti apakah itu? Susah dijelaskan. Sebagai bayangan, yang saya rasakan mungkin seperti suasana lagu Dave Coz. Dear Ari… You Make Me Smile.

Penonton di panggung sebelah yang area duduknya lebih besar
Penonton di panggung sebelah yang area duduknya lebih besar. | © Fransisca Agustin
Pengrajin gitar mendemonstrasikan gitar mini, di antara deretan gitar karyanya
Pengrajin gitar mendemonstrasikan gitar mini, di antara deretan gitar karyanya. | © Fransisca Agustin

Sebelum pulang, saya menyempatkan diri menonton grup-grup lain. Juga mengunjungi bazaar seni. Ada produk-produk kayu, kulit, gitar karya pengrajin lokal, sampai kerajinan rumit dari kertas tissue bergambar.

Dengan seni, Kawan, hidupmu tak akan pernah datar.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405