Ngopi di Kaki Merapi

Ngopi di Kaki Merapi

Tampak depan Warung Kopi Merapi, masih tampak batu-batu besar. © Nuran Wibisono

Mendung sudah menggelayut sewaktu mobil elf merah yang kami tumpangi membelah jalan Kaliurang. Naik terus ke atas. Tujuan kami adalah sebuah perkebunan kopi di Petung, sebuah daerah di kaki Merapi.

Sewaktu mendengar kabar tentang tamasya ke kebun kopi Petung, saya langsung tertarik. Bukan apa. Tapi selama ini saya kenal Yogyakarta dengan budaya ngeteh-nya. Yogyakarta dan Petung juga tidak (atau belum) dikenal sebagai daerah penghasil kopi kualitas jempolan. Namanya jelas kalah tenar dengan Toraja, Wamena, Gayo, atau Manggarai. Karena itu, komunitas bernama Ngopi Jogja berusaha mengenalkan kopi khas Petung yang disebut dengan Kopi Merapi ini ke khalayak umum.

“Maaf ya, sebentar lagi siap-siap, jalannya gak bagus. Pegangin perut masing-masing ya,” kata Wawan Arif, sang ketua acara membuyarkan lamunan saya.

Saya tersenyum kecut. Saya memang gampang mabuk darat. Apalagi kalau berada di dalam mobil dengan AC dan melewati jalan yang tak mulus. Tentu malu kalau harus muntah di depan orang-orang yang baru saya kenal ini. Untung saja perjalanan ini tak ditempuh dalam waktu yang lama.

Ngopi di Kaki Merapi

Dua orang Miss Coffee Yogyakarta, Asri dan Manda. © Nuran Wibisono

Peserta tamasya kopi ini cukup banyak dan tentu saja mereka adalah orang yang berkecimpung di dunia kopi. Ada barista. Ada pula pemilik kafe dan kedai kopi. Bahkan turut pula komunitas vespa dari Mataram. Tak hanya itu, bergabung pula dua orang Miss Coffee Yogyakarta, Wilda Ayu Mandasari (2012) dan Asri Kartika Agusta (2013).

Mereka berdua tak hanya bermodal paras rupawan dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Mereka juga dituntut untuk mengetahui seluk beluk kopi. Saat mengikuti pembekalan, para peserta mendapatkan pembekalan dari para ahli kopi.

“Itu pembekalannya delapan hari mas, jadi lumayan bikin tambah pengetahuan soal kopi juga,” kata Manda yang berhasil jadi runner up di ajang Miss Coffee Indonesia sembari tersenyum manis. Duh.

Saya jadi ingat kolega saya di minumkopi.com, Nody Arizona, yang sudah ngebet ikut acara ini agar bisa bertemu dan berbincang dengan dua orang Miss Coffee ini. Sayang ia harus mengurus wisuda di kampusnya. Pelajaran moral nomor 101: lulus terlambat bisa menyebabkan anda gagal berkenalan dengan wanita cantik.

* * *

Warung Kopi Merapi sungguh sangat unik. Ia dibangun di atas tanah bekas erupsi merapi. Di depan warung bahkan ada dua buah batu vulkanik berukuran gigantis yang dengan cerdik dimanfaatkan sebagai gapura. Jika udara sedang cerah, arahkan pandangan ke utara. Akan tampak Gunung Merapi berdiri menjulang gagah di kejauhan. Kalau malam, anda bisa menyaksikan kerlap-kerlip lampu kota di bawah. Yang sedikit tidak mengenakkan, ada banyak truk pengangkut pasir yang lalu lalang. Meninggalkan kepulan debu yang kadang sedikit mengganggu kenyamanan minum kopi.

Sayang sekali, sewaktu kami sampai cuaca sedang tidak bersahabat. Mendung makin gelap.

“Coba kalau cuaca cerah, kayak gini pemandangannya mas,” kata Wawan sembari menunjukkan pada saya sebuah gambar dari ponselnya: Gunung Merapi yang ditingkahi gumpalan awan, tepat berada di belakang Warung Kopi Merapi. Cantik sekali.

Sumijo, sang pemilik Warkop Merapi menyambut kami dengan ramah. Laiknya tuan rumah yang baik budi, ia dengan senang hati menjelaskan tentang asal-usul perkebunan kopi di Petung.

Ternyata perkebunan kopi di desa ini punya hikayat yang cukup panjang. Kopi sudah ditanam di Petung semenjak awal 1900-an. Tapi paska erupsi Merapi tahun 1930 yang menewaskan 1.359 jiwa, perkebunan kopi ini turut lantak. Penanaman kopi di Merapi mulai digalakkan lagi pada sangkala 1980-an. Namun terjadinya letusan Merapi pada tahun 2010 kembali menghancurkan banyak lahan kopi di kaki Merapi. Padahal saat itu luasan lahan kopi di Petung mencapai 200 hektar yang menghasilkan 70 ton kopi/ tahun.

“Dulu bahkan kami sempat ekspor, tapi tak berlangsung lama,” kata Sumijo.

Ngopi di Kaki Merapi

Kopi Merapi. © Nuran Wibisono

Sekarang Sumijo bersama rekan-rekan petaninya bergiat di koperasi Kebun Makmur. Berkat kerja keras mereka, industri kopi di Petung kembali menggeliat. Kopi Merapi andalan mereka bahkan telah meraih Standar Nasional Indonesia. Dan sekarang perlahan luasan kopi di Petung kembali meningkat setelah sebelumnya sempat berkurang drastis. Saat ini lahan kopi di Petung mencapai 50 hektar dan masih akan diperluas lagi.

Selepas makan siang, para peserta pun dipersilahkan meminum Kopi Merapi. Rasa masamnya tak terlalu kentara. Namun entah kenapa, aroma wanginya kurang begitu keluar.

Saat santai seperti ini, banyak peserta yang minta foto dengan Wanda dan Asri. Bahkan seorang bapak paruh baya berkelakar, “…kopinya gak usah dikasih gula. Cukup liat mukanya mbak aja udah terasa manis.”

Alamak!

* * *

Seorang ibu kisaran 50 tahunan sedang duduk dengan tenang di depan anglo. Ia tampak tekun membolak balik biji kopi yang ia sangrai di dalam wajan dari tanah liat. Di atas tampah ada biji-biji kopi yang sudah ia sangrai. Nampak banyak yang over-roasted. Warnanya hitam pekat macam arang.

Ngopi di Kaki Merapi

Banyak biji kopi yang over-roasted. Kehitaman seperti arang. © Nuran Wibisono

Seorang pria berambut cepak mengamati sang ibu dengan serius. Ia lalu mengambil tampah itu dan membawanya ke meja di warung.

“Bu, minta air panas ya,” pinta pria itu.

Namanya Firmansyah. Namun orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Pepeng. Dari kartu nama yang ia berikan pada saya, ia menjelaskan kalau dirinya adalah seorang storyteller of coffee, seorang pencerita kopi. Dan ia tak sekedar berkelakar. Jika Pepeng sudah bercerita soal kopi, orang-orang akan menyimaknya. Cerita yang keluar dari mulutnya selalu menarik dan memancing rasa ingin tahu.

Pepeng adalah apa yang saya sebut sebagai coffee afficionado. Orang yang paham akan kopi. Ia membuka Klinik Kopi di dalam kampus Sanata Dharma. Dalam klinik itu, Pepeng yang mengoleksi sekitar 30-an biji kopi single origin dari seluruh Indonesia ini selalu bersemangat jika diskusi tentang kopi.

Seperti sore ini, saat ia ingin menunjukkan pada para peserta tamasya kopi mengenai cara roasting yang baik.

“Ini roasting-nya kurang maksimal. Ini sudah jadi arang,” kata Pepeng sembari menunjukkan biji kopi yang hitam pekat.

“Lebih baik roasting-nya pakai mesin saja. Pak Sumijo sudah punya kan?” kata Pepeng sembari menengok ke Sumijo. Yang ditanya mengangguk.

“Kalau untuk produksi yang dijual memang roasting-nya pakai mesin. Ini (roasting tradisional) hanya untuk atraksi turis saja,” kata Sumijo.

Ngopi di Kaki Merapi

Sangrai kopi tradisional. © Nuran Wibisono

Pepeng lantas mengeluarkan satu buah bungkusan. Dengan perlahan ia mengeluarkan isinya: satu set peralatan seduh kopi yang saya tak tahu apa namanya. Lalu Pepeng menjelaskan kalau alat itu adalah Aero Press. Ini adalah alat seduh kopi yang bekerja dengan menggunakan tekanan. Bubuk kopi dimasukkan ke tabung, lalu diisi dengan air panas. Lalu ditekan. Cara kerjanya mengingatkan saya akan jarum suntik. Hanya saja tabung aero press jauh lebih besar.

“Ini senjata saya. Selalu saya bawa kemana-mana,” kata Pepeng kepada para peserta tamasya kopi yang mendengarkan ceritanya dengan takzim.

Pepeng sang pejalan kopi tentu tak hanya membawa aero press saja. Ia juga membawa grinder kopi berukuran kecil. Tak lupa, satu toples kecil berisi biji kopi yang sudah disangrai. Kali ini yang ia bawa adalah biji kopi Toraja.

Ia lantas mengambil satu sendok (bawaan dari aero press) biji kopi Merapi yang sudah disangrai. Lalu ia menaruhnya ke grinder dan menggilingnya hingga jadi bubuk kopi. Selanjutnya Pepeng menaruh bubuk itu ke dalam tabung aero press, menyeduhnya dengan air panas, dan menekan hingga semua tetes kopi jatuh ke dalam cangkir. Ampasnya yang berakhir di saringan, jadi berbentuk silinder padat.

Ngopi di Kaki Merapi

Pepeng menggiling biji kopi hingga jadi bubuk. © Nuran Wibisono

“Bisa dibuat pupuk nih,” kata Pepeng sembari menaburkan ampas kopi itu ke tanaman muda di depan warung.

Lalu ia melakukan hal yang sama pada biji kopi yang ia bawa. Setelah jadi, ia menyilahkan para peserta untuk mencium aroma dari dua cangkir kopi itu. Semua tertarik mencobanya.

Dan benar, kopi yang disangrai menggunakan anglo dan wajan tidak menguarkan aroma wangi khas kopi. Hanya ada bau kayu hangus.

“Sangit,” kata seorang peserta sembari terus-terusan memastikan penciumannya tidak salah.

Lalu Pepeng menyodorkan secangkir kopi dari biji kopi yang ia bawa. Benar-benar berbeda! Wangi kopi yang khas membuai itu memenuhi rongga hidung dengan sangat indah. Kali ini wangi kopi tak lagi malu-malu.

“Dari wanginya aja beda jauh, apalagi rasanya,” ujar Pepeng sembari menyilahkan para peserta mencicipi dua cangkir kopi itu. Tanpa gula.

Lagi-lagi kami tertegun. Betapa beda rasa yang dihasilkan. Kopi yang disangrai dengan anglo tak mengeluarkan rasa sedap. Hanya rasa pahit biasa. Sebaliknya, kopi milik Pepeng mengeluarkan rasa pahit asam yang intens, khas Arabika, dan rasa manis alami kopi. Para peserta tamasya kopi tertegun dan berdecak kagum. Ternyata sedemikian kompleksnya kopi. Berbeda perlakuan, berbeda pula rasa yang dihasilkan.

Ngopi di Kaki Merapi

Aero press harus ditekan dengan maksimal. © Nuran Wibisono

Ngopi di Kaki Merapi

Warung Kopi Merapi. © Nuran Wibisono

Setelah demonstrasi cerita kopi ala Pepeng selesai, ia pun sedikit berdiskusi dengan Sumijo. Sepertinya terkait dengan bagaimana agar Kopi Merapi bisa jadi lebih baik lagi ke depannya. Industri kopi di hulu ini memang perlu disokong oleh para ahli yang berpengalaman. Tentu agar para pelaku di hulu industri kopi juga turut kecipratan legit dari kopi. Tak hanya sekedar gigit jari mengetahui bij-biji kopi mereka dijual mahal di luar negeri dan mereka hanya dapat ampas belaka.

Mendung makin pekat. Kali ini angin juga turun dari gunung. Sebelum hujan benar-benar datang, para peserta tamasya kopi ini pun berbondong-bondong masuk mobil.

Saya tersenyum kecut lagi. Kembali saya memegangi perut, agar ia tak terguncang saat melewati jalanan yang rusak.

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.

Sila diskusikan atau beri apresiasi

Atau isi form berikut